Akhirnya Aku Memahaminya (2): Konsep Takdir dengan Dalil-Dalil Al-Quran dan As-Sunnah

heavenhell

 

Sebelum masuk ke materi konsep takdir yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah, saya harap para pembaca kuatkan terlebih dahulu iman kepada Allah dan ma’rifatullah-nya. Itu agar jangan sampai nantinya malah su’uzhan kepada Allah. Jangan sampai su’uzhan dan tidak siapnya hati menerima kebenaran justru akan membuat seseorang tidak sempurna keimanannya karena tidak beriman kepada takdir baik dan buruk/qadha’ dan qadar. Bagi yang merasa apakah hal seperti ini perlu dibahas atau tidak, menurut saya bahkan hal ini harus diberitahukan kepada siapa saja yang belum tahu sebagai salah satu bentuk dakwah tauhid kita, asalkan pembahasannya bisa komperehensif dengan dalil-dalil, baik dalil naqli maupun dalil aqli. Untuk lebih lengkapnya tentang ini, bisa buka artikel: http://almanhaj.or.id/content/2156/slash/0/hukum-membicarakan-permasalahan-qadar/.

Ingin saya ulangi ayat ini:

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (terjemahan QS Al-Baqarah: 147)

Kebenaran itu datangnya dari wahyu Allah, yakni Al-Quran dan As-Sunnah, yang pemahamannya sesuai dengan pemahaman para salafush shalih (QS 4: 115). Ketika seseorang sudah berserah diri kepada setiap aturan yang Allah turunkan, maka sudah seharusnya ia pun harus mengakui kebenaran yang terungkap dari Al-Quran dan As-Sunnah. Maka, siapkan hatimu saudara-saudaraku… 🙂

Agar lebih meyakinkan, saya ambil referensinya dari berbagai sumber, di antaranya:

http://muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-ilahi.html

http://almanhaj.or.id/content/3185/slash/0/iman-kepada-qadartakdir-baik-dan-buruk/

sedangkan pemahaman saya didapatkan dari kajian Ma’rifatullah yang dibawakan oleh Aa Gym di Masjid Daarut Tauhiid/MQ FM, dari majalah Al-Furqon/As-Sunnah, dari hasil diskusi dengan suami (kebetulan suami saya dahulu ketika beliau masih SMA rutin menghadiri kajian dari kelompoknya Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas di Bogor), dari kajian aqidah bersama Ust. Abu Yahya Purwanto di MQ FM/Masjid Al-Amanah, kajian hadits arba’in Ust. Djalaludin Asy-Syathibi di MQ FM, kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Fauzan, dll. Semoga penjelasan saya nantinya dapat mencerahkan dan mengantarkan hidayah Allah untuk para pembaca 🙂 atau setidaknya bisa memotivasi teman-teman agar lebih rajin mengikuti kajian aqidah yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah.

 

Pemahaman yang Benar tentang Konsep Takdir

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa para ulama ahlus sunnah menyimpulkan ada dua golongan yang menyimpang pemahamannya terkait konsep takdir karena pemahamannya yang ekstrim (melampaui batas), yaitu kelompok Qadariyyah dan kelompok Jabariyyah.

Kelompok Qadariyyah adalah kelompok yang mengatakan bahwa Allah hanya memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan berbuat maksiat. Perkara seseorang berbuat ketaatan atau kemaksiatan, menurut mereka, ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya (kutipan: muslim.or.id). Kelompok Qadariyyah terdapat 2 jenis lagi, tetapi pada intinya  mirip. Mereka tidak meyakini bahwa Allah mengetahui apa yang akan dipilih oleh manusia, apalagi menakdirkannya. Ini bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Sebaliknya, kelompok Jabariyyah adalah kelompok yang mengatakan bahwa Allah memaksa hamba-Nya melakukan segala hal sesuai kehendak-Nya tanpa melibatkan kehendak manusia. Mereka pun merasa tidak perlu ikhtiar untuk mencapai sesuatu karena semuanya sudah Allah takdirkan. Seperti yang telah dijelaskan dalam muslim.or.id, “Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan ikhtiyar (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan Jabariyyah.”

Pemahaman yang Benar…

Mari kita renungkan terjemahan ayat Al-Quran dan hadits di bawah ini.

