Jamaah Ideal

tali

Saya tidak berbicara tentang al-Jamaah. Saya juga tidak berbicara soal syarat sebuah jamaah. Saya hanya akan mengutarakan seperti apa jamaah ideal di mata saya, sangat subyektif memang. Karena saya tidak hafal dalil-dalil, maka saya hanya akan menuliskannya secara mengalir saja. ๐Ÿ™‚

Bagi saya jamaah yang ideal itu…

Ups, hampir lupa… Bagaimana hukum memasuki salah satu kelompok yang sudah ada? Bolehkah membentuk kelompok baru? Apa definisi jamaah?

Sejak dua tahun lalu saya memulai pencarian. Saya mulai penasaran dengan semua kelompok yang ada. Sebelumnya saya hanya mengetahui keberadaannya, tetapi tidak memedulikannya. Yang saya tau saat itu, saya hanya harus memenuhi kebutuhan akal saya yang selalu ingin tahu, ruhiyah saya yang selalu ingin disejukkan, dan fisik saya yang selalu ingin bugar. (?) Yang saya tau juga, sebelumnya saya mengira bahwa metode yang diterapkan setiap kelompok sama saja dan tidak ada pertentangan. Jadilah saya membaca majalah sabili, tarbawi, As-Sunnah, Al-Furqon, Tabloid Media Ummat, dan Buletin Al-Islam “sekaligus” tanpa merasa bersalah. hehe

Lama-lama saya pun menyadari ada perbedaan di antara konten-konten di setiap majalah tersebut. Perbedaan yang mendasar. Tapi tidak terlalu saya hiraukan.

Tiba-tiba heboh karena muncul kembali kelompok yang dianggap sesat. Saya pun penasaran dengan kelompok tersebut di mana kesesatannya. Banyak artikel dan majalah yang membahas tentang kelompok tersebut. Mulailah saya mengkaji satu-persatu kelompok yang ada. Terlebih lagi saat itu saya sedang gencar-gencarnya mempertanyakan hal-hal aneh di mata saya tentang suatu kelompok yang saya sendiri berada di bagian kulitnya. Diskusi pun saya lakukan langsung tatap muka dengan orang-orang tertentu dengan berbeda kelompok.

Akhirnya, saya pun punya kesimpulan sebagai berikut.

1. Ternyata salah dengan mengatakan bahwa hukumnya wajib masuk ke dalam salah satu jamaah yang ada. Kenapa salah? Karena yang wajib itu berdakwah, bukan ber’jamaah’. Berdakwah kan harus berjamaah? Iya, berdakwah bersama-sama tidak harus masuk ke dalam salah satu jamaah yang ada. Apalagi jika tidak ditemukan kelompok jamaah yang ideal yang diharapkan. Rasul sudah bilang bahwa yang terpenting adalah memegang pedoman kuat-kuat, Al-Quran dan As-Sunnah, walaupun sendirian.

Kalau saya sekarang lebih suka masuk ke mana-mana yang saya anggap masih mengikuti sunnah dan saya tetap banyak temannya ^^ tidak hanya teman, saya pun memperoleh tambahan wawasan dan ilmu. Karena yang wajib itu, masuk ke dalam al-Jamaah, bukan kelompok yang sekarang biasa disebut dengan jamaah. Al-Jamaah itu adalah Jamaatul Muslimin, yang terdapat dalam suatu daulah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Dan sekarang? Belum tegak (kembali) khilafah setelah runtuhnya khilafah terakhir di Turki. Dan ini sudah menjadi rencana Allah.

Namun, masih ada saja yang kukuh mengatakan harus memilih salah satu jamaah minal muslimin yang ada. Huff… Pertanyaannya, bagaimana jika jamaah yang ada tersebut tidak ada yang seideal yang saya inginkan? Dakwah harus berjamaah, itu betul. Namun, berjamaah kan bisa ikut salah satu organisasi yang ada. Yang penting ada teman-teman yang saling tolong-menolong dalam dakwah. Tidakkah cukup hadits di bawah ini???

Berikut adalah haditsnya.

