Konsep Bahagia

senyum-bahagia

 

Tulisan ini merupakan kesimpulan dari data-data yang selama ini saya cari dan saya amati. Tulisan ini juga merupakan rumus apa yang disebut bahagia. Saking saya begitu ingin memperoleh konsep kebahagiaan, saya selalu memasang telinga dengan cermat setiap ada ustadz/ulama yang bicara tentang kebahagiaan. Mulai dari Syed Naquib Al-Attas, ustadz Darlis Fajar, Aa Gym, dan ustadz-ustadz yang lain. Saat ini pun, pencarian tersebut masih belum selesai. Namun, saya ingin berbagi suatu hikmah yang Allah berikan kepada saya. Bukankah yang selama ini dicari-cari oleh semua orang adalah kebahagiaan? Sampai orang rela mengorbankan energinya untuk menggapai apa yang namanya kebahagiaan. Itulah urgensinya kita mengetahui hakikat bahagia 🙂

Apa itu kebahagiaan? Sudah dikatakan, setiap orang pasti mencari kebahagiaan di dunia. Kebanyakan telah merasa bahagia ketika segala keinginannya terpenuhi.

 

Fenomena yang Ada

Ketika kita melihat fenomena yang ada, betapa banyak orang yang tidak bahagia atau bersedih hati hanya karena, misalnya, kehabisan tiket konser Suju ataupun Justin Bieber (meniru perkataan ustadz Ihsan Tandjung). Ada pula yang sampai tergelincir berzina untuk memuaskan keinginannya. Atau ada juga orang yang rela berkorban menghabiskan sekian banyak hartanya agar bisa makan enak di restoran tertentu. Inikah parameter kebahagiaan? Bahagia ketika segala keinginan (hawa nafsu) terpenuhi?

Jika parameter kebahagiaan adalah dengan memuaskan hawa nafsu, tentu seseorang tidak akan bahagia atau bersedih hati jika hawa nafsunya tidak bisa terpenuhi. Sepakat? Jika sudah begitu, apakah ia akan menderita? Ya, menderita.

Ini contoh yang mudah. Tahukah kamu, apa yang biasanya dialami oleh wanita hamil? Mereka biasanya mengidam sesuatu. Jika keinginannya tidak terpenuhi, maka ibu hamil tersebut merasa menderita. Maka biasanya sang suami rela berkorban untuk memenuhi keinganan istrinya yang sedang hamil tersebut. Namun, jangan samakan kondisi di luar kehamilan dengan kasus kehamilan ini. Kasus kehamilan masih bisa dimaklumi karena itu sudah sunnatullah bagi beberapa wanita hamil. Namun, bukan berarti dengan kehamilan tersebut menjamin pasti dapat terpenuhi keinginannya. Di sini ada mental yang harus dipersiapkan oleh setiap wanita jika keinginannya selama mengidam tidak terpenuhi.

Bahkan ada yang lebih sederhana lagi. Ada seseorang yang begitu kuat keinginannya untuk makan mie instan, misalnya, padahal baru saja kemarin ia makan makanan tersebut. Jika ia tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka ia tidak ragu lagi segera membelinya kemudian memasaknya untuk ia makan. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa mie instan itu berbahaya jika terlalu sering dikonsumsi.

Yang bahaya, jika hawa nafsu itu membawa seseorang kepada dosa, seperti berzina, makan makanan haram, melihat gambar porno, bertabarruj di depan laki-laki nonmahram, memamerkan amalan agar mendapat popularitas atau pujian, dan lain-lain. Ia akan melakukan segala cara agar ia merasa bahagia, yakni dengan memenuhi hawa nafsunya tersebut.

Pertanyaan yang muncul lagi, bagaimana jika hawa nafsunya tersebut tidak bisa terpenuhi? Bukankah derita yang akan diperoleh?

Ya, ia akan menderita. Inilah yang namanya kebahagiaan semu. Bahagia ketika hawa nafsu dipuaskan adalah bahagia yang bersifat sementara dan membuat hawa nafsu menagih terus ingin dipuaskan. Tiada berhenti sehingga pada hakikatnya hawa nafsu tidak akan pernah bisa dipuaskan. Lalu, kapan dong benar-benar bahagianya?