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (terjemahan QS Al-An’am: 59)

“(Makhluk) yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena)., lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Maka dia bertanya, ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah taqdir segala sesuatu sampai hari Kiamat.’ “ (terjemahan HR Abu Dawud No. 4700, Tirmidzi No. 2155 & 3319, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah No. 102, al-Ajurry dalam asy-Syari’ah No. 180, Ahmad V/317, Abu Dawud ath-Thayalisi No. 577; dari sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit r.a.; hadits ini shahih)

Hal yang sedetail “bergugurnya sehelai daun”, “sebutir biji di kegelapan”, “yang basah” dan “yang kering” saja sudah tertulis di Kitab Lauhul Mahfuzh. Apa maksudnya? Ini selaras dengan hadits berikut ini.

“Allah telah menuliskan takdir bagi semua makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (terjemahan HR Muslim No. 2653 [16], Tirmidzi No. 2156, Ahmad II/169, abu Dawud ath-Thayalisi No. 557; dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash r.a.; lafazh ini milik Muslim)

Semuanya, bahkan hingga detail (menurut keyakinan saya dari tadabbur surat Al-An’am ayat 59) sudah ditakdirkan oleh Allah secara keseluruhan sejak sebelum bumi dan langit diciptakan dan itu sangat mudah bagi Allah (QS 22: 70). Namun, saya jujur masih bingung dengan apa yang ditulis di muslim.or.id, apa maksudnya yang di Lauhul Mahfuzh disebut “umum”, sedangkan yang “rinci” baru ketika manusia diciptakan? Ini sepertinya masih harus dikonfirmasi lagi kepada ustadz yang paham ^^a Soalnya, saya yakin kalau Allah mau menakdirkan makhluknya hingga detail sejak sebelum bumi dan langit diciptakan, itu sangat mudah bagi-Nya >_< (QS Al-Hadid: 22-23). Ini yang membuat saya mencari tau ke artikel lain, almanhaj.or.id,untuk memahaminya lebih dalam dan di sana disebutkan bahwa Ustadz Muhammad bin Ibrahim al-Hamd membagi takdir menjadi beberapa jenis (tidak persis sama dengan muslim.or.id), yaitu takdir umum, takdir untuk manusia, takdir bagi usia, takdir tahunan, dan takdir harian (sumber: http://almanhaj.or.id/content/2482/slash/0/macam-macam-takdir/).

Jadi, yang saya pahami dari artikel-artikel almanhaj.or.id bahwa yang dimaksud “umum” di sini merupakan takdir “keseluruhan makhluk”, tetapi sudah “detail”, hanya saja belum dipisah-pisahkan sesuai kategori yang dijelaskan oleh dalil-dalil syara’. Ketika waktunya tiba manusia diciptakan atau pada waktu lailatul qadr, maka takdirnya hanya ditulis ulang oleh malaikat, bukan “baru” saja ditetapkan.

Bisa lihat juga http://almanhaj.or.id/content/3551/slash/0/memahami-takdir-allh-subhanahu-wa-taala-menurut-perspektif-ahlus-sunnah-wal-jamaah/ Di sana disebutkan, “Takdir (yang bersifat) umum dan meliputi semua makhluk yang tertulis dalam Lauhul Mahfuzh. Karena Allah Azza wa Jalla telah menuliskan di dalamnya ketetapan takdir segala sesuatu sampai hari Kiamat tiba.” Ini ternyata perkataan Syaikh Shalih al-Fauzan.  Namun, pada intinya sudah jelas bahwa semuanya hingga hari Kiamat sudah ditakdirkan sejak sebelum bumi dan langit diciptakan.

Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah, “Ajal (umur) itu ada dua: ajal mutlak yang (hanya) diketahui oleh Allah, dan ajal yang terikat. Dengan ini menjadi jelaslah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:‘Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!’ Allah memerintahkan Malaikat untuk mencatat ajal untuknya seraya mengatakan: ‘Jika ia menyambung tali silaturahim, maka Aku menambahkan kepadanya demikian dan demikian.’ Sedangkan Malaikat tidak tahu apakah bertambah atau tidak. Tetapi Allah mengetahui perkara yang sebenarnya. Jika ajal telah datang, maka tidak dicepatkannyadan tidak diakhirkan.” (Majmuu’ul Fataawaa, VIII/517)

