Serba-Serbi Tentang Golput: Golput Menyumbang Kerugian Negara?

golputx

Sebenarnya saya menulis tentang ini karena ada yang mencoba mengklaim bahwa golput memberikan dampak terhadap kerugian negara sekian banyaknya dengan data. Lalu pengolah data tersebut menyimpulkan bahwa orang yang golput lebih buruk dari pada memilih partai yang jumlah korupsinya sedikit.

http://politik.kompasiana.com/2014/02/11/demokrat-terganas-dalam-korupsi-pdip-sarang-koruptor-631197.html

Ini menggelitik logika saya. Saya melihat ada kejanggalan atau cacat dalam berlogika di sana. Awalnya saya agak sepakat dengan quote yang dikutipnya terakhir yang berbunyi,

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”. (seorang penyair jerman Bertolt Bracht)

Ya, saya cenderung sepakat dengan pernyataan di atas karena saya termasuk orang yang peduli dengan isu politik, baik politik nasional maupun politik global. Walaupun saya seorang wanita yang biasanya jarang peduli dengan isu politik, saya termasuk wanita yg agak berbeda dengan wanita lainnya. Saya peduli dengan politik karena saya mencintai Islam yang mengatur segala hal termasuk politik. Namun, saya pikir, quote di atas tidak cocok untuk mendeskripsikan golput. Politik itu seperti sunnatullah di dunia ini karena setiap suatu wilayah dan komunitas sudah pasti membutuhkan pemimpin. Dengan adanya kebutuhan pemimpin, maka bisa dipastikan akan terjadi perebutan kepemimpinan di sana. Mengapa kepemimpinan sebegitunya diperebutkan? Hal itu karena kepemimpinan akan dapat memiliki wewenang yang lebih leluasa untuk mengatur segala hal yang dipimpinnya. Apalagi, zaman sekarang kepemimpinan tersebut pun juga akan memberikan keuntungan yang besar berupa materi (gaji besar dan fasilitas yang lengkap) bagi yang bisa merebut kepemimpinan. Maka, wajarlah jika perebutan kepemimpinan atau kekuasaan itu terjadi.

Islam telah mengatur segalanya termasuk soal politik, kepemimpinan, dan kekuasaan. Maka, saya sadar betul bahwa kita tidak boleh buta dengan isu politik. Namun, saya tidak ingin merendahkan orang yang buta politik karena mereka bisa jadi telah fokus pada hal lain. Saya sebagai muslim, sangat paham keadaan nenek-nenek yang setiap harinya berjualan di pasar. Mana mungkin mereka bisa melek politik? Cari makan saja susah… Begitu juga bapak-bapak yang setiap harinya harus mengelola sampah. Belum tentu mereka memiliki TV atau gadget sehingga mereka bisa update berita. Mereka itu bahkan menurut saya lebih baik daripada orang yang mengaku dirinya pintar akan politik lalu merendahkan orang lain yang buta politik, tapi sebenarnya mereka tidak cukup bisa dianggap pintar. Aku berlindung dari sikap ujub dan ghurur…

Sekarang, saya akan menunjukkan kecacatan dalam berlogika dari pengolahan data yang terdapat dalam artikel di atas. Dikatakan di sana:

Golput Turut Mendukung Korupsi

Korupsi partai bisa kita kaitkan dengan pemilih. Sebagaimana tulisan saya terdahulu, kadang2 partai-partai besar mengatakan bahwa korupsi itu sebanding dengan partainya. Partai besar korupsi besar biasa, toh seimbang. Marilah kita uji pernyataan itu dengan membandingkan antara jumlah kerugian negara per pemilih. Tabel II menyajikan data kerugian negara per pemilih. Tentu saja analisis ini hanya mengukur kerugian negara akibat korupsi, sedangkan sumbangan politisi dalam membangun Indonesia tentu sangat besar. Namun harga yang harus dibayar untuk memilih sebuah partai bisa dihitung per kepala pemilih.

Tabel II: Peran Pemilih terhadap Korupsi

SumbanganPemilih1_zps34e5ea7a

Dari kerugian diatas terlihat, bahwa pemilih PDIP dan Golkar adalah penyumbang kerugian negara karena memilih wakil2 dari PDIP dan Golkar. Sedangkan Golput bisa dihitung berdasarkan dasar pemikiran, mereka membiarkan sistem berjalan tanpa kesertaan mereka. Abstain para Golputer ini bisa dihitung dengan ekspektasi :

E(kerugian akibat Golput) = X*p(X) dengan X adalah terpilihnya aleg. Atau lebih sederhana dengan menghitung rata2 kerugian negara dari seluruh partai.

