Karena Kau Berbeda dengan Yang Lain :’)

kata cinta

Yang kutahu tentang dirimu sebelum pernikahan…

Pada awalnya, aku bahkan sempat merasa jengkel dengan kebiasaanmu. Tidak terpikir sama sekali kalau dirimu yg kelak akan menjadi teman hidupku.

Namun, aku yg rasa ingin tahunya sangat besar –karakter ini sudah ada sejak kecil– sangat tertarik dg tulisan2mu tempo dulu ttg Al Quran. Kau membuat beberapa tulisan ttg Al Quran hingga berseri. Apa yg kau tulis berbeda dg tulisan yg lain 🙂

Bukan ttg motivasi bertilawah atau mrnghafal Al Quran seperti artikel kebanyakan, melainkan tentang sesuatu yg menjadi pertanyaanku sejak lama dan tulisanmu mrngantarkan aku kpd jawabannya. Judulnya tentang Keotentikan Al Quran. Menarik, bukan? ^^ Siapa pun akan tertarik jika rasa ingin tahunya besar seperti saya…

Saya tipe pencari kebenaran. Saya tidak mudah didoktrin. Maka wajarlah kebodohan saya saat itu membuat saya mempertanyakan keotentikan Al Quran. Tak disangka setelah tau jawabannya, saya pun sadar bhw seakan-akan setiap ada gugatan thd Al Quran, jawabannya sudah Allah siapkan :’)

Aku melihat kemampuanmu dalam berpikir dan meneliti. Itulah yg membedakanmu dg yg lain. Kita sama2 memiliki rasa ingin tahu yg besar. Kita sama2 tidak muda percaya kepada suatu pernyataan tanpa diketahui buktinya. Kita sama2 senang meneliti sesuatu dan lucunya kita sama2 ngefans sama tokoh Conan Edogawa dalam komik Detektif Conan hihi… Mungkin itu juga yg membuat dirimu cocok dgku…

Aku tidak terbayang jika wanita seperti aku yg setiap harinya selalu mengungkapkan pertanyaan dihadapkan pd pasangan hidup yg sama sekali tidak berminat utk menjawabnya hingga tuntas. Ah tapi dirimu hampir selalu menjawab setiap ungkapan pertanyaanku hingga tuntas ^^ dan kita selalu berdiskusi setiap hari… Inilah harapanku sebelum menikah yg terwujud setelah menikah. Saya senang berdiskusi. Maka, pasangan hidup saya sudah selayaknya juga harus yg senang berdiskusi.

Soal akhlak awalnya kumeragukanmu. Orang lain dan akhwat lain jg sepertinya meragukan akhlakmu. Mungkin, itu krn dirimu bukan tipe pendiam seperti halnya beberapa ikhwan yg ada. Tapi, aku melihatnya tidak seperti itu. Ikhwan yg berakhlak baik tidak selalu pendiam. Bahkan, jika ada orang yg terlalu banyak bicara juga bisa saja berubah. Namun, aku menilai dirimu walaupun bukan seorang pendiam, dirimu in syaa Allaah berbicara yg cukup. Krn kau berbicara dg ilmu. Intinya terkait lisan, kau tergolong orang yg berhati2 dlm berkomunikasi dg org lain.

Aku tidak tahu banyak ttg isi hatimu. Apakah dirimu tipe orang yg penyabar atau pemarah? Tipe pendendam atau pemaaf? Tipe pendengki atau senang ketika orang lain memperoleh nikmat? Awalnya aku meragukan isi hatimu. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya aku melihat dirimu orangnya lurus2 saja dlm kebanyakan aktivitas yg terlihat 🙂 Bahkan kau sempat membuatku kagum. Entah mengapa Allah menunjukkannya kpdku. Padahal sepertinya teman2ku tidak melihat apa yg kulihat krn yg sangat terlihat darimu itu adalah ilmu dan wawasanmu yg di atas rata2 ^^ *excited

Puncaknya adalah saat aku bertemu dg ibumu. Kau anak laki2 yg sangat menghormati ibumu. Kau anak laki2 yg memiliki jiwa pelindung terhadap ibumu. Ini yg paling membuatku kagum :’)

Kau berbeda. Kau tidak seperti ikhwan lainnya yg hanya dominan di satu aspek kehidupan kampus. Ada ikhwan yg fokus pada hafalan quran, ada ikhwan yg fokus pada akademik, ada yg fokus pada himpunan, ada yg fokus pada lembaga dakwah, ada yg fokus menuntut ilmu agama, tapi mereka sangat kurang pada aspek selainnya. Hehe.. seperti aku ini… Walaupun tingkat satu aku fokus pada akademik dan segala aktivitas 4 unit kegiatan mahasiswa, sedangkan beramal ibadah dan menuntut ilmu agamanya sangat kurang, tetapi ternyata mulai tingkat 2 dst, justru yg terjadi adalah sebaliknya. Aku meremehkan akademik, tetapi aktivitasku terlalu banyak di luar akademik. Jujur, aku menyesalinya 😦