>     lihat: http://abuayaz.blogspot.com/2010/06/takdir-ada-dua-macam.html

Jadi, soal berubahnya ketetapan Allah, seperti bertambahnya rezeki, dipanjangkannya umur seseorang, berubahnya seseorang dari miskin menjadi kaya, itu semua hanya dari sisi malaikat dan manusia, bukan Allah. Allah sudah menyimpan catatan-Nya sendiri secara terperinci sejak sebelum bumi dan langit diciptakan dan yang Allah simpan itu tidak akan berubah. Mari simak perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, “Dengan demikian, doa memiliki pengaruh, namun tidak mengubah ketetapan Allah. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran doa yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena ketentuan Allah, begitu juga segala sebab memiliki pengaruh terhadap musabbab (akibat)-nya dengan kehendak Allah. Semua sebab telah tertulis dan semua hal yang terjadi karena sebab itu juga telah tertulis.” (Lihat Majmu Fatawa wa Rasa’il Ibnu Utsaimin, 2/71). Maka dari itu, jelaslah sudah perkara yang di atas (detail atau tidak detailnya ketetapan Allah sebelum diciptakannya bumi dan langit) karena tidak kontradiktif dengan Al-An’am ayat 59 dan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

Umar bin Khatthab r.a. pun ketika akan ke negeri Syam dan saat itu penduduk Syam sedang dilanda wabah suatu penyakit menular tertentu, ia kembali pulang untuk menghindari takdir buruk, pindah ke takdir yang lain. Jadi intinya dengan ia terhindar dari penyakit menular tersebut melalui ikhtiarnya dengan kembali pulang, itu pun juga termasuk takdir Allah. Berikut kutipan artikel http://asysyariah.com/usaha-doa-sebab-dan-takdir/ dan http://asysyariah.com/iman-kepada-takdir-tidak-meniadakan-ikhtiar/.

Umar bin Khaththab r.a. pernah berangkat menuju Syam. Setibanya di wilayah Sargh, beliau disambut oleh para panglima perang, Abu Ubaidah bin al-Jarrah beserta sahabat-sahabat lainnya. Mereka menyampaikan berita kepada Umar bahwa di negeri Syam sedang terjangkiti satu wabah. Umar lalu memerintahkan untuk mengundang para sahabat dalam rangka bermusyawarah. Mulai dari kalangan Muhajirin, lalu kalangan Anshar, kemudian kaum Quraisy. Dari musyawarah tersebut, Umar memutuskan untuk kembali pulang.

Lalu Umar r.a. mengumumkan, “Sesungguhnya aku akan kembali besok pagi, bersiap-siaplah besok.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah r.a. bertanya, “Apakah untuk lari dari takdir Allah?” Umar menjawab, “Andai saja bukan kamu yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu, jika engkau mempunyai ternak unta lalu singgah di sebuah lembah yang memiliki dua sisi. Satu sisi yang subur, sisi yang lain gersang. Bukankah dengan takdir Allah juga jika engkau menggiringnya ke sisi yang subur? Bukankah dengan takdir Allah juga engkau menggiringnya ke sisi yang gersang?”

Setelah itu, datanglah Abdurrahman bin Auf r.a. yang sebelumnya tidak hadir karena ada keperluan. Ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kalian mendengar terjadi wabah di suatu daerah, janganlah mendatanginya. Jika kalian berada di suatu daerah yang sedang terjangkiti wabah, janganlah meninggalkannya untuk lari’.” Umar pun memuji Allah, lalu bertolak (kembali ke Madinah).

(Riwayat Abdullah bin Abbas r.a. dikeluarkan al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ath-Thib (Pengobatan), “Bab Tentang Penyakit Tha’un” (10/178 no. 5729 dengan Fathul Bari). Lihat pula no. 5730 dan 6973. Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam ash-Shahih, Kitab As-Salam (4/1740 no. 2219), Abu Dawud dalam as-Sunan, Kitab Jenazah, “Bab Keluar dari Penyakit Tha’un” (no. 3103), al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/194), Malik dalam al-Muwaththa’, dan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra.)

Apa saja yang ditakdirkan itu?

