Andaikan Aku Anggota DPR

gedung senayan

Berkali-kali aku berpikir, kenapa ya orang-orang berebutan untuk menjadi anggota legislatif? Bahkan mereka sampai menghambur-hamburkan uang mereka sebanyak itu, bermiliar-miliar, bahkan triliunan.

Sejenak aku melayang jauh ke sana, hmm… aku tau, mungkin kebanyakan karena mereka mengincar segala fasilitas, gaji, dan tunjangan hidup yang akan mereka peroleh ketika menjadi aleg.

Benar juga ya, hidup itu terkadang terasa sulit. Masih banyak orang di sekitarku yang menganggap uang dan harta adalah segala-galanya. Aku pun jadi introspeksi diri. Apakah selama ini aku sudah betul-betul bersyukur?

Aku pun membayangkan diriku sikap seperti apa yang akan aku ambil ketika menjadi aleg?

Bagaimana sikapku terhadap gaji dan segala fasilitas yang akan aku peroleh?

Beranikah aku seperti mereka yang dahulu tidak mengambil gaji tersebut?

Namun, jika aku tidak mengambil gaji itu, aku makan apa? Sementara pasti orang yang sudah menjadi aleg tidak mungkin semudah itu sambil bekerja mencari nafkah yang lain.

Aku pun merenung. Sebenarnya, mereka pala aleg kerjanya ngapain aja sih sampai ga bisa mencari nafkah yang lain? Bukannya mereka ngomong doang ya di forum? Kok gajinya gede banget? Lihat aja nih daftar gajinya seperti di bawah ini.

hmsfakfak-gaji-dpr

Pekerjaan mereka itu gak sebanding dengan gajinya yang berkali-kali lipat dari gaji seorang guru/dosen. Gaji mereka juga berlipat-lipat dari gaji arsitek yang kerjaannya bisa sampe lembur-lembur. Gaji mereka bisa sampe 50 juta rupiah gitu loh… 50 juta dikali jumlah bulan dalam setahun, lalu dikali lagi jumlah tahun mereka menjabat. Berapa hayoo? Ya, bisa jadi ‘modal’ kampanye mereka balik lagi. Hehe istilahnya modal lah, udah kayak jual beli aja…

Nah, gimana tuh yang ga balik modal? Ow ow… jangan-jangan mereka korupsi ya???

Eits, ternyata jika mereka pensiun pun masih dapet honor.

INFOG-Pensiun

Banyak juga ya yang akan mereka dapat… Jadi sedih… Iri gak? Yaa ga usah iri lah ya. Serem juga ya kalau makan uang sebanyak itu dari uang negara tapi ga sesuai jerih payah yang dikerjakan. Hmm… Tapi… Jujur, saya merasa pemerintah tuh gak adil sama rakyatnya.

Terus, kamu mau apa Rin?

Aku jadi ngebayangin aja seandainya aku jadi anggota DPR, apa yang akan aku lakukan dengan gaji sebanyak itu?

Instrospeksi diri juga akhirnya saya ini -_-

Tebersit di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya akan nabung bikin rumah dari gaji itu. Saya akan makan lebih bergizi dari gaji itu. Saya akan pake gaji itu untuk umrah dan pergi haji. Gaji itu juga akan saya pake untuk pendidikan anak-anak saya. Dst… Waaah… kebutuhan banyak juga ya… Terus, sedekahnya dikemanain???

Padahal, kerjanya gak seberapa -_- Sepertinya kesadaran ini harus dibangun sejak awal. Begitu juga para caleg yang belum jadi aleg. Yah, susah sih wong mereka udah ngeluarin biaya kampanye banyak banget. Pasti mereka akan pake tuh semua gajinya untuk diri mereka sendiri.

Coba deh kalau negara ini sadar mulai melaksanakan Surat Al-Ma’un dengan mengalokasikan dana gaji anggota DPR sebagian kepada dana pembangunan fisik negara dan tunjangan untuk kesejahteraan rakyat miskin, pasti negara ini lebih baik.

Lalu, jika nyatanya tidak begitu, gimana? Ya berarti seharusnya para aleg sadar diri lah ya bahwa pekerjaan mereka gak sebanding dengan gaji mereka. Harusnya mereka sadar untuk tidak menggunakan gaji mereka seluruhnya.

Sungguh aku jadi teringat kisah para tokoh Masyumi dahulu. Mereka sungguh sederhana hidupnya dan mereka tidak tergoda untuk korupsi sedikit saja padahal hidup mereka susah ketika menjabat menjadi petinggi negara.

Lebih terinspirasi lagi, aku, terhadap kisah para sahabat Rasul ketika mereka menjadi gubernur. Hidup mereka bahkan terhitung fakir. Mereka sangat takut kepada Allah. Mereka sangat takut seandainya terhitung menzhalimi rakyatnya.

Kalau aku jadi anggota DPR, berarti aku gak boleh pake semua gaji itu, Rin. Kamu harus pake untuk hidupmu secukupnya. Cukup ya, gak berlebih. Gak boleh nambah baju, kalau bajunya belum rusak. Gak boleh renovasi rumah apalagi bangun rumah baru sekaligus, kalau rumah yang ada masih nyaman. Huhu kayaknya susah ya membatasi kebutuhan. Gak boleh makan terlampau banyak. Dll.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s