Inilah Pemikiran Sayyid Quthb: Generasi Qurani

anak-palestina

Diambil dari buku Ma’alim fii Ath-Thaariq

Dahulu, zaman saya masih kuliah, saya pernah berdiskusi dengan seseorang tentang generasi yang tidak pernah ada lagi sekarang. Saya penasaran generasi apa itu? Ia menyebutnya dengan Generasi Qurani, yakni generasi saat Rasul dan para sahabat masih hidup. Jadilah saya dipinjami buku yang berjudul Petunjuk Jalan (terjemahan dari Ma’alim fii Ath-Thaariq).

Saat itu, saya hanya membaca sekilas saja. Ada sedikit yang saya tangkap, tetapi saya sudah bosan membacanya. Mungkin saat itu belum terlalu membutuhkan. Padahal buku itu pernah diwajibkan kepada saya untuk dibaca hehe…

Entah mengapa, saya sekarang ingin membacanya kembali dengan serius. Saya ingin tahu hingga detail kunci-kunci membentuk Generasi Qurani.

Apa yang Unik dari Mereka Para Shahabat Rasul?

Melihat fenomena zaman sekarang, sepertinya kebanyakan orang terlalu menggembar-gemborkan yang namanya tilawah dengan target sekian halaman dalam sehari. Kalau saya pribadi, menanggapi hal itu, saya senang sekali ada program-program yang memotivasi banyak orang untuk berinteraksi dengan Al-Quran. Itu sangat diperlukan untuk membiasakan diri istiqomah tilawah Al-Quran karena masih banyak sekali orang yang tidak mau menyempatkan membaca Al-Quran, bahkan aktivis sekalipun ketika mereka sudah keasyikan dengan pekerjaan dunianya. Astaghfirullaah… A’udzubillaahi min dzaalik.

Namun, sayang sekali, amat disayangkan jika interaksi terhadap Al-Quran itu hanya dibatasi pada membacanya. Saya suka sedih ketika melihat orang-orang pada berbangga diri telah menyelesaikan bacaannya sesuai target. Ya Allah, jauhkan hamba-Mu ini dari sikap seperti itu. Saya lebih sedih jika para pengelola dari sebuah program yang mengajak orang-orang membaca 1 juz per hari tersebut merasa kecewa ketika mengetahui ada membernya yang keluar grup WhatsApp. Buat apa mereka merasa kecewa? Mereka kecewa dalam rangka apa? Karena kehilangan pengikut? Padahal, menurut saya, seharusnya, orang yang sudah terbiasa membaca Al-Quran sesuai jumlah yang ditargetkan, sebaiknya justru mereka para member itu keluar saja dari grup dan memulai membiasakan beramal tanpa perlu diketahui orang lain. Jangan sampai lah kita beramal untuk memenuhi laporan kepada orang lain. Ini akan menimbulkan riya’, tidak ikhlas karena Allah. Untuk pembiasaan, silakan saja, tetapi menurut saya tidak perlu terus dilaporkan. Mulailah belajar menyembunyikan amalan.

Lagi pula, kata siapa 1 juz per hari itu wajib? Apakah sama wajibnya dengan sholat? Kan tidak. Itu hanya patokan atau standar. Lalu, kalau sudah bisa membaca Al-Quran 1 juz per hari, memang kenapa? Kenapa harus menunjukkan kebanggan kepada diri sendiri dengan melaporkan kepada orang lain bahkan khalayak ramai dengan mengatakan “saya sudah kholas sejak subuh tadi”? Semoga saja niatnya bukan karena menarik kekaguman manusia, tetapi untuk menginspirasi orang lain. Namun, jika melihat adab-adab keseharian para salafush shaalih, perbuatan tersebut sungguh jauh berbeda. Mereka justru khawatir jika segala amalannya diketahui orang lain. Mereka para orang shalih takut akan popularitas. Tapi apakah yang tidak terkenal berarti tidak mulia di sisi Allah? Kan tidak… Mereka jelas memiliki kemuliaan yang tinggi di sisi Allah karena mereka adalah generasi terbaik. Semoga Allah memberkahi buku Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabiin karena dari buku tersebut saya banyak terinspirasi. Masya Allah.

Mari kita tengok pendidikan yang Rasul berikan kepada para sahabatnya sehingga terbentuklah generasi qurani.

Saya ingin mengajukan pertanyaan, mana yang lebih shalih, kita di zaman sekarang atau para sahabat Rasul? hehe… Jelas para sahabat Rasul. Jika saya mengalami kebingungan dalam bertindak atau menyikapi sesuatu, biasanya saya langsung ingat kisah para orang shalih terdahulu. Para tabiin adalah yang paling dekat kondisinya dengan kita. Maka dari itu, patutlah kita meniru persis akhlak mereka, jika belum mampu seperti sahabat Rasul, apalagi Rasul yang ma’shum.

Kembali kepada Generasi Qurani. Ketahuilah bahwa para sahabat Rasul itu menjadikan Al-Quran bukan hanya untuk dibaca saja sebagai ibadah ritual seperti yang terlihat pada zaman sekarang. Mereka menjadikan Al-Quran benar-benar sebagai pedoman hidupnya. Nah, bagaimana dengan kita? Apa yang kita pikirkan tentang Al-Quran? Hayoo ngakuuu… hehe… Jangan pernah takut untuk mengakui kesalahan kepada diri sendiri karena itu gerbangnya perbaikan diri!

