Akhirnya Aku Memahaminya (3): Yang Membuat Gagal Paham Konsep Takdir

forest-sunset-view-wallpaper

Saya merasa perlu tanggung jawab terhadap kegalauan orang-orang yang membaca tulisan saya sebelumnya (bab 2) terkait konsep takdir. Saya pun khawatir dengan orang yang diam-diam membaca (karena jumlah view-nya sampai 60-an), tetapi kegalauannya pun disembunyikan. Yaa.. Walaupun sebenarnya setelah saya diskusi dengan suami saya, perasaan khawatir yang saya rasakan itu tidak perlu. Seperti halnya jika ada 2 jin yang membaca kitab Ibnu Taimiyyah atau Syaikh Utsaimin, lalu jin itu galau, maka tidak mungkin Allah menyidang para ulama tersebut atas kegalauan para jin. Namun, saya berharap semoga tulisan ini bisa mencerahkan atas izin Allah dan berharap orang-orang yang diam-diam membaca itu memang sebenarnya tidak ada yang galau karena paham apa yang saya maksudkan ^_^ Biasanya, orang yang gagal paham atau belum paham konsep takdir terdapat faktor yang memengaruhinya (saya pun awalnya juga sulit menerima, tetapi atas izin Allah saya akhirnya bisa memahaminya), yaitu

  1. Telah memunyai definisi “adil” menurut mereka masing-masing, padahal definisi “adil” itu harusnya dari sisi Allah, bukan manusia.
  2. Menakwil-nakwilkan atau membuat penafsiran yang baru lagi terhadap hadits yang sudah jelas.
  3. Belum peka terhadap perbedaan konsep takdir “algoritma/cabang pohon/fungsi f(x) dalam matematika” dengan konsep takdir yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah.
  4. Kurang yakin bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik apa yang “telah” terjadi dan apa yang “akan” terjadi, bahkan hingga Hari Kiamat dan bahkan Allah mengetahui segala isi hati.
  5. Belum memahami hikmah dibalik penciptaan makhluk-Nya, baik manusia, malaikat, Dajjal, maupun setan.
  6. Terlalu fokus pada satu dalil dan melupakan dalil lainnya.
  7. Kesombongan.

 

Adil

Apa itu adil? Banyak orang yang mendefinisikan kata adil menurut keinginannya masing-masing. Itulah yang membuat banyak orang, bahkan muslim, yang menolak hukum hudud dan jinayat untuk diterapkan di tataran negara. Dianggapnya melanggar HAM lah, tidak berprikemanusiaan lah, atau terlalu bengis. Padahal, Allah membuat itu untuk kebaikan hamba-Nya. Siapa sih yang paling tau definisi adil? Bukan manusia, kan? Allah-lah yang paling berhak bahkan “hanya” Allah-lah yang mengetahui definisi adil, kecuali bagi orang yang tidak meyakini bahwa Allah adalah Rabbnya (Tuhannya). Begitu pula soal takdir. Seharusnya untuk memahami konsep takdir yang sesuai dengan yang Allah inginkan, maka kita harus membuang terlebih dahulu “definisi adil” yang sebelumnya sudah kita pegang. Ambil terlebih dahulu “kebenaran” itu, barulah kita bisa definisikan apa itu adil sehingga definisi adil sudah sesuai dengan adil yang Allah inginkan. Lepaskan saja dulu persepsi “apa itu adil” di kepala kita agar Allah kasih petunjuk kepada kita untuk menemukan kebenaran dan menerima kebenaran. Ketika seseorang sudah melepaskan definisi adil yang telah ia pegang sebelumnya, maka ia akan dengan mudah menerima kebenaran dari dalil-dalil yang berdasarkan Al-Quran dan AS-Sunnah. Ini pun berlaku pada kasus apa pun, tidak hanya soal takdir.

