Aku Memilihnya, Keraguan Itu Hilang (3): Semua Agama Benar?

There-is-only-one-truth

Aku sudah menceritakan pengalamanku berdiskusi dengan orang beragama lain (selain Islam). Nah, sekarang akan kuceritakan saat aku berdiskusi dengan seorang yang agnostik.

Saat aku berdiskusi dengan seorang yang agnostik, aku belum benar-benar yakin akan kebenaran Islam. Itu karena aku belum mendapat jawaban atas sekian banyak pertanyaanku. Pertanyaan yang belum terjawab adalah apa buktinya bahwa Al-Quran itu otentik dan orisinil? Otentik itu terkait dengan terjaganya Al-Quran, sedangkan orisinil itu terkait benar tidaknya bahwa Al-Quran adalah asli firman Allah.

Namun, sebenarnya yang saya diskusikan dengan teman saya tersebut bukanlah tentang keotentikan Al-Quran, melainkan tentang apa yang membuat teman saya itu berpikir bahwa semua agama itu sama. Perlu diketahui, agnostik merupakan wujud skeptisisme terhadap agama. Mereka yang menganut keyakinan agnostik meyakini adanya Tuhan, akan tetapi mereka skeptis (tidak menentukan/bersikap netral) terhadap agama. Mereka menganggap semua orang bisa memilih agamanya masing-masing, yang penting percaya adanya Tuhan. Namun, ada yang menarik dari cara berpikir teman saya yang satu ini… Saya pun berusaha menyelami alam pikirannya. Karena menurut saya, untuk mencari kebenaran dari sekian banyak pemikiran atau jika memang kita sudah yakin yang mana kebenaran itu, lalu melihat ada yang lain yang menyimpang, maka kita harus membuktikan bahwa pemikiran yang lain tersebut menyimpang dengan argumen yang logis dan dapat diterima. Sekali lagi, bukan dengan perasaan. Menilai sesuatu dengan perasaan itu sangat relatif untuk mengetahui apakah sesuatu itu benar atau justru sebaliknya salah. Nah, oleh karena itu, kita pun harus memahami kata-kata atau pesan yang ingin disampaikan oleh lawan bicara kita dengan menyelami ke alam pikirannya agar tidak terjadi miskomunikasi selama berdiskusi.

Teman saya itu mengatakan bahwa Islam itu kan datangnya terakhir, melengkapi agama-agama sebelumnya. Jadi, mana mungkin hanya Islam agama yang benar. Menurutnya pula, tidak mungkin yang namanya pelengkap itu terpisah dari sesuatu yang dilengkapi. Coba, silakan pembaca merenungi ini terlebih dahulu sebelum saya lanjutkan. Teman saya itu mulai berfilsafat, istilah kerennya lah ya… Ia menganalogikan sesuatu terhadap munculnya agama-agama di muka bumi ini.

Pendapatnya bisa jadi benar, bisa jadi salah. Karena memang benar pada umumnya sesuatu yang menjadi pelengkap itu tidak bisa dipisahkan dari yang dilengkapinya. Tapiiii, tungguu duluu ^^ Apakah analogi tersebut bisa begitu saja diterapkan pada agama? Saya baru membahas cara berpikirnya dulu ya, analoginya maksud saya, belum pada konteksnya yang ia bicarakan. Jika seseorang sudah cukup berpengalaman dalam berdiskusi tentang agama khususnya hal ini (teologi atau pemikiran Islam) atau mendengarkan kajian tentang pemikiran Islam, tentu menanggapi pernyataan teman saya itu hanya dengan tersenyum dan langsung mengetahui titik letak kesalahan cara berpikirnya.

Ia mengatakan bahwa pelengkap itu tidak bisa dipisahkan dari yang dilengkapi. Itu saya katakan benar. Tapi, tidak selalu benar. Pertama, dalam masalah agama, kita tidak bisa sembarang menggunakan analogi. Coba bayangkan, dalam agama itu ada yang memiliki otoritas dalam menentukan mana yang benar. Siapa itu? Tuhan. Lalu, bagaimana membuktikan bahwa pasti ada satu yang benar? Ya, tentu dari firman Tuhan. Hmm kalau bingung, jangan dulu membahas ke sana. Mari kita bayangkan logika yang satu ini. Jika ada yang bertanya, benda seperti apakah mobil itu? Jangan katakan bahwa mobil itu yang memiliki ban untuk bergerak/berjalan karena tidak semua yang memiliki ban bisa disebut sebagai “mobil”.  Hanya yang memiliki 4 ban (roda berban) yang bisa disebut mobil. Kalau 3 ban, biasanya disebut becak, sedangkan kalau 2 ban, biasanya disebut motor. Dapat dipahami logikanya? Jangan katakan bahwa semua agama itu benar/sama hanya dengan analogi seperti itu karena nyatanya semua tidak ada yang sama persis, bahkan bertolak belakang. Jika Tuhan mengatakan bahwa yang lengkap itu yang benar dan yang lain salah, maka ya sudah pasti kita harus ikut apa kata Tuhan, yakni yang benar adalah yang lengkap. Ini soal analogi.