Padahal kalau kita sadari lagi, semua itu tidak dibawa mati dan tidak membuat seseorang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah. Semua itu akan binasa.  Perlu diketahui juga, seseorang tidak akan pernah bisa merasa bahagia, kecuali Allah sendiri yang menurunkan kebahagiaan itu pada diri hamba-Nya karena bahagia itu letaknya di hati. Tidak jauh-jauh, bahagia itu letaknya di HATI. Orang yg menjadikan “pemuasan hawa nafsu” sebagai parameter kebahagiaan, pasti akan menderita ketika Allah mulai memberinya ujian kehidupan. Apakah itu bahagia namanya? Menderita jelas bukan bahagia.

 

Kebahagiaan Hakiki

Tahukah apa itu kebahagiaan yang hakiki? Kebahagiaan hakiki itu tidak mengenal waktu dan kondisi. Bagi saya, seseorang baru benar-benar bahagia ketika ia bisa tegar dalam ujian hidup atau musibah sekalipun. Apa kuncinya? Kuncinya adalah “dekat dengan Allah” Sang Penguasa Hati. Orang yang paling bahagia di dunia adalah orang yang paling dekat dengan Allah. Allah Mahakuasa memasukkan kebahagiaan kepada hati hamba-Nya jika Dia menghendaki, misalnya dengan membuat hamba-Nya merasakan manisnya iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya, niscaya akan merasakan manisnya iman, (yaitu)

  • Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya,
  • dia mencintai orang lain, tidak lain, disebabkan cinta karena Allah,
  • dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” 

(terjemahan HR Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)

Sebagian salafush shalih berkata, “Sesungguhnya orang-orang miskin dari ahli dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia, namun belum merasakan apa yang terlezat di dunia.” Ditanya, “Kenikmatan apakah yang paling lezat di dunia?” Dijawab, “Kecintaan kepada Allah, mengenal-Nya dan mengingat-Nya.”

Bagaimana tidak? Di saat ia diberi pilihan hidup, ia memilih mana yang lebih disukai Allah, bukan memilih yang lebih diinginkannya untuk memenuhi hawa nafsunya yang bisa jadi tidak ada ujungnya. Ketika seseorang sudah bisa memilih mana yang lebih disukai Allah, walaupun bertentangan dg hawa nafsunya, berarti dia telah mampu mengendalikan hawa nafsunya itu (selamat dari dorongan hawa nafsu yang menyempitkan dada) dan jaminannya tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga bahagia di akhirat. Inilah kebahagiaan hakiki.

“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha/rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya dan islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai Rasulnya.” (terjemahan HR Muslim)

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, ‘Barangsiapa yang mengucapkan Radhiitu billaahi rabban wa bil Islaami diinan wa bimuhammadin rasuulan (Aku ridha/rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Rasulku) maka surga baginya.’ ”

(Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (6/36), ‘Abd bin Humaid dalam al-Musnad (hal 308), Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 1529, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra (7/9), Ibnu Hiban dalam Shahih Ibnu Hibban (3/144), al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/699) dan beliau berkata:” (Ini) Hadits shahih sanadnya, namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”)

Ammar bin Yasir r.a., salah seorang sahabat peraih janji surga berkata, “Tiga hal yang jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: berinfak di masa sempit, bertindak adil kepada manusia, dan menebarkan salam kepada manusia.” (Riwayat Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 19439 dari Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Shilah bin Zufar, dari Ammar bin Yasir r.a.)