Namun, kau berbeda. Tidak ada teman2ku, baik senior maupun junior, yg meragukan ilmu agamamu dan wawasanmu ttg dunia. Krn ilmu yg Allah berikan kpdmu, banyak juniormu yg ikhwan nempel padamu. Mereka senang bertanya dan berdiskusi dgmu ^^a Wawasanmu pun tidak diragukan di himpunan. Mereka yg sekuler pun sering berdiskusi dgmu. Hihi… Allah memperlihatkan kelebihanmu di hadapanku. Aneh. Padahal aktivitasku selama ini berbeda tempat/wajihah saat itu. Kau benar2 fokus di prodi, kecuali aktivitasmu yg di Salman, yakni di Mata’ dan Aksara. Tuh kan… masih saja kau sempat2nya beraktivitas di Salman, padahal aktivitasmu di prodi sudah banyak 😀

Saat aku tingkat 2, aku aktif di Gamais (pusat) sbg staf Syiar dan Pelayanan Kampus serta staf Suluah Bendang di Unit Kesenian Minangkabau. Aku tidak tau banyak ttg lembaga dakwah di prodi, Garis (Keluarga Besar Islam Arsitektur) dan kondisi himpunan. Saat itu, kau menjabat di 2 tempat. Sekjen Garis dan Kadiv Unit Usaha himpunan IMA Gunadharma. Wow… sepertinya kau super sibuk… ^^ Kau pun sempat menjadi staf Internal Mata’ Salman. Jadi wajihah kita berbeda ^^

Walaupun kau sesibuk itu, tapi anehnya kau tetap bisa menyelesaikan tugas2 akademikmu dg nilai yg bagus. IPKmu setelah lulus 3,4. Menurutku itu sulit dicapai oleh orang yg sesibuk dirimu. Apalagi Arsitektur yg tugas2nya akan membuat siapa pun ‘bertapa’ di studio gak keluar2 kalau mau nilainya bagus. Namun, dirimu terlihat enjoy aja ke sana kemari haha.. Kayaknya justru itu bagian dr refreshing ya Mas… *paham… paham…* Aku saja hanya 3 IPKnya setelah dipotong 2 sks yg ga penting ^^a

Suamiku emang keren! :’)

Lanjut lagi… Aku pun penasaran dg amalan harianmu seperti apa. Dahulu aku tidak tahu apa2 dengan amalan harianmu. Hanya saja melihat tulisanmu, aku menebak kau tidak mungkin meremehkan amalan harian. Yg membuatku makin takjub adalah ternyata kau adalah penghafal Al Quran dan hafalanmu cukup banyak dibandingkan diriku yg saat itu blm sampai 1 juz… Aku dulu ga berpikir bisa dijodohkan dgmu yg aku merasa derajatmu di sisi Allah sudah jauh di atasku *sambil menerawang ke atas ^^a

Aku tidak terlalu ingin tahu amalan harianmu lebih jauh krn amalan harianku pun biasa saja.

Kau keren tapi banyak yg tidak tau kau sekeren itu 😀 Kenapa? Karena hatimu itu cenderung lurus. Kau cenderung tidak suka menonjolkan diri di hadapan orang banyak. Kau cenderung tidak punya rasa iri hati. Kau bukanlah yg ambisius akan kekuasaan. Wajarlah tidak banyak yg tau kau sekeren itu.

Jadi teringat saat di kampus pada saat sebagian aktivis dakwah mendorong beberapa aktivis dakwah lainnya utk menonjol di kabinet KM atau himpunan. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan dirimu. Namun, apa yg terjadi? Allah punya rencana lain. Buktinya kau dipercaya utk menjadi kadiv Unit Usaha IMA-G murni krn kapasitasmu dan kau berhasil memperoleh pemasukan mencapai 50juta rupiah atas izin Allah. Aku ikut senang dari kejauhan dg kesuksesanmu menjalankan amanah. Hingga kau pun sempat diminta utk menjadi menteri Kewirausahaan di kabinet, tp kau menolak 🙂 Tuh kan kau memang ga ada ambisi utk populer hihi.. Ya pasti kau punya alasan utk menolak. Begitu pula pada saat pencalonan ketua Garis. Sepertinya tidak ada yg memperhitungkan dirimu utk jd calon ketua. Tapi ketika kuesioner itu datang kpdku, aku bertanya kpd seorang teman, “Eh tadi yg baru dateng ke sini yg ngobrol sama kalian siapa namanya?” Aku pernah melihatnya di apel Mata’ Salman dan aku pernah baca notesnya di Facebook, maka aku pun hendak memasukkan namanya ke dlm jawaban kuesioner sbg jajaran calon ketua Garis. Lalu, pelan2 aku tuliskan namamu, “RIZKI.” Akhirnya kau termasuk ke dlm daftar calon ketua Garis tahap I utk diwawancara selanjutnya. Namun, ternyata namamu kandas di tengah2 tidak masuk ke Musyawarah besar ^^ karena kau menolaknya. *aku kagum kpdmu akan hatimu yg jauh dr ambisi popularitas* Namun, kau tetap dipercaya sbg sekjen Garis di saat kau menjadi salah satu kadiv di himpunan 🙂