Saya jadi teringat teman saya. Dia itu kocak memang orangnya. Ketika ia bertanya, “Siapa sih itu si Arif?” (misalnya). Lalu, jika saya menjawab, “Itu loh yang tinggi, putih, pake kaca mata.” Apa respon dari dia? Dia akan bilang, “Iiiih… Itu gak menjawab pertanyaan… Kan yang ciri-cirinya kayak gitu banyak…” ^^a Benar juga kata teman saya itu… Walaupun banyak orang yang memiliki ciri-ciri tersebut, tetap saja yang namanya Arif pasti punya ciri sendiri yang membedakan dari yang lain. Yang namanya Arif itu cuma satu orang hehe…

Jika dikatakan bahwa pelengkap itu tidak bisa dipisahkan dari yang dilengkapi, so what? Apakah itu cukup membuktikan bahwa yang dilengkapi menjadi “sama benar” dengan yang melengkapi (yang lengkap maksudnya)? Kan tidak. Apakah gelas yang telah diisi penuh sama dengan yang setengah penuh atau kosong? Apakah sama antara gelas berisi air teh dengan air susu? Kan berbeda… Jika dikatakan semua itu adalah “minuman”, baru benar ^^ Jadi, analogi mesti sesuai pada tempatnya. Jika dikatakan bahwa Islam, Yahudi, Kristen, Buddha, Hindu, dll adalah suatu bentuk agama yang dianut manusia di muka bumi, itu baru benar. Tapi, tentu tidak bisa dikatakan semua agama tersebut sama benar ^^

Masih bingung?

Oke, saya jelaskan lagi. Hehe… Coba diisi titik-titik di bawah ini.

3 = 2 + 1

3 … 3 + 1

5 … 5 – 2

7 … 5 + 7

Jawabannya pasti tidak ada yang menggunakan tanda = (sama dengan), bukan??? Yah, semoga contoh-contoh di atas cukup menjelaskan.

Nah, tanggapan selanjutnya yang ingin saya sampaikan tentang analogi tersebut sesuai dengan konteksnya merupakan tanggapan skak mat. Yang memiliki ilmu cukup dalam memahami Islam pasti langsung mengetahui kesalahan fatalnya. Teman saya mengatakan bahwa Islam melengkapi agama-agama sebelumnya, seperti Yahudi dan Nasrani. Ustadz-ustadz lulusan kairo dan madinah pasti dapat langsung mengetahui bahwa pernyataan tersebut SALAH BESAR! Karena faktanya Islam itu adalah agama yang murni dan lurus, tidak berasal dari agama lain, seperti Yahudi dan Nasrani. Yahudi dan Nasrani jelas disebut “kafir” dalam Islam, baik pada zaman Musa, maupun pada zaman Isa, karena agama para nabi terdahulu adalah Islam.

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kpd anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata, ) ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam (Muslim).’ “ (Terjemahan QS Al-Baqarah: 131-132)

“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri (muslimuun).’ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Terjemahan QS Ali Imran: 84-85)

Jadi, jelas terbantahkan yaa pernyataan yang mengatakan bahwa Islam itu melengkapi agama yang lain sehingga tidak bisa terpisahkan dari agama lain tersebut ^^

Agama Islam terdahulu dengan yang sekarang hanya berbeda syariatnya saja. Konsepnya tetap sama: TAUHID. Sering disebut oleh Al-Quran bahwa agama Islam yang dianut oleh para nabi terdahulu adalah agama yang hanif (lurus).

