Akhirnya Aku Memahaminya (1): Kegelisahan Akan Konsep Takdir

84kb cropped version

 

Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya menemukan kebenaran terkait konsep takdir 🙂 Dahulu, ketika saya gelisah tentang konsep takdir, saya berusaha untuk melupakan kegelisahan saya karena saya pikir konsep takdir buat apa dicari tau, yang penting saya berikhtiar sebisa saya untuk memperoleh apa yang saya inginkan. Hmm, namun kegelisahan saya makin bertambah ketika saya makin sering mendengar orang lain mengatakan konsep takdir yang mereka pahami tanpa berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah. Saya kebngungan bagaimana seharusnya sikap saya selanjutnya, mencari tau kebenaran atau diam saja cuek dengan apa pun yang dikatakan orang lain. Saya pun memilih untuk apatis saja toh yang penting saya berikhtiar sebisa saya, saya yakin Allah Mahaadil, saya yakin Allah tidak mungkin menzhalimi hamba-Nya, dan saya juga berusaha mencoba menjadikan ikhtiar saya untuk ibadah (bukan untuk memperoleh sesuatu di dunia).

Namun, kenyataannya, tidak bisa dimungkiri bahwa pemahaman masing-masing individu termasuk saya tentang takdir akan memengaruhi kehendak saya berikhtiar dan bersikap. Contohnya, tidak dimungkiri juga bahwa pada faktanya seringkali saya berikhtiar hanya untuk mendapatkan apa yang saya nginkan, bukan “hanya” untuk ibadah. Buktinya, saya sering kali kecewa atau bersedih hati ketika ikhtiar saya yang optimal tidak menghasilkan apa yang saya inginkan. ^^ saya hanya teringat pada suatu kejadian yang membuat saya benar-benar teramat sedih beberapa waktu yang lalu. Saya sempat tidak lulus Tugas Akhir.

Saya merasa keadaan saya saat mengerjakan Tugas Akhir penuh dengan kesulitan-kesulitan dibanding teman-teman saya lainnya. Di saat teman saya mudah bertemu dengan dosennya, saya sangat sulit bertemu dengan dosen saya. Belum lagi, keinginan dosen saya sulit dipenuhi. Sering kali hasil yang saya kerjakan harus diulang dan diulang sehingga progress saya jadi tidak nambah-nambah. Ah, tapi sepertinya saat itu saya memang belum siap mengerjakan Tugas Akhir ^^a Saya sungguh teramat sedih saat itu. Namun, saya menghibur diri dan berusaha untuk tidak suuzhan sama Allah bahwa ujian hidup itu merupakan salah satu tanda seorang hamba dicintai oleh Allah swt ^_^ walaupun saat itu rasanya beraaaat…sekali. Seumur-umur, baru kali itu saya tidak lulus ujian (ujian Tugas Akhir). Tugas Akhir mahasiswa jurusan Arsitektur itu memang berbeda dengan jurusan lain. Betapa pun sulitnya tugas akhir anak Arsitektur, semua deadline-nya sama, 3,5 bulan dari mulai mengerjakan Tugas Akhir. (Seharusnya, semua anak arsitektur bisa lulus (wisuda) bulan Juli tuh… Akan tetapi, karena kurikulumnya sedikit berbeda, jadinya tidak ada yang boleh lulus bulan Juli, paling cepat ya Oktober ^^) Semua mahasiswa Tugas Akhir harus menyelesaikan tugasnya di waktu yang sama. Jika tidak selesai atau ada kesalahan dalam produk tugas akhir, maka ya harus diulang. Ya memang, tugas akhir anak arsitektur sejatinya tidak mungkin bisa selesai, kecuali dengan deadline, karena jenis tugasnya adalah mendesain. Yang namanya desain, parameter maksimal “indahnya” tentu bisa tak hingga (~).