 justice_scoreboard

Membuat Penafsiran Baru dari hadits yang Telah Jelas

Dari Abu ‘Abdurrahman, ‘Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata, “Telah bersabda kepada kami Rasulullah saw dan beliaulah yang selalu benar dan yang dibenarkan, ‘Sesungguhnya setiap orang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya dalam 40 hari berupa nutfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan roh padanya dan diperintahkan untuk menulis 4 hal: menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka (sengsara)-nya atau keberuntungan (bahagia)-nya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada seseorang di antara kamu melakukan amalan ahli surga dan amal itu mendekatkannya ke surga hingga kurang sehasta; karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya, lalu dia melakukan amalan ahli neraka sehingga ia masuk ke dalamnya (neraka). Dan sesungguhnya ada seseorang di antara kamu melakukan amalan ahli neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka hingga kurang sehasta; karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya, lalu dia melakukan amalan ahli surga sehingga ia masuk ke dalamnya (surga).’ “ (terjemahan HR Bukhari dan Muslim; hadits arba’in No. 4)

Dari sini saja sudah jelas bahwa Allah telah menetapkan amal hamba-Nya. Maka setiap keputusan yang manusia wujudkan dalam perbuatan, itu sudah menjadi ketetapan Allah sejak zaman azali. Hadits ini tidak perlu ditakwil-takwil lagi.

Sabda Rasulullah saw, “Ketahuilah, seandainya (seluruh) umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu memberikan manfaat bagimu kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tetapkan bagimu. dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan suatu (keburukan), maka mereka tidak mampu mencelakakanmu kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tetapkan akan menimpamuPena (untuk menuliskan segala ketentuan takdir Allah) telah diangkat dan lembaran-lembaran (tempat menuliskannya) telah kering.” (terjemahan HR Tirmidzi No. 2516 & Ahmad I/293)

Hadits ini pun sudah jelas bahwa Pena (makhluk Allah pertama) itu telah diangkat dan lembaran-lembaran itu telah kering. Apa maksudnya? Itu maksudnya pada Kitab Lauhul Mahfuzh, sudah tidak akan terjadi penghapusan (lembaran telah kering) dan perubahan (pena telah diangkat). Apa yang telah ditulis oleh pena itu tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk malaikat dan nabi. Hanya Allah dan Pena itu yang tau.

Lihat: http://www.konsultasisyariah.com/sudah-takdirnya/

Dikatakan di sana oleh para asatidz, “Sesungguhnya Allah menakdirkan seseorang masuk neraka bukan berarti Allah memaksa seseorang kufur. Ini bukanlah akidah yang benar, AllahTa’ala berlepas diri dari keyakinan demikian. Allah Ta’ala mengetahui apa yang akan dilakukan oleh makhluk-makhluknya di dalam kehidupan mereka di dunia. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan pena penulis takdir untuk menuliskan apa saja yang akan terjadi pada para hamba-Nya. Takdir tersebut tidak diketahui oleh satu pun dari makhluk-Nya, baik malaikat-malaikat yang dekat dengan-Nya, tidak pula para nabi. Tidak seorang pun mengetahui tentang takdir yang dituliskan di lauhul mahfuzh untuknya. Dengan demikian tidak ada manfaatnya bagi orang-orang yang mengkritisi takdir Allah.” Ini pun sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Utsaimin. Bagaimana memahami hadits, sebenarnya paling aman adalah dengan melihat kitab syarah hadits aslinya sih, seperti Kitab Faathul Baari’, Kitab Shahih Muslim karya Imam Nawawi, dll. Silakan dibuka kitabnya bagi yang memiliki. Jangan cuma jadi pajangan aja ya 🙂

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau tempatnya di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (kalau demikian) apakah kita tidak bersandar saja pada ketentuan takdir kita dan tidak perlu melakukan amal (kebaikan)?” Rasulullah saw bersabda, Lakukanlah amal (kebaikan), karena setiap manusia akan dimudahkan (untuk melakukan) apa yang telah ditetapkan baginya; manusia yang termasuk golongan orang-orang berbahagia (masuk surga) maka dia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan orang-orang yang berbahagia (amalan ahli surga) dan manusia yang termasuk golongan orang-orang yang celaka (masuk neraka) maka dia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan orang-orang yang celaka.” Kemudian, Rasulullah saw membaca (firman Allah): “(QS Al-Lail ayat 5—10).” (terjemahan HR Bukhari No. 4666 dan Muslim No. 2647)