 

Paham “Semua Agama Itu Benar/Sama” Itu Tidak Logis

Saya sendiri pun terheran-heran ya, kenapa paham seperti itu bisa meraja-lela ^^a Menurut saya, pernyataan bahwa semua agama itu benar atau semua agama itu sama adalah pernyataan yang jelas ketidaklogisannya. Mereka (para penganut pluralisme) mengatakan bahwa Tuhan semua agama itu sama. Setiap orang bisa memilih jalannya masing-masing untuk mencapai ke satu tujuan. Ya, namanya juga Tuhannya sama. Wajarlah mereka mengatakan hal tersebut. Teman saya yang saya ajak diskusi (pada tulisan di atas) pun mengatakan bahwa Tuhan itu seperti memberikan petunjuk sesuai kepribadian masing-masing manusia. Jadi, yang beragama Yahudi ya memang dia layaknya begitu. Yang beragama Buddha, ya dia sudah dipilih Tuhan untuk beragama Buddha, dst…

Hati-hati!!! Jangan mudah terpengaruh pendapat mereka. Mari kita kritisi pernyataan di atas tersebut.

Mereka mengatakan Tuhan semua agama yang ada sebenarnya sama. Lalu, jika memang sama, kenapa perintahnya bertolak belakang? Yang satu mengharamkan makanan dari babi, tetapi yang lain membolehkannya. Ini kan bertolak belakang. Bukan tidak sama lagi, melainkan BERTOLAK BELAKANG. Tuhannya sama kok ngasih perintahnya bertolak belakang? Yang satu mengharamkan Khamr, yang lainnya membolehkan. Apa ini tidak bertolak belakang? Ketika terbukti minuman keras itu membahayakan, dan mereka mengatakan Tuhan semua agama sama, berati Tuhan pilih kasih? Mencegah bahaya pada satu agama, tetapi membiarkan bahaya tersebut kepada agama lain ^^; Ini bukti logis Tuhan yang diyakini BERBEDA.

Agama yang satu mewajibkan menutup aurat bagi para pemeluknya, tetapi yang lain justru tidak ada pakem-pakem seperti itu dalam berpakaian. Ini kan bertolak belakang. Apakah ini bisa dikatakan Tuhannya sama?

Yang lebih menggelikan adalah ketika Tuhan dipanggil dengan nama yang berbeda-beda ^^; Mereka kaum pluralisme berani mengatakan bahwa semua Tuhan sama sedangkan faktanya setiap agama memanggil Tuhannya berbeda-beda? Ini sungguh aneh!

Wah banyak banget ya contohnya… hehe…

Tapi ada satu contoh skak mat ^^ Konsep agama itu sendiri.

Hanya agama Islam yang memiliki konsep tauhid. Ini adalah ekspresi dari kalimat agung laa ilaaha illallaah. Berlepas diri dari segala bentuk ilaah dan menetapkan hanya Allah satu-satunya ilaah. Apa itu ilaah? Ilaah itu pengertian simpelnya adalah yang paling dicintai, yang paling ditakuti, yang segala harapan digantungkan kepadanya, yang paling berkuasa, dll, sehingga hanya Dia, Allah, yang patut diibadahi/disembah. Dalam konsep tauhid, tidak diizinkan perlakuan menyerupakan sesuatu yang lain terhadap Allah. Jadi, tidak dibenarkan seorang nabi atau rasul disejajarkan dengan Tuhan. Tidak benar pula apabila Allah disamakan bentuknya seperti manusia, apalagi hewan. Tidak dibenarkan beribadah di luar tata cara yang Allah perintahkan melalui Rasul-Nya. Bahkan, walaupun menyembah Allah, tetapi menyembah yang lain juga, ini pun sudah di luar konsep tauhid. Itu namanya syirik.

Bangsa Arab pun ketika diperintah Rasul untuk mengikrarkan laa ilaaha illallaah, maka mereka tau betul apa konsekuensinya. Ya itu karena memang kata ilaah itu didefinisikan bisa sangat luas, tidak sebatas hanya obyek sesembahan saja, seperti yang dilakukan mereka kepada berhala. Berhala mereka memerintahkan mereka apa sih? Berhala mereka tidak mungkin memerintahkan macam-macam karena berhala mereka tidak hidup, tidak bisa bicara, apalagi menciptakan langit dan bumi! Sedangkan, Allah Maha Hidup dan tidak pernah tidur. Allah Maha Menciptakan. Allah Pemberi Rezeki. Inilah tauhid! Allah Maha Segala-Galanya…

Nah, bandingkan dengan agama lain? Sungguh jauh berbeda dan sangat jelas konsep agama lain bertentangan atau bertolak-belakang dengan konsep tauhid ini. Jadi, sangat jelas ketidaklogisan dari pernyataan bahwa Tuhan semua agama itu sama.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Advertisements

7 thoughts on “Aku Memilihnya, Keraguan Itu Hilang (3): Semua Agama Benar?