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.” (terjemahan QS Ash-Shaffat: 96)

Dari Abu ‘Abdurrahman, ‘Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata, “Telah bersabda kepada kami Rasulullah saw dan beliaulah yang selalu benar dan yang dibenarkan, ‘Sesungguhnya setiap orang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya dalam 40 hari berupa nutfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan roh padanya dan diperintahkan untuk menulis 4 hal: menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka (sengsara)-nya atau keberuntungan (bahagia)-nya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada seseorang di antara kamu melakukan amalan ahli surga dan amal itu mendekatkannya ke surga hingga kurang sehasta; karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya, lalu dia melakukan amalan ahli neraka sehingga ia masuk ke dalamnya (neraka). Dan sesungguhnya ada seseorang di antara kamu melakukan amalan ahli neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka hingga kurang sehasta; karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya, lalu dia melakukan amalan ahli surga sehingga ia masuk ke dalamnya (surga).’ “ (terjemahan HR Bukhari dan Muslim; hadits arba’in No. 4)

Sabda Rasulullah saw, “Ketahuilah, seandainya (seluruh) umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu memberikan manfaat bagimu kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tetapkan bagimu. dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan suatu (keburukan), maka mereka tidak mampu mencelakakanmu kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Pena (untuk menuliskan segala ketentuan takdir Allah) telah diangkat dan lembaran-lembaran (tempat menuliskannya) telah kering.” (terjemahan HR Tirmidzi No. 2516 & Ahmad I/293)

Ternyata, Allah menakdirkan semuanya, termasuk amal perbuatan manusia. Seperti surat Al-An’am ayat 59 di atas yang mengatakan bahwa sehelai daun yang gugur saja sudah dicatat di Lauhul Mahfuzh oleh al-Qalam sebelum langit dan bumi diciptakan. Mungkin, akan ada yang bertanya, “Berarti, kita dipaksa dong sama Allah melakukan apa pun sesuai keinginan Allah? Berarti kita gak salah dong kalau melakukan maksiat? Lalu, buat apa kita ikhtiar?” Tenang, tenang, pertanyaan seperti itu sudah pernah ditanyakan oleh para sahabat. Hmm… saya jadi berpikir, berarti boleh kan menanyakan sedetail itu jika tujuannya ingin memahami sesuatu? ^_^

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau tempatnya di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (kalau demikian) apakah kita tidak bersandar saja pada ketentuan takdir kita dan tidak perlu melakukan amal (kebaikan)?” Rasulullah saw bersabda, Lakukanlah amal (kebaikan), karena setiap manusia akan dimudahkan (untuk melakukan) apa yang telah ditetapkan baginya; manusia yang termasuk golongan orang-orang berbahagia (masuk surga) maka dia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan orang-orang yang berbahagia (amalan ahli surga) dan manusia yang termasuk golongan orang-orang yang celaka (masuk neraka) maka dia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan orang-orang yang celaka.” Kemudian, Rasulullah saw membaca (firman Allah): “(QS Al-Lail ayat 5—10).” (terjemahan HR Bukhari No. 4666 dan Muslim No. 2647)

Sudah jelas ya teman-teman bahwa Allah bahkan tidak hanya menakdirkan amal perbuatan hamba-Nya, tetapi juga tempat akhirnya (surga atau neraka). Bahkan, Syaikh Utsaimin pun menafsirkan hadits arba’in, apa yang dimaksud dengan sengsara itu neraka, sedangkan bahagia itu surga. Seseorang mendapat hidayah dari Allah pun berdasarkan kehendak-Nya. Apa pun yang terjadi, semua tergantung apa yang Dia kehendaki dan semua pun telah Allah tetapkan sebelumnya.

“Katakanlah, ‘Wahai Rabb Yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki atas siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).’ ” (terjemahan QS Ali ‘Imran: 26-27)

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.” (terjemahan QS Al-Insaan: 30)

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (terjemahan QS Yunus: 25)

Namun, itu bukan berarti menjadi alasan kita untuk bermalas-malasan atau tidak berikhtiar. Rasulullah saw mengingatkan para sahabat untuk tetap beramal shalih karena amalan itu akan mengantarkan kita ke surga. Maka, dengan begitu, kita akan semakin yakin bahwa semuaaa yang ada di dalam Al-Quran, baik berupa perintah, larangan, maupun janji Allah, berlaku hukum kausalitas (sebab-akibat) atau istilah lainnya, sunnatullah. Seperti halnya ketika lapar, kalau mau hilang laparnya, ya makan. Tidak mungkin bisa kenyang tanpa usaha makan. Kalau sebuah benda dilepaskan di atas bumi dengan ketinggian sekian meter, ya pasti jatuh. Itulah sunnatullah. Berarti, jika Allah menjanjikan sesuatu kepada hamba-Nya dan hamba-Nya melaksanakan syarat janji tersebut, maka yakinlah bahwa janji Allah pasti akan dipenuhi-Nya karena itupun sunnatullah. Saya menggunakan istilah sunnatullah ya karena dengan memahami konsep takdir seperti ini akan menambah keyakinan kita bahwa Allah pasti memenuhi janji-Nya. Semua di dunia ini termasuk pergerakan manusia sudah terikat dengan hukum Allah berupa kausalitas yang telah ditetapkan sebelum terjadinya.