Ada lagi yg menarik dr kisahmu selanjutnya ttg amanah jabatan organisasi. Pada saat pencalonan senator himpunan. Lagi2 kau tidak diperhitungkan. Tapi siapa sangka dr ketiga calon yg ada ternyata tidak ada yg bisa menyanggupi menerima amanah tsb. Kebetulan kau lg kosong amanah dan TAmu sudah beres. Jadilah kau ditunjuk menjadi senator 😀 seperti biasaaa, kau menerima amanah itu setelah kau sempat menolaknya berkali2. Dari sana, akhirnya kau terpaksa beraktivitas di kabinet 😀 *rasain hehe

Aku tidak pernah tertarik kpd orang yg memiliki jabatan atau posisi yg tertinggi seperti ketua BEM, misalnya, atau ketua unit kegiatan mahasiswa, atau ketua organisasi lainnya. Mereka sama sekali tidak membuatku kagum. Maksudnya, aku sama sekali tidak kagum terhadap posisi atau jabatan, yg aku kagumi adalah pemikirannya dan akhlaknya. Bisa jadi seseorang telah menjadi ketua himpunan/BEM/Unit, tapi ternyata akhlak dan pemikirannya masih kalah di hadapan Allah dg orang lain yg posisinya lebih bawah. Tapi tentu jika ada seorang pemimpin tertinggi yg akhlaknya dan pemikirannya memang benar2 bagus, itu di luar yg saya maksudkan ^^b

Suamiku, aku suka hatimu yang tidak berambisi terhadap popularitas dan kekuasaan, maka istiqomahkan ya sayang… 🙂 Istiqomah dalam menyucikan jiwa.

Yang aku kagumi pula dari dirimu, kau pun sudah mandiri lepas dari orang tua secara finansial sejak dirimu berada di tingkat 3, yaitu setelah ayahmu wafat. Wajarlah kau mampu menjalankan amanahmu di himpunan dengan baik atas izin Allah. Oleh karena itu, aku tidak meragukanmu dalam mencari nafkah setelah kita nanti berumah tangga.

Setelah pernikahan…

Aku paham bahwa setiap pernikahan akan membuka kepribadian masing-masing dari pasangan, yang baik dan yang buruk. Tentu, di sanalah yang namanya rumah tangga untuk saling melengkapi dan memahami kekurangan masing-masing 🙂 Namun, jujur aku pun banyak menemukan kelebihan-kelebihan baru dari kepribadianmu.

Sebelum pernikahan aku tidak tau banyak tentang bagaimana dirimu bersosialisasi dan bergaul. Sejak awal aku sudah melihat kemampuanmu bersosialisasi. Namun, itu bukan sekadar kemampuan yang Allah berikan kepadamu begitu saja tanpa sebab yang lain. Setelah pernikahan, aku pun sadar bahwa kau ternyata orang yang easy going. Kau tidak pernah ambil pusing masalah-masalah muamalah atau komunikasi dengan orang lain yang tidak penting. Kau orangnya santai. Kau pun ternyata suka bercanda hihi ^^ Jadi, wajarlah jika pergaulanmu cukup luas.

Setelah pernikahan pun aku membuktikan sendiri bahwa kau benar-benar orang yang hatinya bersih dari iri hati atau dengki. Kau senang memuji orang lain yang memang terlihat ada kelebihan pada mereka yang kau puji itu. Kau pun juga bukan orang yang pendendam. Kau hampir tidak pernah menunjukkan amarah atau kecewa kepada orang lain. Kau orangnya juga cenderung penyabar. Aku banyak belajar darimu karena sejujurnya aku masih belum dewasa, aku akui.

Puncaknya, aku terharu ketika aku sakit, tidak bisa banyak bergerak, kau pun rela mencuci piring dan memasak untukku. Terima kasih, sayang… Semoga kita bisa selalu saling menyokong ya… Aku bahagia kau rela memasak dengan gembira… Yang membuat aku tertawa kecil karena merasa kau itu lucu sekali ketika kau terlihat bersusah payah dengan cipratan minyak saat kau menggoreng telur… ^^a Lalu, aku pun bangkit membantumu membalikkan telur tersebut.

Sayang, semoga kau istiqomah 🙂 dan doakan aku juga istiqomah… Mari kita bertaubat sungguh-sungguh jika kita mulai menjauh dari Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s