Hadits ini pun jelas. Allah telah menetapkan tempat akhir makhluk-Nya yang berakal, di surga atau di neraka. Wahai saudaraku… Apakah hadits ini perlu ditafsirkan lagi? Sudah banyak hadits yang mengatakan bahwa tempat akhir manusia sudah ditetapkan di surga atau di neraka. Apakah bisa berubah atas kehendak manusia atau ikhtiyar manusia? Default-nya ya tidak berubah. Kalau pun bisa berubah, itu hanya di lembaran-lembaran yang malaikat pegang. Bukan takdir yang di Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh). Lihat saja, para sahabat saja sampai galau juga kan… Kalau dikatakan bahwa surga/neraka itu dapat berubah atas kehendak manusia atau ikhtiyar manusia, tidak mungkin para sahabat sampai galau kayak gitu dengan bertanya, “Wahai Rasulullah, (kalau demikian) apakah kita tidak bersandar saja pada ketentuan takdir kita dan tidak perlu melakukan amal (kebaikan)?” ^^ Pertanyaan para sahabat tersebut sebenarnya mirip dengan, “Untuk apa Allah memberi perintah dan larangan jika semua sudah ditetapkan?” ^^; Saya pun pada tulisan sebelumnya (bab 2) ingin mengutip terjemahan hadits di bawah ini, tetapi saya lupa. Jadi saya kutip sekarang ya…

Dari Hisyam bin Hakim, bahwa seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Apakah amal-amal itu dimulai ataukah ditentukan oleh qadha’?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah mengambil keturunan Nabi Adam Alaihissalam dari tulang sulbi mereka, kemudian menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka, kemudian mengumpulkan mereka dalam kedua telapak tangan-Nya seraya berfirman, ‘Mereka di Surga dan mereka di Neraka.’ Maka ahli Surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Surga dan ahli Neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Neraka.” (terjemahan HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, yang diteliti oleh Syaikh al-Albani, (I/73), dan al-Albani menilai sanadnya shahih dan para perawinya semuanya terpercaya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur, (III/604), ia mengatakan, Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Jarir, al-Bazzar, ath-Thabrani, al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqi dalam al-Asmaa’ wash Shifaat.)

Lihat: http://abuayaz.blogspot.com/2011/04/macam-macam-takdir.html

Bahkan, kalau kita membaca syarah hadits arba’in No. 4 di atas yang tentang penciptaan manusia itu, para ulama mengatakan bahwa yang disebut sebagai “celakanya” itu maksudnya adalah “masuk neraka” dan “bahagianya” adalah “masuk surga”. Jadi, jelaslah saudara-saudaraku, surga dan neraka itu sudah ditetapkan. Namun, mengapa kalian menakwil-nakwilkan atau menafsirkan dengan penafsiran baru lagi dengan mengatakan bahwa itu bisa berubah? Dalilnya mana yang mengatakan bahwa ketetapan itu bisa berubah tergantung pada kehendak dan ikhtiyar manusia? Perubahan itu hanya pada catatan malaikat, bukan pada Ummul Kitab. Saya sampai harus menulis ulang hadits-hadits di atas. Ini karena saya ditanya oleh teman-teman saya dan diajak diskusi, kebanyakan mengabaikan hadits-hadits di atas. Hadits di atas pun telah dikuatkan oleh firman-firman Allah. Saya pun jadi ingin mengutip terjemahan firman Allah dalam Surat Al-Qashash ayat 68 sebagai berikut.