“Lalu, bukannya itu berarti kita dipaksa?”

Ini sangat bisa kita rasakan sendiri. Pernahkah ada yang memaksa kita? Ketika kita mau jalan-jalan, mau minum, mau belajar, atau mau berbincang-bincang, adakah yang memaksa kita??? Tidak ada. Bandingkan dengan ketika seorang ibu yang memaksa anaknya pergi ke sekolah atau memaksa minum obat. Berbeda bukan rasanya? Jelas berbeda. Itu karena Allah tidak pernah memaksa hamba-Nya sekali pun, sedangkan pada kasus ibu kandung tadi jelas memaksa. Inilah salah satu tanda ke-Mahakuasa-an Allah yang mampu menciptakan segalanya terjadi seakan-akan semua berjalan dengan sendirinya walaupun semuanya tetap pada takdir Allah sehingga tidak bisa benar-benar bebas. (Lihat http://almanhaj.or.id/content/2485/slash/0/apakah-iman-kepada-qadar-menafikan-kehendak-hamba-dalam-berbagai-perbuatan-yang-dapat-dipilihnya/)

Seharusnya kita bersyukur karena Allah telah mengaruniakan kita “kehendak” karena tanpa “kehendak”, maka semua akan terasa betul dipaksa. Tanpa “kehendak”, kita akan benar-benar seperti robot yang tidak punya hati. Padahal kalaupun Allah mau memaksa, Allah Mahakuasa dan kita semua milik Allah. Namun, faktanya kita diberi karunia oleh Allah berupa kehendak dan kita tidak dipaksa.

(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah(terjemahan QS At-Takwir: 28-29)

“.. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabb-nya.” (terjemahan QS An-Naba’: 39)

“.. Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki..” (terjemahan QS Al-Baqarah: 223)

“..Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” (terjemahan QS Al-Kahfi: 29)

Ayat di atas bukti bahwa Allah mengaruniakan manusia berupa kehendak. Maka, jika seseorang melakukan maksiat, ya berarti salah dia karena itu kehendak dia tanpa paksaan dari Allah. Allah Mahaadil karena Allah telah memberikan petunjuknya melalui firman-Nya Al-Quran dan perkataan Nabi-Nya. Seperti hukum kausalitas di atas, jika seorang hamba mengikuti apa yang Allah perintahkan dalam Al-Quran ya pasti Allah akan memberikan balasan yang baik sesuai dengan janji-Nya, Allah tidak mungkin zhalim kepada hamba-Nya.

Saya teringat perkataan Aa Gym yang sering diucapkan beliau dalam kajian ma’rifatullah, “Apa yang Allah izinkan/kehendaki terjadi belum tentu diridhoi oleh-Nya.” Untuk apa Allah melakukan itu? Ya terserah Allah saja… Semua milik Allah. Saya sih menganalogikannya seperti seorang sutradara yang sedang membuat adegan-adegan, baik adegan perilaku buruk maupun adegan perilaku yang baik. Lihat saja, banyak film yang berhasil membuat banyak penonton marah kepada tokoh antagonisnya kan? ^^

“Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun’. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.” (terjemahan QS Al-An’am: 148) 

“Dan berkatalah orang-orang musyrik, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.’ Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (terjemahan QS An-Nahl: 35)

“Mereka orang-orang musyrik berdalil dengan masyi’ah (kehendak) Allah, atas dasar ridha dan mahabbah-Nya dan bahkan mereka menjadikan masyi’ah sebagai tanda ridha. Padahal Allah tidak mencintai kesyirikan dan tidak pula meridhainya, bahkan Allahsubhanahu wata’ala mengutuk dan melarangnya. Maka apa yang dia perintahkan itulah yang diridhai dan dicintai, dan apa yang Dia larang adalah yang dicela dan dimurkai.” (lihat http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=297)

Mari renungkan terjemahan ayat Al-Quran di bawah ini.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (terjemahan QS Al-Baqarah: 286)

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (terjemahan QS al-’Ankabuut: 69).

