Akhirnya Aku Memahaminya (4): Takdir yang di Lauhul Mahfuzh

catatan

Konsep takdir yang benar haruslah sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana kita bisa beriman kepada takdir adalah harus dengan keimanan yang benar. Maka dari itu, dibutuhkan banyak dalil-dalil yang dapat memberi petunjuk untuk memperoleh kesimpulan yang jelas tentang suatu konsep ajaran Islam. Untuk konsep takdir, bagi saya, ini cukup sulit dirumuskan dalam bentuk satu konsep yang utuh yang sesuai dengan yang Allah maksudkan. Jika ada yang tidak jelas, harus dicari dalilnya sampai jelas jika memang ada dalilnya.

Semoga ini adalah tulisan yang terakhir tentang takdir. Sudah kita dapatkan hal-hal yang pasti tentang konsep takdir, yaitu

  1. Allah telah mengangkat makhluk-Nya, Si Pena (Al-Qolam), dari tugasnya menuliskan takdir hingga Hari Kiamat (dan seterusnya) pada lembaran-lembaran Lauhul Mahfuzh sebelum bumi dan langit diciptakan. Dikatakan dalam hadits, lembaran-lembaran itu telah kering.
  2. Allah menciptakan atau menetapkan amal perbuatan. Ini sudah jelas dan tidak bisa ditentang lagi.
  3. Malaikat ditugaskan menuliskan ketetapan Allah bagi manusia pada saat manusia dalam rahim ibunya.
  4. Allah sudah menetapkan surga atau neraka bagi manusia.
  5. Ketetapan rezeki dan umur bisa berubah dan doa pun bisa mengubah takdir.

Dari premis-premis di atas, saya sempat bingung dengan korelasi antara premis 1 dan premis 5 karena terlihat kontradiktif. Muncullah pertanyaan, “Jadi, sebenarnya takdir Allah itu bisa berubah gak sih?” Jika dikatakan berubah, dalil mana yang menguatkan, sedangkan jika dikatakan tetap (tidak bisa diubah lagi), dalil mana pula yang bisa menguatkan.

Dalam benak saya, muncul pertanyaan, “Yang ditulis malaikat pada saat penciptaan manusia itu apakah sudah tertulis pada Kitab Lauhul Mahfuzh atau belum?” Kalau belum, mana dalilnya? Kalau yang dicatat malaikat sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh, mana pula dalilnya? Ini penting untuk mengetahui konsep takdir secara utuh agar tidak ada yang miss. Ini akan berpengaruh pada kesimpulan apakah takdir Allah bisa berubah tiba-tiba di tengah perjalanan kehidupan manusia?

Jika, misalnya, takdir Allah bisa berubah tiba-tiba di tengah perjalanan kehidupan manusia, ini ada yang aneh. Mengapa? Takdir bisa berubah kan karena ikhtiyar, doa, atau silaturahim, misalnya (perubahan ini hak prerogatif Allah). Namun, Allah sudah jelas telah menetapkan amal perbuatan. Terbayang kan maksud saya? Ketika seseorang berdoa, bersilaturahim, dan berikhtiyar, sesungguhnya pasti itu sudah Allah tetapkan ia melakukan semua itu. Maka dari itu, asumsi saya, pasti Allah juga telah menyediakan konsekuensi/jawabannya berupa yang dimaksud dengan perubahan itu. Berarti, perubahan itu sejatinya pun telah Allah tetapkan sebelum manusia berdoa dan berikhtiyar. Mungkinkah Allah tidak menyiapkan jawaban/akibat/konsekuensi dari ikhtiyar dan doa manusia? Saya pikir, itu tidak mungkin. Allah pasti sudah menyiapkan konsekuensinya sejak sebelum manusia melakukan ikhtiyar karena biasanya konsekuensi itu berupa perbuatan diri sendiri setelahnya dan manusia yang lain juga. Maksud saya, perbuatan yang dilakukan orang lain/diri sendiri setelahnya itu menjadi jalan terpenuhinya doa kita atau sebagai wujud perubahan kondisi kita karena suatu ikhtiyar. Contoh:

  1. Manusia rajin belajar, kemudian menjadi pintar dan lulus ujian dengan nilai yang baik. Pintar ditandai dengan bisa mengerjakan soal dengan benar dan lulus ujian ditandai dengan tergeraknya dosen atau guru memberi nilai yang sesuai (baik) dengan pena, mislanya.
  2. Manusia berdoa agar dihindari dari bahaya kecelakaan, kemudian ia benar-benar terhindar dari kecelakaan. Maka, terhindarnya manusia dari kecelakaan itu  ditandai dengan tergeraknya manusia lain agar tidak melakukan kesalahan dalam mengendarai mobilnya.
  3. Manusia rajin bersilaturahim sehingga ia panjang umur dan rezekinya bertambah. Dengan panjang umur, maka ia akan melakukan banyak amal perbuatan selama pertambahan umur tersebut dan bertambahnya rezeki ditandai dengan tergeraknya orang lain memberi uang tambahan kepadanya, misalnya.

Nah, semoga maksud saya dapat dipahami dari contoh di atas. Karena perbuatan manusia adalah salah satu yang Allah tetapkan (sudah jelas dalil-dalilnya), maka perubahan takdir itu pun pasti sudah Allah tetapkan sebelum manusia berikhtiyar. Ini baru logikanya saja. Melihat logika seperti itu, sangat mungkin apa yang malaikat catat itu sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Jika ada yang mengatakan bahwa apa yang malaikat tulis belum tertulis di Lauhul Mahfuzh, maka yang terbayang adalah malaikat senantiasa sibuk menghapus dan menuliskan ketetapan Allah selama perjalanan hidup manusia. Hmm.. ini berarti ketetapan Allah tidak pasti di awal. Jujur saja, ini gak masuk akal. Untuk apa Allah menetapkan segala sesuatu jika begitu mudah diubah-ubah ke depannya walaupun itu hak prerogatif Allah. Namun, saya mencoba apatis (netral) terlebih dahulu. Mari kita uji lagi kelogisan konsep ini. Sekarang pertanyaan lain pun muncul, jadinya apa yang tercatat di Lauhul Mahfuzh kalau yang ada pada malaikat belum tercatat di Lauhul Mahfuzh? Ini aneh sekali, tidak masuk akal. Itu karena yang dicatat oleh malaikat begitu detail hingga pada amal perbuatan manusia. Lalu, apa gunanya Lauhul Mahfuzh? ^^a

Maka, saya pun mencari dalil tentang Lauhul Mahfuzh. Apa saja yang tertulis di Lauhul mahfuzh? Ternyata menarik, kebenaran itu makin jelas dan terang karena konsep di atas bertentangan dengan firman Allah sebagai berikut.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (terjemahan QS Yasiin: 12)

Huff… Subhanallaah… Lihat! Ternyata apa yang tercatat di Lauhul Mahfuzh adalah termasuk apa yang manusia kerjakan 😀 Lihat http://dakwahsunnah.com/artikel/tanyajawab/51-sudah-ada-takdir-lalu-untuk-apa-beramal

Lalu, tes selanjutnya adalah tentang apa dalilnya bahwa Allah tidak akan mengubah apa yang di Lauhul Mahfuzh selain hadits yang memuat kalimat “pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. Jujur saja, sebelumnya saya hanya mencari korelasi sebagai benang merah untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan premis-premis di atas sambil mencari perkataan-perkataan ulama. Ternyata, yang paling logis adalah bahwa takdir yang tertulis pada Lauhul Mahfuzh itu tidak kan berubah. Ini sesuai perkataan Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Utsaimin. Hanya saja, entah kenapa sekarang saya kepikiran lagi, apa dalilnya bahwa Allah tidak akan mengubah takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfuzh? Anehnya, saya malah menemukan dalil yang “terlihat” menjelaskan bahwa apa yang di Lauhul Mahfuzh bisa saja Allah hapus 😦 Ini berarti bertentangan dengan dalil-dalil lainnya…