Hudzaifahย radhiallahu โ€˜anhuย berkata,

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ุดูŽู‘ุฑูู‘ ู…ูŽุฎูŽุงููŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฏู’ุฑููƒูŽู†ููŠ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ุง ูƒูู†ูŽู‘ุง ูููŠ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠูŽู‘ุฉู ูˆูŽุดูŽุฑูู‘ ููŽุฌูŽุงุกูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู‡ูŽู„ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ู‚ูู„ู’ุชู ูˆูŽู‡ูŽู„ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฑูู‘ ู…ูู†ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ูˆูŽูููŠู‡ู ุฏูŽุฎูŽู†ูŒ ู‚ูู„ู’ุชู ูˆูŽู…ูŽุง ุฏูŽุฎูŽู†ูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ูŠูŽู‡ู’ุฏููˆู†ูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู‡ูŽุฏู’ูŠููŠ ุชูŽุนู’ุฑููู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูู†ู’ูƒูุฑู ู‚ูู„ู’ุชู ููŽู‡ูŽู„ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุฏูุนูŽุงุฉูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุฌูŽู‡ูŽู†ูŽู‘ู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฌูŽุงุจูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุฐูŽูููˆู‡ู ูููŠู‡ูŽุง ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตููู’ู‡ูู…ู’ ู„ูŽู†ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฌูู„ู’ุฏูŽุชูู†ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ูŽู‘ู…ููˆู†ูŽ ุจูุฃูŽู„ู’ุณูู†ูŽุชูู†ูŽุง ู‚ูู„ู’ุชู ููŽู…ูŽุง ุชูŽุฃู’ู…ูุฑูู†ููŠ ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒูŽู†ููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽู„ู’ุฒูŽู…ู ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุฅูู…ูŽุงู…ูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูู„ู’ุชู ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูู…ูŽุงู…ูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงุนู’ุชูŽุฒูู„ู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ููุฑูŽู‚ูŽ ูƒูู„ูŽู‘ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุนูŽุถูŽู‘ ุจูุฃูŽุตู’ู„ู ุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุฏู’ุฑููƒูŽูƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ

โ€œOrang-orang bertanya kepada Rasulullahย shallallah โ€˜alaihi wasallamย tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan, karena khawatir akan menimpaku. Aku berkata, โ€œWahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam jahiliyah dan keburukan, maka Allah memberikan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?

Beliau menjawab, โ€œIya, ada.โ€

Aku berkata, โ€œApakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?โ€

Beliau menjawab, โ€œAda, namun padanya ada kotoran.โ€

Aku berkata, โ€œApa kotorannya?โ€

Beliau menjawab, โ€œYaitu suatu kaum mengambil petunjuk selain petunjukku, engkau kenali diantara mereka dan engkau mengingkarinya.โ€

Aku berkata, โ€œApakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?โ€

Beliau menjawab, โ€œIya, yaitu akan ada para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, siapa yang mengikutinya akan dilemparkan ke dalamnya.โ€

Aku berkata, โ€œWahai Rasulullah, sifatkan mereka kepada kami?โ€

Beliau menjawab, โ€œMereka dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (umat Islam pen.).โ€

Aku berkata, โ€œApakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa tersebut ?โ€

Beliau menjawab, โ€œBerpeganglah kepada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.โ€

Aku berkata, โ€œBila tidak ada jamaah dan imam?โ€

Beliau menjawab, โ€œTinggalkan semua firqah walaupun engkau harus menggigit akar pohon lalu kematian mendatangimu dalam keadaan engkau menggigitnya.โ€ (Bukhari no 7084 dan Muslim 3:1475 no 1847)

Dan dalam riwayat Muslim[2], Nabiย shallallah โ€˜alaihi wasallamย bersabda,

ูŠูŽูƒููˆู†ู ุจูŽุนู’ุฏููŠ ุฃูŽุฆูู…ูŽู‘ุฉูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽู‡ู’ุชูŽุฏููˆู†ูŽ ุจูู‡ูุฏูŽุงูŠูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ูู‘ูˆู†ูŽ ุจูุณูู†ูŽู‘ุชููŠ ูˆูŽุณูŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ุดูŽู‘ูŠูŽุงุทููŠู†ู ูููŠ ุฌูุซู’ู…ูŽุงู†ู ุฅูู†ู’ุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุฃูŽุตู’ู†ูŽุนู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽุณู’ู…ูŽุนู ูˆูŽุชูุทููŠุนู ู„ูู„ู’ุฃูŽู…ููŠุฑู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุถูุฑูุจูŽ ุธูŽู‡ู’ุฑููƒูŽ ูˆูŽุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุงุณู’ู…ูŽุนู’ ูˆูŽุฃูŽุทูุนู’

โ€œAkan ada setelahku para pemimpin yang mengambil petunjuk selain petunjukku dan mengambil sunah selain sunahku, dan akan ada pada mereka orang-orang yang hatinya hati setan dalam tubuh manusia.โ€

Hudzaifah berkata, โ€œApa yang harus saya lakukan wahai Rasulullah jika aku mendapati masa itu?โ€

Beliau menjawab, โ€œDengar dan taat (dalam kebaikan) kepada pemimpin walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil tetaplah engkau mendengar dan taat.โ€

Yang dimaksud dengan jamaah dan imam di sana bukanlah pemimpin dari jamaah-jamaah yang ada sekarang. Abu Bakar Al Khallal berkata, โ€œTelah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Abi Harun bahwa Ishaq bin Ibrahim bin Hani menceritakan bahwa Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) ditanya tentang hadis Nabiย shallallah โ€˜alaihi wasallam:

ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูู…ูŽุงู…ูŒ ุŒ ู…ูŽุงุชูŽ ู…ููŠุชูŽุฉูŽ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠูŽู‘ุฉู.