Kata “lanahdiyannahum” ini memuat “lam” dan “nun” tasydid yang bermakna penegasan. Itulah janji Allah. Maka, orang yang telah sungguh-sungguh mencari kebenaran atau hidayah Allah, Allah pasti memberi hidayah-Nya seperti apa yang dijanjikan-Nya. Jika belum mendapat hidayah, mungkin belum terhitung sungguh-sungguh. Kita harus memantapkan hati kita dengan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin zhalim. Bukankah Allah tidak membebani hamba-Nya, kecuali sesuai dengan kesanggupannya?

Dari Abu Dzarr al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap Diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi…” (terjemahan HR Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 490, Shahiihul Adabil Mufrad no. 377, Muslim no. 2577, Ahmad V/160, al-Hakim IV/241, al-Baihaqi VI/ 93, Ibnu Hibban II/82 no. 618, at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban)

 

Dari Abdullah bin Fairuz ad-Dailami, beliau berkata, “Aku datang (menemui sahabat Nabi saw) Ubay bin Ka’ab r.a. dan aku berkata: ‘Timbul dalam diriku suatu (kerancuan dalam memahami) takdir Allah, sehingga aku khawatir agamaku (imanku) akan rusak, maka sampaikanlah kepadaku suatu (nasehat), supaya Allah menghilangkan kerancuan ini dari hatiku”. Ubay bin Ka’ab r.a. berkata, “Sungguh seandainya Allah menyiksa semua makhluk yang ada di langit dan bumi maka Dia akan menyiksa mereka dan Dia tidak berbuat zhalim/aniaya (dengan menyiksa mereka, karena mereka semua adalah milik-Nya), dan seandainya Dia merahmati mereka semua maka sungguh rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal perbuatan mereka. Seandainya kamu bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah maka Dia tidak akan menerimanya darimu sampai kamu mengimani takdir-Nya dan kamu mengetahui (meyakini) bahwa apa yang (Allah Ta’ala takdirkan) akan menimpamu maka tidak mungkin luput darimu, dan apa yang (Allah Ta’ala takdirkan) tidak akan menimpamu maka tidak mungkin menimpamu. Kalau kamu mati dalam keadaan tidak meyakini semua ini maka kamu akan masuk neraka!” [HR Abu Dawud no. 4699, Ibnu Majah no. 77 dan Ahmad V/182; dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” no. 2439].

Abdullah bin Fairuz ad-Dailami berkata: “Kemudian aku datang kepada (sahabat Nabi saw) Abdullah bin Mas’ud r.a. maka beliau menyampaikan (nasehat) yang serupa, lalu aku datang kepada (sahabat Nabi saw) Hudzaifah bin al-Yaman r.a. maka beliau menyampaikan (nasehat) yang serupa, kemudian aku datang kepada (sahabat Nabi saw) Zaid bin Tsabit r.a. maka beliau menyampaikan (nasehat) yang serupa dari (sabda) Rasulullah saw.”. Artinya: ucapan Ubay bin Ka’ab di atas bersumber dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat kitab “’Aunul Ma’buud” [12/305]).

Semua sudah jelas. Konsep takdir yang benar bukanlah yang seperti algoritma atau fungsi f(x) dalam matematika yang mengatakan bahwa Allah menyediakan banyak jalan/jalur takdir yang salah satu jalur dapat dipilih manusia sehingga Allah tidak mengetahui jalan mana yang akan dipilih manusia. Bukan pula yang mengatakan bahwa perbuatan manusia tidak ditakdirkan atau tidak diciptakan. Itu bertentangan dengan dalil Al-Quran dan As-Sunnah.

“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (terjemahan QS Al-Qashash: 68)

Tinggal keimanan kita yang berbicara. Mau beriman? Atau tidak? 😥 Itu pilihan Anda… Namun, semua pasti ada konsekuensinya. Ingat, kita tidak pernah dipaksa. Jika kita beriman, itu sudah menjadi jalan menuju surga. Bukankah tauhid adalah tiket kita ke surga tanpa mampir ke neraka?