Itulah awal mulanya saya serius mencari kebenaran konsep takdir yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. (Kebetulan saat itu saya juga sedang punya masalah pribadi yang serius yang mengganggu aktivitas saya. Jadi, udahlah wahai orang yang merasa dirinya paling banyak dikasih ujian, tidak perlu mengumbar “rasa iri hati” di media publik seakan-akan dirinya lah yang paling menderita dan orang lain pasti selalu bersenang-senang/bergembira -_- Seperti yang Aa Gym selalu katakan, “Setiap orang punya episodenya masing-masing.” ^_^) Saya juga dari dulu sebenarnya penasaran dengan hadits arba’in No. 4 yang mengatakan bahwa Allah menakdirkan ajal, rezeki, amal, dan bahagia/sengsara, apakah jodoh termasuk rezeki? Kayaknya, selama ini yang saya tau ketika Allah ingin mengatakan sesuatu, pasti jelas. Jika jodoh termasuk rezeki, seharusnya ada hadits lain yang mengatakan bahwa “jodoh” itu bagian dari “rezeki”. Namun, nyatanya saya tidak pernah mendengar. Apakah itu berarti “jodoh” tidak ditakdirkan oleh Allah? Tergantung ikhtiar kita? Jika Allah katakan bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, berarti apakah ketika seorang laki-laki telah memperbaiki dirinya, maka wanita yang Allah jodohkan dengannya di “awal” juga telah memperbaiki dirinya? Atau maksudnya Allah akan menjodohkan seorang wanita yang saat itu sekufu (sederajat) dengan sang lelaki belakangan setelah sang lelaki itu siap menikah? (Uniknya saya tidak peduli apa yang dimaksud dengan “amal” dan “sengsara/bahagia” pada hadits tersebut.) Lihat, pertanyaan saya sungguh liar… -_- Liarnya pertanyaan saya ini membuat saya malu untuk mengungkapkannya kepada ustadz-ustadz. Takut jadi malah dimarahin sama ustadz-ustadz. Sedihnya begini nih kalau seorang ustadz mudah suuzhan kepada si penanya, si calon penanya jadi takut bertanya.

Pertanyaan saya sungguh banyak saat itu tentang takdir. Bahkan saya pun sempat berpikir tentang orang yang poligami dan orang yang cerai dengan pasangannya. Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah Allah menakdirkan hambanya berpasang-pasangan sejak awal? Kalau poligami kan berarti bukan berpasang-pasangan. Tapi bertigaan, berempatan, atau berlimaan. Lalu, yang cerai bagaimana? Bukankah Allah telah menakdirkan seseorang dengan pasangannya sejak awal (sejak zaman azali) tetapi kok bisa terjadi perceraian yang kemudian berganti pasangan? Apakah itu berarti takdir Allah tidak semua ditetapkan di awal?

Saya juga sempat terpikirkan tentang ikhtiar dan hasil ikhtiar. Pikiran saya yang satu ini sangat filosofis. Semoga pembaca paham yang akan saya maksudkan. Saya sempat bingung dengan apa bentuk “takdir” itu? Saya merasa aneh jika definisi takdir adalah sebuah “fenomena/kejadian” yang merupakan “hasil” dari ikhtiar/usaha. Maka, dengan gampangnya banyak orang yang merumuskan konsep takdir itu seperti cabang-cabang pohon lah, seperti algoritma lah, atau seperti suatu fungsi F(x) dalam matematika yang diproyeksikan dari “x”. Jadi maksud mereka itu begini: jika A, maka B. Jika C, maka D. Jika E, maka F. Ini mengartikan bahwa Allah menyiapkan jalan/jalur takdir bagi setiap manusia sehingga takdir yang manusia peroleh berdasarkan ikhtiar yang ia pilih. Saya pun “sempat” berpikir dan meyakini konsep seperti ini. Namun, saya tidak yakin dengan konsep seperti itu. Sungguh bermacam-macam lah orang menganalogikan konsep takdir yang intinya sama entah dari mana itu rumusan seperti itu. Ngarang-ngarang belaka, berlogika tanpa bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah, atau justru memang seperti itulah yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, jika mengaku itu seperti Al-Quran dan As-Sunnah, seharusnya bisa dibuktikan dengan dalil naqli yang qath’i.