Abdullah bin Mas’ud al-Hudzali r.a. berkata, “Tiga hal yang jika itu ada pada seseorang, niscaya ia akan meraih manisnya iman: meninggalkan perdebatan dalam keadaan ia benar, meninggalkan dusta meskipun dalam gurauan, serta ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan pasti tidak akan luput darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpanya.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Kabir [9/157 no. 8790] dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf no. 20082)

Hidupnya sakinah penuh ketenangan dalam kondisi apa pun karena dia “yakin” bahwa semua sudah ada yang mengatur, semua yang terjadi merupakan takdir Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Baginya, yang penting adalah terus mencari ridho Allah, itulah yang membuat hidupnya selalu tenang karena hanya ridho dan rahmat Allah saja yang akan membawanya pada kebahagiaan yang abadi, yaitu  di akhirat. Ia pun sadar betul bahwa dunia ini hanya mampir sebentar saja. Ini baru bahagia.

Sahabat Ubadah bin ash-Shamit r.a. pernah berwasiat kepada putranya, “Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakikat iman hingga engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan oleh Allah akan menimpamu, tidak akan luput darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu, tidak mungkin mengenai dirimu. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya, yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Wahai Rabbku, apa yang aku tulis?’ Allah l berfirman, ‘Tulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga tegak hari kiamat’.” Wahai anakku, sungguh aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa mati tidak di atas keimanan kepada takdir, ia bukan dari golonganku.’ ” (terjemahan HR Sunan Abu Dawud no. 4078, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Terwujudnya takdir Allah adalah sebuah kepastian (pasti terjadi). Lalu, mana yang harus mengalah? Hawa nafsu atau takdir Allah? Tentu jawabannya adalah hawa nafsu.

Bicara soal mimpi atau angan-angan. Terkadang sering didengar banyak orang yang berambisi mengejar target-target dunia, misalnya seperti ingin kaya raya, ingin punya usaha bisnis tertentu, atau ingin menjadi pengusaha sukses, ingin kuliah S2 atau S3 di negara tertentu, ingin menjadi presiden atau jabatan tertentu, dll. Pertanyaannya, untuk apa semua itu? Di sini kita harus peka dengan niat dan tujuan kita mengejar target tersebut. Apa yang sebenarnya dikejar? Prestasi apa? Prestasi di mata manusia atau di sisi Allah? Kita harus peka betul. Apa yang dikejar? Ridho Allah atau sekadar memperoleh popularitas? Untuk apa? Buat gaya-gayaan,  mengisi waktu luang, atau untuk berkontribusi dalam membangun peradaban Islam? Mari kita renungi.

Mengeceknya mudah. Apa yang akan kita rasakan jika semua target-target tersbut tidak terpenuhi? Kecewa? Ini berarti tanda niatnya tidak benar, tidak ikhlas. Sedih? Gelisah? Gelisahlah karena kita menjadi manusia yang kurang bermanfaaat bagi orang-orang sekitar, bukan gelisah karena hanya sekadar target kita tidak tercapai. Namun, di sini pun kita juga harus cermat. Apakah jika kita bisa memperoleh semua target-target dunia kita, kita bisa mengklaim diri sudah menjadi manusia yang bermanfaat (baca: hebat)? Hati-hati dengan ujub. Maka jika sudah muncul ujub, berarti itu juga tanda niatnya udah gak beres.

Bagaimana jika semua target itu tidak terpenuhi? Menderita? Maka, mari diubah mindsetnya tentang bahagia. Bahagia adalah apa yang kita rasakan ketika bisa dekat dengan Allah di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun kondisi kita, baik kita di kala lapang maupun sempit.

“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.” (terjemahan HR Muslim dari Abu Hurairah)

Hati-hati juga dengan merasa aman dari hawa nafsu di kala lapang. Mungkin ada kalanya kita merasa senang jika fasilitas yang dapat kita gunakan itu lengkap, atau kita senang memperoleh kado/hadiah, atau merasa senang dengan pujian orang lain. Berhati-hatilah dengan hawa nafsu. Generasi tabi’in bukanlah orang-orang yang lalai dari waspada akan hawa nafsu walaupun saat itu sedang lapang.

“Bahagia itu ketika seseorang dekat dengan Allah.”

Advertisements

One thought on “Konsep Bahagia

  1. Pingback: Tantangan Keistiqomahan | My Ideas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s