Dari Tabel II terlihat bahwa memilih PDIP dan Golkar adalah lebih buruk dari Golput. Sedangkan Golput sendiri bisa mereduksi korupsi jika memilih partai2 yang lebih sedikit sumbangan korupsinya.

Secara Ekstrim, jika para Golputer memilih PKS maka kerugian negara akan turun secara drastis.

Lalu dilanjutkan dengan mengatakan:

Dari Tabel III terlihat bahwa Total performance bisa dikategorikan menjadi 3:

    1. Partai yang tidak direkomendasikan untuk dipilih terdiri dari 3 partai: PDIP, Golkar dan Demokrat. Bahkan ketiga partai ini lebih buruk daripada Golput. Artinya kalau ada orang Golput masih mengurangi korupsi dibandingkan jika memilih ketiga partai ini.
    2. Partai yang kurang direkomendasi untuk dipilih terdiri dari empat partai yaitu : PAN, Gerindra, PKB dan Hanura. Tingkat korupsi partai2 ini secara total performance termasuk menengah.
    3. Partai yang direkomendasi untuk dipilih terdiri dari empat partai yaitu : PBB, PPP, PKPI dan PKS. Keempat partai ini memiliki total performance paling baik.

Kecacatan itu adalah dengan menggunakan jumlah pemilih sebagai faktor penentu dampak kerugian negara yang terjadi. Ini terlalu jauh. Kita menyetujui adanya proses pengambilan kesimpulan bahwa

  1. Jika p maka q.
  2. Jika q maka r.
  3. Kesimpulan: jika p maka r.

Kaidah pengambilan kesimpulan di atas bisa digunakan jika tiap premis sudah bersih dari cacat logika dan fakta.

Sebelum kita uji pengolahan data di atas, kita bisa telaah terlebih dahulu fakta yang ada. Saya sepakat bahwa jumlah pemilih bisa menjadi penentu masuknya anggota/caleg suatu partai bisa masuk ke dalam DPR dan DPRD. Pemilih memilih seorang caleg faktanya ada banyak motif. Ada yang niatnya baik, ada juga yang niatnya buruk hanya untuk memenangkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, apapun motifnya, yang dipilih para pemilih sebenarnya bukanlah partainya, tetapi calegnya (orangnya). Yang korupsi siapa? Aleg yang terpilih atau pemilihnya? Tentu, alegnya. Berarti, pemilih menjadi faktor penentu besarnya angka tindak korupsi suatu partai yang calegnya dipilih olehnya hanya jika caleg yang dipilihnya itu adalah orang yang akan bertindak korupsi (atau suap). Berarti, jika suatu partai tidak terdapat alegnya yang menimbulkan kerugian bagi negara karena tindakan kriminalnya (korupsi dan suap), maka partai tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam jajaran partai-partai yang menimbulkan kerugian bagi negara walaupun partai tersebut ada pemilihnya. Maka, kita harus jeli, faktor penentu tersebut seharusnya menjadi pengali bagi suatu fungsi f(x)untuk menghitung total kerugian yang ditimbulkan oleh suatu partai tertentu. Maka, jika dalam partai tertentu tidak terdapat alegnya yang menimbulkan kerugian bagi negara, maka faktor pengalinya adalah 0 (nol). Berati, kesimpulannya sudah jelas, kalau yang dihitung adalah kerugian negara, tidak bisa kita hubung-hubungkan dengan jumlah pemilih karena bisa jadi ada partai yang banyak pemilihnya, tetapi partai tersebut bersih dari kasus korupsi/suap. Hal ini pula yang seharusnya kita lakukan kepada partai kecil yang pemilihnya sedikit dan jumlah kasus korupsi/suapnya nol besar. Kebayang maksud saya? ^^ Harus berhati-hati menggunakan faktor jumlah pemilih untuk menentukan dampaknya terhadap kerugian bagi negara.

Bisa saja menggunakan jumlah pemilih sebagai penentu dampak bagi kerugian negara, tetapi itu berlaku hanya pada partai yang terbukti terkena kasus korupsi/suap, bukan pada partai yang benar-benar bersih. Nah, saya ingin mencermati tabel II di atas. Di sana tertulis bahwa golput diposisikan di bawah PDIP, Golkar, dan PAN karena dasar pemikirannya yang memilih abstain. Maka diletakkanlah golput di tengah-tengah antara partai yang jumlah korupsinya besar dan partai yang jumlah korupsinya sedikit. Apakah ini benar?