Ustadz Abu Yahya Purwanto dalam kajian aqidah pernah berkata kurang lebih seperti ini, “Aqidah yang lurus adalah jaminan seseorang masuk surga. Masuk surganya udah pasti, tetapi bisa jadi ia mampir ke neraka terlebih dahulu karena amalan buruknya lebih berat dibanding amal baiknya. Namun, sebaliknya, orang yang aqidahnya menyimpang sudah pasti masuk neraka walaupun belum tentu kekal di neraka karena bisa jadi masih ada keimanan dalam dirinya. Lebih baik mana? Dijamin masuk surga atau dijamin masuk neraka? Tentu lebih baik jaminan surganya diraih terlebih dahulu.”

tempat aneh

Apakah ada yang berani mengatakan bahwa Allah tidak adil? Berarti harus diperkuat keyakinannya akan adanya Allah. Adil di sini menurut siapa? Apakah layak parameter keadilan justru dari sisi manusia bukan Allah?Maka saya pun tidak heran urutan iman kepada qadha’ dan qadar diletakkan terakhir. Pasti hikmahnya adalah kita harus terlebih dahulu kuat iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, dst.

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan mereka-lah yang akan ditanyai.”  (terjemahan QS Al-Anbiyaa’: 23)

“Dan Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk, dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka, serta menyediakan neraka Jahannam bagi mereka. Dan (neraka Jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” (terjemahan QS Al-Fath: 6) 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah (bersemangatlah) untuk hal yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan merasa lemah (malas). Jika ada sesuatu menimpa dirimu, jangan ucapkan, ‘Andai saja saya melakukan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Namun ucapkanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah, apa yang Allah kehendaki, Dia pasti melakukannya.’ Sesungguhnya ucapan ‘andai saja’, akan membuka (pintu) setan.” (terjemahan HR Muslim IV/2025; dari Abu Hurairah).

 

Tingkatan Iman kepada Takdir

Dengan demikian, ada 4 tingkatan iman kepada takdir Allah yang harus kita raih:

  1. Mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala seuatu, termasuk yang akan terjadi dan amal perbuatan manusia sebelum amal tersebut dilakukan, baik secara global maupun secara rinci.
  2. Mengimani bahwa Allah telah menulis seluruh takdir bagi para makhluk-Nya di Lauhul Mahfuzh.
  3. Mengimani adanya kehendak Allah bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya dan sebaliknya, tidak akan terjadi jika Allah tidak menghendaki-Nya.
  4. Mengimani bahwa Allah Maha Pencipta segala sesuatu, termasuk amal perbuatan manusia.

 

“Ridholah pembagian yang Allah tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa cukup).” (terjemahan HR Tirmidzi 2305 & Ahmad II/ 310; hadits ini hasan)

 

Hikmahnya Apa…?

Kalau saya pribadi, ketika saya pertama kali mengetahui konsep takdir yang benar memang cukup berat di hati. Rasanya saat itu ingin menangis. 😥 Setelah saya memantapkan hati saya untuk benar-benar beriman, saya pun akhirnya menemukan banyak hikmah besar di balik konsep takdir seperti ini.

  1. Allah betul-betul Mahakuasa atas segala sesuatu
  2. Bukti kesempurnaan Islam yang ajarannya men-tauhid-kan Allah
  3. Ketika seseorang tergelincir berbuat maksiat, maka yang dia ingat adalah Hari Akhir nanti bagaimana nasibnya. Dia tidak pernah merasa aman dari adzab-Nya.
  4. Ketika seseorang berdoa, maka dia akan berdoa dengan khusyuk dan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doanya karena itu adalah janji Allah bahwa doa sebagai penolak/pengubah takdir. Begitu pula dalam setiap ikhtiarnya.
  5. Seseorang yang berhasil melakukan kebajikan atau amal shalih tidak mungkin menjadi sombong dan ujub karena semua yang terjadi sudah menjadi ketetapan Allah sebelum amalan itu terjadi. Begitu juga ketika ia melihat orang lain berbuat kesalahan, maka dia tidak mudah su’uzhan, sedangkan melihat orang yang hebat di mata manusia, ia tidak kagum berlebihan. Ia hanya ghibthah (iri) terhadap orang lain dalam mendapatkan cinta Allah dengan amalan shalihnya.
  6. Seseorang yang beriman kepada takdir Allah tidak akan dengki kepada saudaranya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s