โ€œBarangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mempunyai (membaiโ€™at) imam, maka ia mati bangkai jahiliyah.โ€œ

Dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalamย Dzilalul Jannahย no 1057. Dan hadis ini mempunyai asal dalam shahih Muslim dengan lafadz:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุนูู†ูู‚ูู‡ู ุจูŽูŠู’ุนูŽุฉูŒ ู…ูŽุงุชูŽ ู…ููŠุชูŽุฉู‹ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠูŽู‘ุฉู‹

โ€œBarang siapa yang mati dalam keadaan tidak berbaiat maka ia mati bangkai jahiliyah.โ€

Abu Abdillah berkata, โ€œTahukah engkau apakah imam itu? Imam adalah yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin. Semuanya mengatakan bahwa ia adalah imam, inilah maknanya.โ€ (Al Khallal,ย Assunnah,ย 1:81 tahqiq Dr โ€˜Athiyah Az Zahrani)

Yang saya bayangkan, jika saya memilih untuk memilih salah satu jamaah dan loyal di sana sehingga saya tidak punya waktu ikut pembinaan yang lain, maka saya pikir saya akan RUGI. Terlebih lagi jika ada kegiatan di dalamnyayang tidak sejalan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, misalnya seperti kampanye mengadakan konser dangdutan, atau yang lainnya. Menurut saya, seperti telah lepas dari prinsip saja orang yang mau mengikuti “semua” aktivitas yang ada di dalam kelompoknya tanpa penyaringan. Selain itu, banyak ilmu, teman, dan inspirasi di luar sana yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Sungguh rugi orang yang terlalu berdiam diri (bergerak maksudnya hehe..) hanya pada satu jamaah saja.

2. Jika kelompok-kelompok tersebut dikatakan sebagai jamaah, maka sebenarnya organisasi-organisasi yang ada pun bisa disebut sebagai jamaah, tanpa kita sadari. Contoh: jamaah gARis, jamaah Gamais, jamaah INSIST, jamaah PPSDMS, jamaah Pecinta Al-Quran, dll. Tergantung sudut pandang toh?

3. Membentuk jamaah baru? Boleh dong… Membentuk jamaah baru bagi saya sama dengan membentuk organisasi baru. hehe… Yang penting satu visi dan pemikiran.

4. Dulu saya dapat pendoktrinan bahwa ikut halaqah harus satu aja. ^^ Ini pernyataan paling aneh yang pernah saya dengar. Padahal, ulama zaman dahulu, gurunya banyak banget. Wah senang kayaknya jika menonton langsung kisah para ulama menuntut ilmu. Jadi, pernyataan halaqah satu aja itu “tidak ada dasarnya”. Kecuali, pernyataan itu maksudnya memang baik yang statusnya hanya sebagai “masukan” atau “nasihat”, bukan “keharusan” agar lebih bisa mengatur waktu dengan baik. ^^ Justru, saya khawatir orang-orang yang hanya belajar di satu tempat, dia akan terus terdoktrin tanpa mengetahui perbedaan di luar sana sehingga itu akan menyempitkan pemikirannya.

5. Berbeda kelompok belum tentu berbeda visi. Bahkan saya yakin, kelompok jamaah yang benar-benar ahlus sunnah akan memiliki visi yang sama walaupun metodenya berbeda. Nah, mereka yang senantiasa ikhlas berdakwah dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pegangannya, pasti suatu saat Allah satukan sehingga khilafah pun tegak kembali.

Jamaah ideal? Jujur saja saya belum menemukannya. Karena bagi saya, jamaah yang ideal di mata saya itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (eh bukan berarti saya mengatakan bahwa yang tidak ideal itu salah ya… hanya saja memang sulit untuk ideal)

1. Ilmu di atas amal. Itu jelas. Tiada amal tanpa ilmu. Mengamalkan sebisa mungkin dari ilmu yang sudah diterima. Bukan sebaliknya. Ngarang-ngarang amalan tanpa tau itu boleh atau tidak. Kecuali, jika pengetahuan kita terhadap sesuatu ternyata “boleh” melakukan sesuatu tersebut, mangga diamalkan saja dahulu sambil terus belajar memahami. Jika ternyata tidak boleh, maka kita harus istighfar dan meninggalkan amalan tersebut. Yang penting, kita telah berusaha mencari ilmunya.