Mari kita cermati! ^^

Dalam tabel tersebut, terdapat kolom kerugian negara terhadap jumlah pemilih yang ditunjukkan dengan perhitungan total kerugian negara tiap partai dibagi jumlah pemilih/suara. Semua partai yang tercantum dihitung seperti itu, kecuali golput. Ini kan aneh…!!! Perlakuan terhadap golput kok dibedakan dengan partai yang ada? Yang namanya ilmu itu harus ilmiah, sesuai fakta/eksperimen, dan bisa dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, saya menulis ini untuk menghindari pencemaran nama baik ilmu karena pada artikel tersebut mencoba menggunakan ilmu matematika, khususnya statistika.

Kita harus fair. Jika ingin meneliti tentang golput, maka perlakuannya harus sama dengan semua partai yang ada mulai dari awal penelitian. Saya paham, mungkin si pengolah data kebingungan bagaimana memosisikan golput di antara partai-partai yang ada. Pertama-tama, untuk apa golput harus diposisikan bersama dengan partai-partai yang ada? Apakah untuk menentukan boleh tidaknya golput? Menilai baik buruknya golput? Saya sebagai muslim menolak cara tersebut dengan tujuan seperti itu. Saya sebagai muslim, untuk menilai baik buruknya sesuatu haruslah dengan dalil-dalil agama. Pengolahan dalil-dalil agama pun tidak bisa lepas dari fakta dan logika. Islam itu menjunjung tinggi keilmiahan suatu ilmu dan pengolahan data. Maka, harus berhati-hati dalam mengolah data dengan menggunakan suatu cabang ilmu.

Jika kita melihat tabel di atas, golput tidak hanya diperlakukan berbeda dengan partai-partai yg ada, tetapi juga diperlakukan sama dengan partai “imajiner”–yang entah apa itu nama partainya– yang terkena tindak kasus korupsi dan suap yang menghasilkan kerugian bagi negara dengan jumlah yang cukup besar, yakni rata-rata kerugian yang disebabkan oleh partai-partai yang ada, Rp.7.513,00 -_-” Padahal mereka yang golput ga punya salah apa-apa. Bahkan sebagian mereka tidak tau dan tidak mengerti apa-pun tentang politik. Kasihan mereka.. -_-”

Saya tidak terbayang mereka para ibu-ibu yang sehari-harinya berjualan di pasar yang tidak paham apa-apa harus kena salahnya juga dan harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita negara hingga posisinya mencapai nomor 4 setelah PDIP, Golkar, dan PAN. Saya juga tidak terbayang bapak-bapak yang bekerja sehari-harinya mengelola sampah juga harus ikut bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Jujur, saya mau tertawa, tetapi hati ini lebih kuat rasa kasihannya kepada mereka yang tidak berdosa dianggap harus menanggung dosa itu -_-”

Lagi pula, pada saat pemilu, para pemilih bukan memilih serta-merta partainya, melainkan individu calegnya. Maka dari itu, terlalu jauh jika menghubungkan pemilih dengan kerugian negara. Sebenarnya yang logis itu adalah jumlah alegnya dibandingkan dengan kerugian yang disebabkan partainya.

Jika dikatakan bahwa seandainya orang yang golput dialokasikan suaranya untuk memilih partai yang jumlah korupsinya sedikit akan mengurangi angka kerugian bagi negara, itu benar. Namun, golput itu sifatnya netral. Tidak positif, juga tidak negatif. Kalau saya katakan, seandainya orang yang golput jadi memilih partai yang jumlah korupsinya tergolong besar akan menaikkan angka kerugian bagi negara, itu juga benar. Maka dari itu, jika seandainya yang terjadi adalah yang kedua, pilihan golput adalah lebih baik. Ini semua sifatnya berandai-andai. Ini karena golput sifatnya netral. Kalau mau dinilai baik-buruknya, bukan dari dampak kerugian bagi negara yang dihasilkannya. Itu tidak benar pengolahan datanyakarena faktanya yang golput tidak pernah korupsi. Kalau mau, bisa dinilai dari niatnya golput untuk apa atau bisa juga dinilai apakah sudah sesuai ajaran agamanya atau tidak.

Dalam Islam, bahkan, pada zaman kekhalifahan masih ada, tidak semua warga berhak memilih pemimpin. Pemilihan pemimpin hanya dilakukan oleh orang-orang yang berilmu atau paham. Maka dari itu, Islam sebenarnya tidak menghendaki demokrasi sebagai sistem penentuan keputusan. Hal ini karena bobot suara orang bodoh sama dengan bobot suara orang yang berilmu atau paham. Wallaahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s