“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Dalil-dalil di atas yang justru bertentangan dengan konsep algoritma malah diabaikan atau ditafsirkan ulang yang padahal maknanya sudah jelas. Jika teman-teman sudah mengabaikan dalil-dalil di atas, saya berlepas diri, saudara-saudaraku… Perlu diketahui, ketika teman-teman bertanya kepada saya terkait logika-logika mengapa begini dan mengapa begitu, jujur saja, pertanyaan-pertanyaan itu semua telah sempat terlintas di benak saya. Semuanya. Namun, saya mencoba memantapkan diri untuk tidak menolak dalil-dalil di atas ini, terutama, dan dalil-dalil lainnya. Justru, dengan begitu saya akhirnya bisa mengambil banyak hikmah dan justru inilah konsep yang paling logis ternyata karena itu menunjukkan ke-Mahakuasaan Allah yang sempurna di mata manusia.

 

Perbedaan Konsep Algoritma dan Konsep yang Sesuai dengan Dalil Syara’

Sudah jelas ya bahwa konsep algoritma itu menafikan dalil yang mengatakan bahwa Allah menciptakan/menetapkan amal perbuatan. Bahkan sebenarnya orang yang mengatakan algoritma benar, ia telah mengabaikan ketetapan Allah yang telah tertulis di zaman azali. Algoritma itu kan maksudnya Allah menyediakan banyak jalan takdir dan membiarkan manusia memilih jalan takdirnya sendiri dan menentukan ujung takdirnya atas ikhtiyar yang manusia lakukan. Ini justru mirip sekali dengan Qodariyyah. Ini mengabaikan ketetapan Allah dan pengetahuan Allah tentang apa yang akan dipilih oleh manusia. Jadi, sama saja dikatakan bahwa Allah tidak pernah menetapkan segala sesuatu.

Banyak yang bertanya kepada saya, mereka bingung apa bedanya konsep algoritma dan konsep yang saya maksudkan sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka membedakan pengetahuan Allah dengan ketetapan Allah. Jujur saja, saya pun sebelumnya berkeyakinan seperti itu. Jadi pertanyaan-pertanyaan teman-teman sudah pernah terlintas di pikiran saya. Namun, saat itu saya ragu karena bagaimana pun Allah menyediakan banyak kemungkinan jalan takdir dan membiarkan manusia bebas memilih jalan takdirnya dan menentukan ujungnya, ini berarti Allah tidak tahu mana yang benar-benar akan kita pilih dan berarti juga tidak tahu di mana tempat akhir setiap manusia karena apa yang akan dipilih manusia baru kelihatan setelah manusia diciptakan dan mulai melakukan perbuatan. Ini bertentangan dengan hadits dan firman Allah yang mengatakan bahwa Allah menetapkan amal perbuatan manusia, yakni wujud/hasil keputusan dari kehendak manusia memilih apa yang ia akan lakukan. Hasil pilihan itulah sejatinya yang menjadi amal perbuatan manusia. Hasil pilihan manusia itulah yang dikatakan telah ditetapkan Allah dalam hadits dan firman-Nya menurut isi tulisan saya sebelumnya.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.” (terjemahan QS Ash-Shaffat: 96)–>dalil lainnya adalah hadits arba’in No.4 di atas–>disebutkan di sana: amal

Masih menolak dalil di atas (yang telah saya kutip ulang)? Menetapkan amal, berarti ya menetapkan hasil/wujud dari pilihan manusia. Wujud dari pilihan manusia berupa apa? Ya berupa amal perbuatan. Ujung dari rentetan kejadian manusia di mana? Di surga atau neraka. Ini (tempat akhir) pun sudah ditetapkan. Kita mau mengarang konsep apa lagi, coba? Yang ada dalam algoritma kan berarti tidak meyakini bahwa Allah telah menetapkan amal dan tempat akhir manusia.