Jamaah yang ideal menurut saya adalah yang senantiasa mengkaji untuk diamalkan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Berarti, konsekuensi logisnya, jamaah tersebut harus terdapat banyak para ulama (ahli Quran, ahli Hadits, ahli Syariah, dll).

Kajiannya? Saya mendambakan kelompok yang di dalamnya terdapat kajian paket lengkap. ^^ mulai aqidah, fiqih, ushul fiqih, perang pemikiran (ghazwul fikri) dan perbandingan agama, tafsir Quran, tafsir Hadits, Bahasa Arab, dll. Pokoknya udah kayak pesantren deh. Cuma, pesantren plus plus yang membina anggotanya berwawasan luasย sehingga paham kondisi umat dan duniaย serta mencetak cendekiawan-cendekiawan muslim yang kokoh akidahnya serta berakhlak mulia.

Saya yakin iman itu meningkat karena ilmu. Seseorang yang sedang futur biasanya minta nasihat dari sahabat. Nasihat itu apa? Ilmu juga kan? ^^

Metodenya? Saya mendambakan kajian mendalam dalam bentuk halaqah atau mentoring. Kenapa mentoring? Karena dengan mentoring, ilmu lebih mudah diserap dan akan terjadi diskusi yang hidup (dua arah), berbeda dengan kajian terpusat. Namun, kajian terpusat tetap diperlukan untuk melengkapi yang kurang, bukan sebagai pembinaan utama. Tapi ini memang sulit. Karena si mentor harus berkompeten dalam menjelaskan materi. hehe Oleh karena itu, dibutuhkan kitab pembinaan halaqah standar yang dijadikan pegangan para mentor sehingga tiap kelompok dapat dipastikan akan menerima materi yang sama. Tidak akan lanjut ke materi selanjutnya jika bahasan sebelumnya belum beres. Jadi teringat masa Rasulullah… para sahabat mengamalkan langsung ayat per ayat yang turun sehingga materinya menghujam ke dalam dada.

Jadi, yang terbayang tuh seperti ini: ketika mau turun aksi, dikaji terlebih dahulu fiqihnya. Boleh atau tidak? Siapa saja ulama yang membolehkan jika memang dibolehkan? Bagaimana menurut sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin? Kalau tidak dibolehkan, lalu bagaimana? Begitu juga dalam berpakaian. Pakaian yang syar’i itu seperti apa detailnya. Jika ternyata para ulama terdapat perbedaan pendapat, ya berusaha men-tarjih dan membudayakan diskusi.

Hasil pen-tarjih-an dan diskusinya? Serahkan para anggota memilih pendapat ulama yang mana. Yang penting sudah dilakukan pentarjihan dan diskusi. Saya cenderung tidak setuju jika ada pemaksaan pendapat jika nyatanya memang para ulama terjadi perbedaan pendapat. Apalagi itu bukan masalah aqidah. Klo aqidah sih harusnya tidak ada perbedaan. Ikut para salafus shalih dong… ^^ kecuali jika memang para salafush shalih juga memang berbeda pendapat dalam masalah aqidah. Sebagai contoh: shalat id harus berpendapat “wajib” padahal ulama berbeda pendapat. Selain itu misalnya, qurban itu harus dianggap “wajib”. Padahal para ulama berbeda pendapat. Ya begitulah… Maksud saya, tidak perlu ada pemaksaan pendapat dalam hal yang sebenarnya tidak mendasar.

2. Bagi saya, jamaah yang ideal itu terdapat pembinaan dari berbagai aspek, di antaranya: akhlak, kepemimpinan, dll. Itu semua tidak bisa lepas dari ilmu. Contoh: untuk penyucian jiwa dibutuhkan ilmu tentang penyakit hati dan mengobatinya. Inilah pentingnya mentoring. Tidak akan berjalan pembinaan yang efektif tanpa pengecekan pemahaman dan pengamalan ilmu dan pengecekan tersebut akan sulit jika tidak dilakukan dalam kelompok kecil.

3. Pengamalan dakwah yang terorganisasi. Inilah dakwah yang berjamaah. Di saat seseorang telah mencapai tahap pembinaan yang matang, maka ia siap untuk digerakkan berjamaah. Bagi saya, parameter siapnya seseorang dapat dilihat dari pemahaman dan pengamalan ilmu yang ia telah lakukan. Metode dakwahnya? Bisa macam-macam ^^

Sebenarnya sih intinya “bergerak dengan pemahaman yang dalam dan akhlak yang mulia” ๐Ÿ™‚ Ini baru kader kuat.

Jujur saja, saya melihat fenomena saat ini, tidak ada tuh jamaah atau organisasi yang ideal selain al-Jamaah zaman khulafaur rasyidin dan zaman al-Fatih hehehe…

Mohon maaf yang ditag anggap saja suatu kehormatan sebagai tempat saya mengutarakan pendapat hehe…

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s