Tidak Mengharapkan Sesuatu dari Manusia

http://www.forestwander.com

 

Aku termenung ketika mentadabburi ayat ini:

  إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا (٩)

(sambil berkata, orang-orang yang berbuat kebajikan), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah (wajah Allah), kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih dari kamu.

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (١٠)

Sungguh, kami takut akan (adzab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.”

Bacalah sekali lagi, dan tadabburilah berkali-kali, Rin…

Yang Allah sebut penghuni surga dan telah berbuat kebajikan, mereka memiliki karakter dan akhlak tertentu yang mulia. Jika dirimu benar-benar ingin masuk surga, maka teladanilah karakter para penghuni surga itu.

Sebelumnya terdapat ayat yang menjelaskan bahwa orang-orang yang berbuat kebajikan itu adalah orang-orang yang memenuhi nazarnya dan mereka takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana. Mungkin sudah banyak orang yang sudah berani tidak memenuhi nazarnya sehingga Allah memberi peringatan. Ya Allah jauhkan aku dari sifat lalai… Mereka juga takut akan Hari Kiamat. Pertanyaannya, sudahkah ada rasa takut dalam diri kita ketika diingatkan tentang Hari Kiamat? Apakah justru kita masih sempat tertawa seakan-akan Hari Kiamat adalah sebuah lelucon. Hmm, aku paham… Mungkin orang yang masih sempat tertawa (cengangas-cengenges) ketika diberitakan tentang Hari Kiamat hatinya belum khusyuk. Memang sekarang sepertinya orang-orang yang khusyuk itu sudah langka 😥 Hanya orang-orang yang beneran sholih yang hatinya khusyuk, hatinya tidak pernah lalai dari mengingat Allah.

Aku pun paham ketika di dalam suatu majlis ilmu tidak ada kekhusyukan di dalamnya, mungkin itu karena orang-orang yang berada di dalamnya bukanlah orang-orang yang bersikap dewasa, masih kekanak-kanakan. Mereka terbiasa bercanda di dalam kesehariannya dan jarang bermuhasabah. Atau bisa juga faktor tidak adanya kekhusyukan adalah sang pembicara yang menyampaikan ilmu tersebut. Memang, orang yang khusyuk itu sudah langka >_<

Lalu di ayat sebelumnya juga dijelaskan bahwa para penghuni surga itu semasa mereka di dunia terbiasa memberi (fi’il mudhari’) makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Aku pun termenung ketika itu. Selama ini kebanyakan orang senangnya memberikan hadiah kepada orang lain seadanya, bahkan seringnya dipilih barang yang sisa atau yang lebih buruk kualitasnya. Padahal kalau ingin termasuk orang-orang yang Allah puji di atas, kita seharusnya mau memberi hadiah kepada orang lain, terutama orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, berupa barang yang kita sukai, bukan barang seadanya…

Di tengah masalah yang saat itu sedang kualami, aku cukup tertampar dengan ayat yang aku kutip di atas yang telah menjadi judul tulisan ini. Orang-orang yang Allah puji itu hatinya ikhlas, tidak mengharapkan apapun, kecuali hanya ridha Allah, hanya ridha Allah. Mereka tidak mengharap balasan dan ucapan terima kasih dari manusia.

Ya, Allah… Sungguh sulit mengaplikasikan ayat itu… Ikhlas, mudah teorinya, tetapi sangat sulit praktiknya… Aku yakin bukan aku saja yang merasa ikhlas itu sulit, tetapi pasti banyak dan bisa jadi semua orang merasa ikhlas itu sulit.

Ingat, bukan sekadar “tidak mengharap balasan” ketika orang yang kita beri sesuatu “diam saja”. Ayat ini saya coba mentadabburi maksudnya pun bisa lebih dari itu, yakni ketika orang yang kita beri sesuatu bersikap “melawan” atau istilah kasarnya “neglunjak“. Artinya, sama dengan pribahasa “air susu dibalas dengan air tuba”.

Ikhlas itu ketika kita tidak mengharapkan apapun, termasuk tidak mengharapkan “untuk tidak dibalas dengan perbuatan yang buruk”. Karena jika kita masih mengharapkan untuk tidak dibalas dengan perbuatan buruk, maka kita sama saja masih mengharapkan balasan yang lebih baik dari itu 😥 Apalagi kalau kita sampai terceletuk, “Bukannya terima kasih, eh malah menghina, malah merendahkan, malah zhalim, …dst.” Nah tuh… Tersebut juga kan sesuatu yang menjadi peringatan Al-Quran… Padahal mereka para penghuni surga itu bahkan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Tidak mengharapkan apapun, kecuali ridho Allah, dan mereka takut kan adzab Allah. 😥

Wallaahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s