Dari sana, justru kegelisahan saya dahulu terjawab. Saya sering mendengar Aa Gym mengatakan (kurang lebih seperti ini), “Sudahlah, jika orang lain melakukan kezhaliman kepada kita, kita tidak perlu sibuk memikirkan mereka karena itu semua takdir Allah. Yang bahaya bukanlah kezhaliman mereka, tetapi sikap kita dalam menyikapi setiap kondisi.” Dengan mendengar nasihat itu saya langsung seperti tersihir menjadi lebih mudah menerima takdir yang terlihat buruk di mata manusia. Nah, berarti kondisi ketika seseorang dizhalimi, itu takdir Allah. Lalu, saya bertanya kepada diri sendiri, “Tapi, berarti perbuatan orang lain itu dong yang disebut takdir Allah? Bukankah manusia diberikan kebebasan bergerak sesuai dengan kehendaknya dan kita bisa menentukan takdir kita dari jalan yang  dipilih? Kenapa perbuatan zhalim orang lain itu menjadi salah satu takdir kita?” Saya merenung karena ini seperti kontradiktif. Menariknya, ketika saya membaca buku Tazkiyatun Nafs pun, Said Hawwa (dan Imam Al-Ghazali) mengatakan hal yang sama, “Marah kepada seseorang menandakan tidak menerima takdir Allah.” Setelah saya memahami konsep takdir yang benar, maa syaa’ Allaah, kegelisahan saya ini terjawab ^^

Saudara-saudaraku, terimalah dalilnya (hadits dan ayat Al-Quran) mentah-mentah sesuai dengan pemahaman para salafush shalih dan para ulama yang tepercaya tanpa penafsiran ulang yang dipaksakan untuk memenuhi keinginan masing-masing. Saya pun awalnya sulit sekali menerima, tetapi saya tidak langsung menolak begitu saja. Saya memilih abstain terlebih dahulu waktu itu. Namun, setelah saya ngubek-ngubek internet dan mendengarkan kajian-kajian tentang takdir, akhirnya atas izin Allah saya bisa menerimanya. Kalau teman-teman menolak dalil-dalil di atas, saya berlepas diri kawan… Mungkin memang kita harus berjalan masing-masing saja. Saya tidak ingin berdebat. Saya hanya melayani diskusi yang tujuannya untuk mencari kebenaran. Saya takut jika sampai terhitung sebagai orang yang terlalu banyak membicarakan takdir dengan suasana debat.

 

Ke-Maha Tahuan Allah

Menariknya, banyak yang awalnya sulit menerima konsep ini (yang saya maksudkan berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah) akhirnya bisa menerima karena menyadari benarnya ke-Maha Tahuan Allah. Saya pun begitu ^^ dulu saya memantapkan diri dengan logika bahwa Allah pasti tau apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi hingga Hari Kiamat. Ke-Maha Tahuan Allah tidak mungkin dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka, wajarlah jika dikatakan bahwa Allah tau mana yang akan kita pilih. Bahkan, Allah mengetahui segala isi hati. Allah mengetahui konsekuensi dari amal perbuatan kita. Allah mengetahui sehelai daun yang gugur. Allah mengetahui semut hitam dalam kegelapan. Semuaaaanyaaa Allah mengetahuinya. Maka dari itu, wajar jika dikatakan bahwa Allah pun telah menakdirkan semuanya juga. Bahkan kalau pakai logika manusia, khususnya saya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu karena Allah telah menakdirkan itu semua. Yaa.. walaupun tidak bisa dikatakan: “menakdirkan” terlebih dahulu, baru “mengetahui” atau “mengetahui” terlebih dahulu, baru “menakdirkan”. Itu karena pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun, intinya ya Allah mengetahui semuanya dan Allah menakdirkan semuanya.

Jika seseorang meyakini algoritma sebagai bentuk konsep takdir, maka sama saja dia tidak meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Maka dari itu, di benak saya terpikir, “Hmm, benar juga ya… Untuk apa Allah menyediakan jalan takdir yang tidak akan dipilih manusia?” Memangnya manusia, yang sering melakukan hal yang sia-sia. Allah tidak mungkin melakukan hal yang sia-sia sedikit pun. Allah tau apa yang akan dipilih manusia, maka Allah pasti menakdirkan apa yang akan dipilih manusia. Atau sebaliknya, Allah telah menakdirkan apa yang akan dipilih manusia, maka Allah pasti tau apa yang akan dipilih manusia. Jadi, saya membangun logika setelah saya meyakini dalil-dalil di atas, bukan sebaliknya, membangun logika terlebih dahulu lalu mengkritik dalil. Ada yang memberikan contoh begini:

Misal saya beliin adik saya 2 jenis buah dan dia lagi dalam kondisi harus makan buah, saya bilang ke adik saya: “dek, silakan kamu pilih buah mana yg mau kamu makan” Sementara saya tahu adek saya pasti milih buah A karena dia sangat suka sama buah itu. 2. Saya beliin cuma satu buah, buah B. Karena dia harus makan buah, mau gak mau dia makan buah B, padahal sy tahu adek sy gk begitu suka dgn buah B. Poin 1 menunjukkan kebaikan memberi pilihan, poin 2 menunjukkan pemaksaan

(Punten ya, saya ambil contohnya.) Saya tidak akan memaksa teman saya ini untuk ikut dengan keyakinan saya. Namun, dalam tulisan ini saya akan menjelaskan sesuatu untuk menanggapi di atas. Soal pilihan, itu faktanya memang ada, tetapi itu dari sisi pemikiran manusia saja, bukan Allah. Misalnya, kita mungkin pernah ya dihadapi pada pilihan mau pilih universitas di Bandung atau di tempat kelahiran? Pilihan ini jelas ada dalam pikiran manusia. Namun, bagaimana di sisi Allah? Allah pasti tau apa yang akan kita pilih. Maka, ketika kita memilih univeristas di tempat kelahiran, itu sudah Allah ketahui dan sudah Allah tetapkan sebelumnya. Inilah yang sesuai dengan dalil-dalil di atas bahwa Allah menciptakan/menetapkan perbuatan/amal manusia. Pernyataan yang teman saya utarakan di atas sebenarnya sudah pernah terlintas di benak saya yang redaksinya tidak persis sama, tetapi mirip. Pernyataan di atas tersebut kesalahannya terletak pada analoginya yang tidak sesuai dengan konsep takdir yang saya maksudkan sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Contoh yang di atas itu memang benar pemaksaan. Seorang adik yang dijadikan contoh di atas itu tidak membeli buahnya sendiri sehingga adiknya tidak memperoleh buah yang sesuai dengan kehendaknya, tetapi dibelikan kakaknya yang berarti buah itu hanya melibatkan kehendak kakaknya saja tanpa kehendak adiknya, sedangkan dalam konsep takdir yang saya maksudkan sesuai Al-Quran dan As-Sunnah, manusia itu diberikan kehendak untuk memilihkehendak itu mengantarkan ia melakukan sesuatu yang sesuai kehendaknya. Perbuatan itu manusia yang melakukan sendiri. Nah, apa yang ia lakukan atas kehendaknya itu sudah Allah tetapkan. Ini yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Ini ke-mahakuasaan Allah karena Allah mampu membuat semua berjalan seolah-olah manusia itu diberikan kebebasan menentukan takdirnya sendiri. Padahal tidak akan terjadi sesuatu yang belum/tidak ditetapkan oleh Allah.

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah.” (terjemahan QS At-Takwir: 28-29)

 

sky

Penciptaan Makhluk-Nya

Pernah gak sih teman-teman terlintas dalam pikiran pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup?

Saya pernah. dan itu sungguh liar. Itu dahulu ketika saya mencari identitas diri.

Pertanyaan saya begini:

Kenapa ya Allah menciptakan malaikat? Memangnya Allah tidak mampu mengerjakan pekerjaannya sendiri?

Kenapa sih manusia diciptakan? Allah memangnya butuh manusia? Buat apa sih Allah menciptakan manusia, lalu Allah membuat manusia itu akhirnya mati juga. Untuk apa sih Allah menciptakan manusia yang kemudian akan Dia masukkan ke dalam neraka atau surga?

Kenapa Allah menciptakan setan? Kenapa Allah membiarkan setan berkeliaran mengganggu manusia dan mengajak manusia ke dalam kesesatan? Setan pun nantinya akan masuk neraka.