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (terjemahan Al-Baqarah: 147)

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (terjemahan Ali Imran: 60)

Mari kita tadabburi ayat di atas 🙂 Kebenaran itu ya dari Al-Quran dan As-Sunnah, bukan semata-mata logika. Kita pun diperingatkan oleh Allah untuk jangan ragu-ragu. Apalagi soal aqidah. Makanya, dalam fiqih pun kita sebisa mungkin harus menghindari yang syubhat, bukan? :’) Saya pun ragu dengan konsep seperti itu karena tidak dikuatkan dengan dalil qath’i. Hanya logika, logika yang bebas. Selain itu, yang membuat saya ragu juga adalah karena saya punya banyak kritik terhadap konsep tersebut. Kritik saya adalah sbb.

  1. Konsep algoritma atau fungsi F(x) pada matematika melemahkan ke-Mahakuasa-an Allah karena dengan konsep tersebut berarti Allah tidak tahu apa yang akan dipilih oleh hamba-Nya. Bukankah Allah Mahatahu segalanya hingga setiap kejadian sampai Hari Kiamat, bahkan seterusnya?
  2. Jika dikatakan bahwa “mengetahui” itu berbeda dengan “menakdirkan/menetapkan”, maksudnya bahwa Allah mengetahui segala hal yang “akan” terjadi tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka konsep itu justru tidak logis. Itu berarti Allah “membuat banyak jalur/jalan takdir” yang sia-sia yang “tidak dipilih” oleh hamba-Nya karena Dia tahu bahwa hamba-Nya akan memilih salah “satu” jalur saja. Untuk apa membuat sesuatu yang tidak berguna, yakni menakdirkan sesuatu yang tidak akan dipilih hamba-Nya? Maka, Allah pasti hanya akan menakdirkan jalan takdir yang akan dipilih hamba-Nya karena Allah Maha Mengetahui apa yang akan terjadi, termasuk apa yang akan dipilih hamba-Nya.
  3. Konsep algoritma atau fungsi F (x) yang disebarluaskan itu sama saja mengatakan bahwa Allah mengubah takdir-Nya hanya karena kehendak hamba-Nya. Justru ini melemahkan ke-Mahakuasa-an Allah. Jika sampai takdir Allah berubah karena kehendak manusia, berarti takdir Allah tidak sempurna. Sama saja mereka mengatakan bahwa Allah melakukan kesalahan dalam merencanakan dan menetapkan segala sesuatu. Ingatlah, rencana manusia memang sering gagal terwujud, tetapi apakah kita pantas mengatakan bahwa rencana dan ketetapan Allah bisa gagal terwujud atau berubah di kemudian hari?
  4. Terkait “ikhtiar” dan “hasil” ikhtiar. Konsep algoritma/fungsi f(x) di atas menggambarkan bahwa yang disebut takdir adalah “hasil” ikhtiarnya, bukan ikhtiarnya. Maka, saya ajukan pertanyaan, Apa itu takdir? Apa bentuk dari suatu “hasil” ikhtiar? Apa bedanya dengan bentuk “ikhtiar”? Jika dikatakan takdir itu adalah suatu kejadian dari hasil ikhtiar, maka bukankah “ikhtiar” itu sendiri juga merupakan kejadian dari “ikhtiar sebelumnya’? ^^ Jadi, intinya seharusnya “hasil” ikhtiar tidak bisa dibedakan dengan “ikhtiar” dalam konsep takdir karena semuanya sama-sama “kejadian”. Maka, tidak akan kontradiktif tuh jika ada yang mengatakan, seperti Aa Gym, bahwa ketika ada orang lain yang zhalim kepada kita, seharusnya kita jangan marah karena itu sudah menjadi takdir Allah. Kebayang gak sih? Kezhaliman seseorang itu berupa “ikhtiar” atau “hasil” ikhtiar? Hayoo.. Gak ada bedanya kan? Semua itu berupa kejadian, termasuk setiap perbuatan kita yang telah terjadi. Itu semua kejadian yang Allah takdirkan sejak zaman azali.

 

Huff… ini baru logikanya saja… In sya Allah akan saya paparkan konsep takdir yang dilengkapi dengan dalil-dalil qath’i pada jilid 2 ^_^

(bersambung…)

Advertisements

One thought on “Akhirnya Aku Memahaminya (1): Kegelisahan Akan Konsep Takdir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s