  1. Halo Rina 🙂
    Aku nulis komentar di sini boleh yaa.. Menurutku Rin, ya sah-sah saja kamu melakukan apapun dalam pencarianmu, untuk menghilangkan keraguanmu (seperti judul tulisan ini). Sah juga untuk menulis dan mem-publish tulisanmu seperti ini. Tapiii, hati-hati Rin saat kamu nulis di media sosial yang bisa dibaca oleh semua orang seperti ini. Kamu salah tulis sedikit aja, orang lain bisa salah ngerti dan bisa tersinggung. Tulisanmu yang terkait dengan kepercayaan lain pun belum tentu sepenuhnya benar, karena kamu kan nggak pernah mempelajarinya secara intensif, hanya berdasarkan tanya jawab dengan seseorang yang juga belum tentu benar-benar memahami apa yang dianutnya. Lebih hati-hati aja Rin. Keep writing anyway, and thaks for sharing 🙂

  2. Halo juga riri… 🙂
    Aku menerima diskusi terbuka kok… mangga…

    Seperti halnya yg sering ada di luar negeri. Di luar sana juga malah membuat program debat terbuka ttg perbandingan agama.

    Jika aku ada salah tulis ttg agama selain Islam, mangga aku diberi tahu… Aku jg akan ngecek lagi. Di rumahku udah ada beberapa buku perbandingan agama. Di sini diskusi santai aja dan tidak ada pemaksaan dlm beragama.

    Klo di luar sana, budayanya saling membagi tulisannya masing2. Aku akan senang sekali jika bisa membaca tulisan non-Islam yg membantah Islam.

    • Terima kasih sudah dipersilakan, tapi aku nggak berniat diskusi Rin, apalagi yang kamu sebut dengan “debat terbuka ttg perbandingan agama”. Agama itu buatku sakral, ajaran agama itu sepantasnya diimani, dihayati, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati, bukannya diperdebatkan. Dan aku juga sama sekali nggak ada keinginan buat membantah Islam Rin, sama sekali enggak. Aku cuma mau kasih masukan, kamu lebih hati-hati aja dalam menulis dan memilih kata-kata, karena topikmu ini sensitif banget Rin. Dibedakan aja, mana yang fakta (dan disebutkan dari mana sumbernya), mana yang opini pribadi. Gitu aja Rin, semoga bisa lebih bagus lagi nanti tulisan-tulisan selanjutnya ^^

  3. Aku juga udah pernah nonton video debat antara Dr. Zakir Naik dan seorang Pastur yg juga bisa bahasa Arab. Ini menarik.

    Aku juga pernah nonton Dr. Zakir Naik debat terbuka dg Dr. William Campbell seorang ahli sains.

    Di rumah aku ada buku mantan suster Irena Handono dan buku karya Ahmed Deedat.

  4. hoo sip2…

    Ekspresi sakralku adalah salah satunya dg menunjukkan bhw agama yg kupegang ini yg benar ri… 🙂

    salah satu ekspresinya aja… Aku in syaa Allaah masih tetap sholat dll.

    toh yg mengadakan debat terbuka di luar sana bukan orang2 yg awam beragama. Mereka justru adalah tokoh dan pakar agamanya masing2. Berarti ga ada yg salah dg debat terbuka.

    Dan maksudku dg ngajak diskusi itu sama siapa pun ri… sama yg lainnya juga selain riri klo ada yg mau kasih tau di mana aku salah nulisnya. Ini hanya ajang riset bg para pencari kebenaran. ^^

  5. Kalau anda mengatakan bahwa islam adalah benar dan kalau anda sungguh ingin mencari kebenaran, coba anda bantah tuduhan di salah satu situs yang menuduh islam adalah salah, situsnya “www.faith freedom forum indoenesia”, di situ anda bisa berdiskusi dengan akal sehat tanpa caci maki, dan diskusi semuanya bersumber dari islam sendiri yaitu quran, hadis(buhkari, muslim, sunan dawud) dan sirah nabi (ibn hisyam/ibn isyaq) dan tafsir (tabari) semuanya sumber yang sahih dan lengkap.. coba datangi situs tsb, hitung2 untuk memcoba imanmu dan pengetahuanmu ttg islam, jangan apriori dulu bahwa situs itu anti islam, justru sbg pencari kebenaran yang asli, anda wajib menghadapi tantangan dari segala sisi.
    wasallam.
    NB : kalau sulit masuk situs tsb karna di blok, pakai anti blokir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s