Kenapa Allah akan menciptakan Dajjal? Kenapa Dia juga menciptakan Yakjuj dan Makjuj dari keturunan Adam yang sifatnya sebagai perusak?

dll…

Pertanyaan itu muncul karena kurang paham hakikat tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya. Coba deh kenapa Allah menciptakan malaikat? Kenapa coba? Jawabannya, ya terserah Allah. Namun, apa yang kita dapat ketika kita telah menerima semua itu? Kita akan memperoleh hikmah bahwa semua itu untuk menunjukkan keagungan Allah. Walaupun malaikat Allah ciptakan untuk mengerjakan semua tugasnya, bukan berarti Allah tidak mampu mengerjakannya sendiri. Itu semua terserah Allah. Saya pun mengambil hikmahnya dari sana justru menunjukkan bahwa Allah Maha Agung. Semua makhluk-Nya diwajibkan menyembah-Nya saja dan dilarang menyembah selain-Nya.

Teman saya bertanya:

bagaimana kalau logikanya dibalik? Mengetahui itu berbeda dengan menciptakan. Alloh menciptakan semua kejadian, dan mengetahui apa yg akan dipilih manusia, itu tidak mengurangi ke-Maha-an Alloh, justru menunjukkan keadilan Alloh. Itu useless? Enggak, justru yg useless itu ngapain Alloh nyuruh manusia beribadah dan menjanjikan surga jika taat, neraka jika ingkar, kalau Alloh sudah menetapkan saklek dari awal. Perintah, hadiah, dan larangan ini justru menunjukkan kebebasan memilih.

Yang ia maksudkan dengan “Allah menciptakan semua kejadian” itu adalah Allah menyediakan banyak kemungkinan jalan takdir seperti pada konsep algoritma sehingga manusia dapat memilih jalan takdirnya sendiri dan menentukan ujung takdirnya. Terkait konsep algoritma seperti apa, sudah saya jelaskan di atas ya… 🙂 termasuk soal pengetahuan dan ketetapan Allah. Beliau membalik logikanya, justru itu yang saya sempat yakini pertama-tama. Ya boleh lah dibolak-balik logikanya, asalkan tidak bertentangan dengan dalil-dalil kan.. karena, menariknya, dengan logika yang teman saya katakan dengan “dibalik” itu justru itu yang membuat saya sebelum ini makin yakin bahwa Allah hanya menetapkan satu jalan takdir karena Allah menetapkan amal perbuatan dan tempat akhirnya. Itu karena saya berpikirnya Allah mengetahui apa yang akan terjadi karena Allah telah menetapkan semuanya itu ^^ Ini sesuai dengan dalil-dalil syara’ di atas.

Namun, sudah saya katakan pula di atas, bahwa sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa Allah mengetahui terlebih dahulu, baru menetapkan atau menetapkan terlebih dahulu, baru mengetahui. Itu karena bagi Allah, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Tanggapan saya terhadap pertanyaan teman saya di atas, sepertinya beliau mengatakan itu karena sudah fix menolak hadits di atas dengan teks yang mentah-mentah sehingga perlu ditafsirkan lagi. Kata beliau, untuk sementara beliau meyakini bahwa surga/neraka itu bisa berubah sesuai kehendak manusia karena jalan yang ia pilih dan berarti ketetapan Allah dipengaruhi oleh kehendak manusia sehingga beliau mengambil konsep algoritma itu. Maka dari itu, saya berlepas diri… Karena pemahaman kami akan hadits di atas sudah berbeda.

