Jadi Muslim Harus Gaul…! ^^ (menghilangkan ashobiyyah)

ukhuwah2

 

Fenomena yang Ada

Kita sering kali melihat teman-teman kita di kelas bergeng-geng. Dulu ya waktu masih SD, SMP, atau SMA, rasanya itu sungguh menyebalkan bagi beberapa orang. Mungkin karena dengan bergeng-geng, jadi menyempitkan pergaulan. Ke mall barengnya sama orang-orang yang sama. Ke bioskop pun begitu. Belajar kelompok pun begitu. Terkadang mungkin ada yang kecewa jika ditakdirkan terpisah dari gengnya dalam membentuk tugas kelompok. Ah… Sempit sekali.

Beda dalam Islam. Islam mengajarkan justru untuk selalu mengajak orang lain ke dalam kebaikan, baik itu sahabat dekatnya, maupun bukan. Bahkan wajib jika kita mampu, menolong orang lain dalam kegelapan untuk keluar ke tempat yang terang. Kalau kisah yang di atas, udah ajakannya ke hal yang kurang bermanfaat, bahkan menjauhkan diri dari mengingat Allah, bergeng-geng pula. Seakan-akan yang dianggap saudara hanya orang-orang yang itu-itu lagi. Jadi ingat masa kaderisasi zaman SMP dan SMA. Katanya “bersatu”… Bertolak belakang malah jadinya… Alias bergeng-geng. Ah, sempit sekali pergaulan seperti itu…

Indahnya Islam. Hakikat “manfaat” itu sangat jelas. Apa yang disebut “bermanfaat”? Yang pasti yang akan menambah timabangan amal baik kita di akhirat. Sungguh sempit jika tujuan hidup hanya untuk dunia. Lah di dunia kan hanya sementara. Udah kitanya cuma mampir di dunia, dunianya sendiri itu pun akan binasa pada waktunya. Sungguh sempit jika tujuannya hanya untuk dunia. Sungguh sempit jika persahabatan atau pergaulan kita bangun hanya di dunia.

Sama halnya dengan geng yang disebut dengan “jamaah”. Ketika seseorang telah rutin membina diri atau mengaji dan tergabung ke dalam akivitas dakwah, maka akan mengerti apa yang saya maksud. Miris, melihat teman-teman kita kenalnya hanya sama orang-orang yang satu ‘geng” alias “kelompok pergerakan”. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai “jamaah”. Entahlah, menurut saya istilah jamaah itu menyempitkan makna atau hakikatnya. Saya lebih suka menyebutnya dengan “kelompok”. Jika disebut sebagai jamaah, khawatir dianggap berbeda dengan organisasi. Padahal mah sama saja. Bedanya, biasanya “jamaah” itu jumlah orangnya atau anggotanya jauh lebih besar. Pertanyaan pun muncul, lalu apakah jika sekelompok orang yang sevisi dalam dakwah Islam dengan jumlah anggota yang sedikit dan memisahkan diri dari jamaah atau kelompok lain, apakah itu “tidak” bisa disebut sebagai “jamaah”? hehe… maka definisi dari jamaah pun pada akhirnya tidak bisa dibedakan dengan “organisai” atau “kelompok pergerakan”. Saya lebih suka menyebutnya dengan “kelompok” untuk menegaskan bahwa umat Islam ini masih berkelompok-kelompok dan belum bersatu. ^^

Yang lebih seram itu ketika kelompok satu ‘mengafirkan’ kelompok yang lain. Maksudnya mencap kelompok lain itu bukan barisan umat Islam, melainkan barisan orang kafir. Yah jika MUI dan para ulama luar negeri sepakat bahwa kelompok tertentu memang menyimpang atau keluar dari Islam, maka menjadi wajar jika disebut sebagai “kafir”. masalahnya, apakah para ulama telah sepakat akan adanya penyimpangan yang tidak bisa lagi ditoleransi sehingga pantas disebut sebagai kafir?

Fenomena yang lain yang tidak kalah mengerikannya adalah “taqlid buta” kepada pemimpin kelompok dan para ulamanya yang satu ‘jamaah’. Ada suatu masalah yang ikhtilaf, tetapi semua anggota harus memegang pendapat yang sama sehingga jika memegang pendapat yang berbeda, maka bukan lagi termasuk ‘jamaah’nya. Ini sungguh miris. Atau misalnya, terjadi fenomena suatu kelompok tertentu menganggap pemikiran atau pendapat kelompok lain mutlak salah hanya pada masalah fiqh yang khilafiyah. Ya Rabb, apakah zaman dahulu para shahabat dan tabiin selalu bersepakat dalam fiqh??? kan tidak… Atau apa yang dikatakan ulama atau pemimpinnya, dianggap pasti benar. Ketika melihat ternyata ada perbedaan pendapat yang ada, merasa tidak perlu tahu pendapat yang lain. Cukuplah taqlid buta kepada pemimpinnya. Lah kan kalau ada nash Al Quran dan As Sunnah ada yang menentang pendapatnya, apakah bisa dikatakan benar begitu saja?