Di tengah berkuasanya peradaban lain seperti Romawi dan Persia, para sahabat tidak terpengaruh untuk mengadopsi pemikiran mereka untuk diaplikasikan untuk kemajuan peradaban Islam. Tidak! Mereka menjadikan “hanya” Al-Quran-lah untuk dijadikan petunjuk/pedoman. Mereka tidak menerima sumber yang lain selain Al-Quran seberapa pun majunya saat itu peradaban Romawi dan Persia. Sungguh berbeda dengan zaman sekarang. Orang berbangga diri sudah membaca banyak buku tentang tips-tips sukses karya orang-orang yang jelas mengingkari Al-Quran. Yah, kalau membaca buku mereka hanya untuk perbandingan sih tidak apa-apa… Namun, jika sampai berbangga diri dan meyakini bahwa cara mereka-lah yang akan menjadi jalan sukses kehidupan, ini yang sangat bertolak belakang dengan para sahabat. Ini bukan bicara soal teknologi loh ya… ^^

Sama saja halnya orang-orang yang telah merasa puas dengan menuntut ilmu tentang Al-Quran, misalnya tafsir. Padahal, yang mereka terima baru sedikit sekali dari ilmu Al-Quran yang ada, tetapi sudah merasa puas. Saya dulu ketika masih tingkat 3 kuliah memang pernah merasa bangga karena telah mendapat ilmu tafsir Al-Fatihah yang menyentuh hati dari seorang guru Al-Quran tepercaya di Bandung karena saat itu teman-teman saya tidak ada yang tertarik dengan ilmu tafsir. Tapi ternyata sekarang justru saya merasa sangat kurang dalam memahami Al-Quran. Bahkan, saya tidak berani menerima tawaran mengisi ta’lim akhwat di kampus karena saya merasa tidak berkapasitas. Pernah suatu ketika saya diminta mengisi tentang materi feminisme di acara Muslimah Gamais karena saya pernah menulis sedikit tentang pemikiran kaum feminis. Saya pun ragu apakah harus diterima atau ditolak. Saya katakan saja, “Mending undang saja Bu Dinar dari Insists. Nanti kalau Bu Dinar tidak bisa, boleh deh saya. Tapi saya hanya bisa menjelaskan dasarnya saja ya…” Lalu bagaimana selanjutnya? Alhamdulillaah Allah menolong saya, tema itu tidak jadi diangkat hehe… Saya pun terbebas. Lalu, saya pun menyimpulkan, ternyata ya makin banyak ilmu, maka seseorang makin merasa bodoh. Itu bener banget sepertinya. Berarti, orang yang merasa puas dengan ilmunya yang sekarang justru itu tanda orang yang tidak berilmu. Karena sesungguhnya ilmu Allah itu tidak ada habis-habisnya.

Melihat fenomena di atas, tentu sungguh berbeda dengan para sahabat. Mereka tidak menjadikan Al-Quran hanya untuk memenuhi otak saja, tetapi untuk segera diamalkan. Bagaimana tidak? Mereka itu memosisikan dirinya seperti prajurit yang siap menerima perintah harian dari komandannya untuk segera dilaksanakan. Jadi, Sayyid Quthb mengatakan bahwa Al-Quran itu dapat menjadi petunjuk hanya bagi orang-orang yang memiliki jiwa seperti itu, yakni perasaan ingin menerima perintah dari Allah. Beliau pun mengajak kita untuk kembali kepada Al-Quran untuk mengetahui kita diminta untuk menjadi apa sehingga kita bisa seperti itu.

Jika para sahabat mengkhatamkan bacaan Al-Quran dalam waktu yang singkat bahkan hanya dalam seminggu (setelah sepeninggal Rasul), itu wajar. Itu karena mereka sudah paham Al-Quran dan mengerti artinya. Menurut saya, ketika seseorang mengerti bahasa Arab dan telah paham Al-Quran, maka ia akan lebih mudah memperbanyak membaca Al-Quran. Bagaimana dengan kita? Sudah sejauh mana pemahaman kita terhadap isi Al-Quran? Semoga kita bisa meningkatkan terus kuantitas dan kualitas dalam berinteraksi dengan Al-Quran yaa.. ^^

Saya ingin mengutip suatu pernyataan dari sahabat yang saya ambil dari buku Mengapa Saya Menghafal Al-Quran tulisan Dr. Khalid bin Abdul Karim Al-Laahim. Ibnu Mas’ud berkata,

“Kami merasa sulit untuk menghafal lafazh Al-Quran dan mudah mengamalkannya. Sesungguhnya orang-orang setelah kami akan mudah bagi mereka untuk menghafal Al-Quran akan tetapi sulit bagi mereka untuk mengamalkannya.”

Apa yang diucapkan oleh Ibnu Mas’ud di atas patut kita renungi dalam-dalam.

koran-kalashnikov

Wallaahu a’lam.

bersambung…

Advertisements

One thought on “Inilah Pemikiran Sayyid Quthb: Generasi Qurani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s