Namun, jika ditanyakan, “Mengapa Allah memberi perintah beribadah dan memberi larangan padahal Allah telah mentapkan semuanya?” Ya jawaban saya, “Terserah Allah.” (Saya menerima dalil terlebih dahulu, baru membangun logika, bukan sebaliknya.) Karena Allah telah menciptakan kehendak pada manusia dan membuat manusia melakukan sendiri apa yang ia kehendaki. Maka, saya pun mengambil hikmahnya, Allah kasih perintah dan larangan, itu bukti ke-Mahaadilan Allah sehingga jika manusia bermaksiat, itu salah manusia karena telah melanggar larangan Allah. Manusia tidak bisa menyalahkan Allah karena Allah telah memberi petunjuk berupa Al-Quran dan diutusnya Rasul. Jadi, perintah dan larangan itu sebagai petunjuk manusia dalam berkehendak.

Mari renungi kutipan kisah di bawah ini.

Para Sahabat mengajarkan kepada para murid mereka dari kalangan Tabi’in hal tersebut. Yaitu, dengan bertanya kepada mereka, untuk menguji mereka, dan menguji pemahaman mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Shahiih Muslim bahwa Abul Aswad ad-Duali berkata, “Imran bin al-Hushain berkata kepadaku, ‘Apakah kamu melihat apa yang dilakukan manusia pada hari ini dan mereka bersungguh-sungguh di dalamnya, apakah hal itu merupakan sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan telah berlaku atas mereka takdir sebelumnya? Ataukah sesuatu yang dihadapkan kepada mereka dari apa-apa yang dibawa kepada mereka oleh Nabi mereka dan hujjah telah nyata atas mereka?’
Saya menjawab, ‘Bahkan, hal itu merupakan sesuatu yang telah ditentukan atas mereka.’
Dia bertanya, ‘Bukankah itu suatu kezhaliman?’
Saya sangat terperanjat mendengar hal itu. Saya katakan, ‘Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan kepunyaan-Nya, dan Allah tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, tapi merekalah yang akan ditanya.’
Maka dia mengatakan kepadaku, ‘Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya aku tidak menginginkan dengan apa yang aku tanya-kan kepadamu, melainkan untuk menguji akalmu.’ ” (HR Muslim, bab al-Qadar, (VIII/48-49, no. 2650)

Lihat http://abuayaz.blogspot.com/2010/06/hukum-membicarakan-permasalahan-qadar.html#ixzz31diQJJM2

Itulah Allah. Allah yang menciptakan semuanya, maka Allah berhak melakukan apa saja dan kita tidak berhak mengatakan itu tidak adil dan tidak berguna. Di mana tidak logisnya? Justru yang tidak logis adalah mengabaikan dalil untuk membenarkan keinginan sendiri. Dikatakan sesuatu itu useless, seharusnya setelah mengambil dan menerima dalil-dalil, bukan sebaliknya, membangun logika lalu mengkritik dalil-dalil atau menafsirkan ulang. Itu membuat klaim useless justru menjadi dinisbatkan kepada sesuatu yang telah ada dalam atau sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Mohon maaf ya teman-teman, saya sendiri telah mengalami saat-saat saya menggugat konsep ini. Cuma, mungkin bedanya, saya tidak melepaskan dalil-dalil penting. Wajarlah jika saya cukup bisa memahami mengapa banyak orang yang sulit menerima ini.

 

Terlalu Fokus pada Satu Dalil

Beberapa yang bertanya kepada saya biasanya bingung dengan satu dalil. Jadi, saran saya untuk memahami konsep takdir yang sesuai dengan yang Allah inginkan, kita tidak boleh terpaku pada satu dalil karena konsep ini adalah kesimpulan dari banyak dalil. Para ulama mengapa begitu kerennya karena mereka telah hafal Al-Quran dan paham, hafal banyak hadits dan paham, serta hafal banyak kitab. Maasyaa’ Allaah.. 🙂 Wajarlah mereka bisa menyimpulkan hukum setiap perkara.

 

Kesombongan

Kesombongan itu ada dua, yaitu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Coba diperiksa ke dalam hati teman-teman, adakah kesombongan itu? Ini bukan untuk men-judge teman-teman yang belum paham adalah orang-orang yang sombong 🙂 Tidak. Namun, tidak ada salahnya kan memeriksa hati? Saya pun bahkan harus terus dan terus memeriksa hati saya.

sombong1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s