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. …” (terjemahan QS 9: 31)

Sungguh ‘ngeri’ melihat tingkat ashobiyah (berbangga akan kelompoknya) pada saat ini sudah tinggi. Mari renungkan, jika kita naik sebuah kendaraan, baik itu kereta, bis, atau apa pun, ternyata yang menyetir kendaraan tersebut idak sesuai dengan tujuan kita seharusnya, apakah kita akan diam saja di dalam dan tidak turun di tengah perjalanan? Kan tidak seperti itu. Mari direnungkan bersama.

Nah, ashobiyyah inilah yang menyebabkan pula wilayah pergaulan kita terbatas hanya di dalam kelompok kita. Padahal jika kita bisa melihat dunia lebih luas. Justru banyaknya kelompok yang ada seharusnya membuat kita mau berkenalan dengan mereka. Perluas ukhuwah Islamiyyah. Mereka muslim kan? Jika sama-sama muslim, kenapa tidak mau berusaha berkenalan dengan mereka dan memberi salam kepada mereka? Kenapa? Apakah karena hati kita telah sempit karena ashobiyyah? Ini nyata loh…

“Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (terjemahan QS 49: 13)

Pertanyaannya, siapa yang paling bertakwa? Apakah sudah pasti yang satu kelompok? Yakin? Apakah yang di luar kelompok sudah pasti tidak bertakwa? Mari renungkan ini. Saya pun sedih juga ketika suatu organisasi publik seperti di kampus atau di sekolah biasanya dikuasai oleh satu kelompok. Ini ngeri. Biasanya mereka yang telah berkuasa me-manage organisasi tersebut pasti menafikan kelompok lain. Ini ngeri, berebut kekuasaan atas nama dakwah. Masalahnya kalau bukan organisasi publik, tidak masalah. Misalnya, organisasi tersebut didirikan oleh kelompok tertentu dan tujuannya memang “hanya” untuk mendukung aktivitas kelompok tersebut. Sekarang, pertanyaannya, siapa yang mendirikan organisasi tersebut? hehe…

Indahnya Ukhuwah Tanpa Ashobiyyah

Dari kutipan terjemahan Al-hujurat: 13 di atas dapat kita tadabburi bahwa Allah mengajak kita untuk saling berkenalan walaupun kita berbeda wadah. Bahkan, kata Imam Shamsi Ali, itu tidak terbatas pada antarmuslim saja, tetapi juga dengan agama lain jika dilihat lagi bahasa Arab yang digunakan. Yang berbeda agama saja sebaiknya berkenalan, apalagi yang masih sama-sama muslim?

Kawan, banyak hal yang bisa kita peroleh di luar sana. Inspirasi, ilmu, dan pemikiran-pemikiran yang bagus dari mereka yang kelompoknya berbeda-beda. Tidak masalah kita mengetahui pemikiran mereka asalkan kita pegang aqidahnya untuk mengikat diri kita agar tidak menyimpang. bahkan, makin kita mengetahui pemikiran-pemikiran yang berbeda, kita akan semakin bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Cobalah…

Indahnya jika batasan itu (atas nama kelompok) bukanlah garis yang continue,  melainkan garis putus-putus. Ah apa sih Rin, bahasanya itu… ^^ Yakinlah banyak ilmu di luar sana. Jika kita tipe berpikirnya dapat mengolah data menjadi suatu kesimpulan, maka kita bisa menggabungkan atau menghubungkan semua pemikiran yang ada untuk membangun peradaban Islam dengan membuang yang tidak penting. Subhanallaah…

Ukhuwah Islam itu indah jika tidak dibatasi dengan nama kelompok. Apalagi Allah mengecam ashobiyyah atau bisa disebut juga ta’ashub kalau tidak salah. Mari renungkan terjemahan nash di bawah ini.

“Tidak termasuk golongan kami barang siapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barang siapa yang berperang atas dasar ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barang siapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan).” (terjemahan HR Abu Dawud 4456)

“Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai….” (terjemahan QS 3: 103)

Tidak ada hubungan atau persaudaraan yang abadi, kecuali persaudaraan atas nama Islam, tali agama Allah. Sia-sia orang yang membangun persatuan BUKAN atas nama Islam, baik itu atas nama suku, bangsa, atau (loyalitas) organisasi. Ini yang bilang bukan, saya loh, tapi Allah. Yakin kan bahwa Al-Quran itu firman Allah?

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (terjemahan Az-Zukhruf: 67)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s