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.” (terjemahan Ar-Ra’d: 39)

Lalu, saya mencoba mencari tau tafsirnya. Apa benar itu maksudnya Allah bisa saja menghapus takdir yang ada di Lauhul Mahfuzh? Ternyata, sebelum ayat 39, yakni ayat 38, terdapat redaksi yang masih terkait dengan ayat 39. Lalu, saya mencoba mencari penjelasannya dan ternyata yang dimaksud menghapuskna dan menetapkan di atas adalah terkait penghapusan hukum/syariat, bukan penghapusan takdir yang terdapat di Lauhul Mahfuzh 😀 Lihat http://www.alsofwah.or.id/cetakquran.php?id=288 dan http://asysyariah.com/hikmah-islam-dalam-halal-dan-haram/

Kalau tentang penghapusan syariat itu belum meyakinkan, maka lihat saja tafsir Ibnu katsir karena beliau pasti paham apa yang ia tafsirkan dan saya menemukan bahwa ternyata yang dimaksud dengan “lauh” adalah lembaran dan “mahfuzh” artinya terjaga. Kata Ibnu Katsir, Lauhul Mahfuzh berada di tempat yang tinggi, terjaga dari penambahan, pengurangan, perubahan dan penggantian (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 14/314). Kemudian, hal ini pun dikuatkan oleh Al-Mubarakfuri mengenai hadits ini,

“Pena telah diangkat dan lembaran catatan (di Lauhul Mahfuzh) telah kering.” (terjemahan HR Tirmidzi no. 2516. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.),

Al Mubarakfuri rahimahullah berkata, “Dicatat di Lauhul Mahfuzh berbagai macam takdir. Ketika selesai pencatatan, tidaklah satu pun lagi yang dicatat.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/186)

Surat Ar-Ra’d ayat 39 di atas pun dijelaskan dalam artikel http://rumaysho.com/tafsir-al-quran/jangan-berputus-asa-terhadap-sesuatu-yang-luput-darimu-1215 bahwa maksudnya adalah setiap penghapusan dan penetapan yang terjadi selama perjalanan hidup manusia itu akan berakhir sesuai yang tertulis di Lauhul Mahfuzh.

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Al-Kitab. Kemudian kepada Rabb-lah mereka dikumpulkan.” (terjemahan Al-An’aam: 38)

Ada yang menafsirkan “Al-Kitab” di sini adalah Al-Qur-an, padahal sebenarnya yang dimaksud yaitu “Lauh Mahfuzh”. Karena apa yang dinyatakan oleh Allah Azza wa Jalla tentang al-Qur-an dalam firman-Nya: “Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur-an) untuk menjelaskan segala sesuatu,” lebih tegas daripada yang dinyatakan dalam firman-Nya: “Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab”.

Lihat http://almanhaj.or.id/content/2043/slash/0/islam-adalah-agama-yang-sempurna/

“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).” (terjemahan QS Faathir : 11)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan firman-Nya : ‘Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfudh)’; yaitu : apa yang telah diberikan kepada sebagian nuthfah berupa umur panjang, Allah mengetahuinya dan hal itu di sisi-Nya terdapat dalam catatan yang pertama. Tentang firman-Nya : ‘dan tidak pula dikurangi umurnya’; kata ganti/dlamiirdalam ayat tersebut kembali kepada jenisnya (yaitu umur secara umum), bukan kembali pada umur orang tertentu. Hal itu dikarenakan panjangnya umur dalam Kitaab dan dalam ilmu Allah tidaklah berkurang dari umurnya. Kata ganti itu hanyalah kembali pada jenisnya. Ibnu Jariir berkata : ‘Ini seperti perkataan mereka : Aku punya baju dan setengahnya. Yaitu, setengah baju yang lain.’ ” (Tafsiir Ibni Katsiir, 6/538)

Lihat http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/11/tambah-umur.html

Jadi, kesimpulannya…

Apa yang telah tertulis di Lauhul Mahfuzh tidak akan pernah berubah ^_^

Wallaahu a’lam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s