Antara Ghibthah, Dengki, dan Gengsi

Pernahkah kamu seperti di bawah ini?

Merasa tidak nyaman jika ada yg bisa melakukan sesuatu yg tidak bisa kamu lakukan?

Lalu, kamu iri kepadanya ingin bisa juga melakukan yg sama?

Itu namanya ghibthah. Ini dibolehkan bahkan dianjurkan.

Tapi kamu justru lebih suka jika kebaikan itu tidak ada padanya.

Itu namanya dengki. Seboleh2nya manusia iri kpd manusia lain, tidak boleh lebih suka atau ingin kebaikan tsb hilang dr orang lain.

Maksudnya apa?

Dikatakan dengki jika kamu tidak suka melihat org lain dpt hidayah utk menghafal Al Quran lebih dulu dibanding dirimu krn org tsb telah menyaingimu.

Dikatakan dengki jika kamu tidak suka melihat org lain bertambah ilmunya dan berbagi ilmunya.

Dikatakan dengki jika kamu tidak suka org lain memperoleh kebahagiaan dunia.

Dikatakan dengki jika kamu tidak suka org lain mendapat pasangan hidup yg selama ini kamu harapkan.

Dikatakan dengki jika kamu tidak suka bertemu dg org yg selama ini kamu iri kepadanya.

Pernahkah kamu berbuat seperti ini?

Kamu pernah mengharapkan sesuatu yg bersifat duniawi, lalu terlihat ada org lain yg menginginkan hal yg sama, bisa jabatan, popularitas, pujian manusia, harta, sahabat, pendamping hidup, amanah organisasi, atau apa pun itu bentuknya, maka kamu pun berlomba utk mengejar dunia itu.

Lalu, perlombaan itu kian terasa sehingga kamu pun mulai jengkel jika kamu dikalahkan.

Itu dengki.

Lalu berlanjut, kamu mulai menjauhi org itu dan tidak ingin lagi menyapanya. Tidak pula ingin membalas sms nya.

Itu dengki.

Bahkan ketika kamu dlm keadaan tidak tahu akan sesuatu padahal org yg kamu iri kepadanya tahu sesuatu yg kamu tidak tahu, kamu berat meminta tolong kepadanya utk memberi ilmu.

Itu gengsi. Ternyata gengsi muncul salah satunya dr dengki.

Kamu gengsi krn bagimu bertanya kepadanya utk memperoleh ilmu akan menurunkan derajatmu di hadapannya. Tanda kamu tidak lebih berilmu drpdnya. Padahal emg tidak berilmu.

Atau kamu mungkin benci membaca postingannya di media sosial online seperti facebook krn kamu merasa tersaingi. Sampai2 terbentuk akhlak bahwa kamu tidak akan me-like postingan org tsb atau follow akun org tsb sebagus apa pun postingannya. Bahkan sebenarnya kamu telah terinspirasi oleh postingannya, tetapi kamu gak akan menunjukkan diri bhw kamu telah terinspirasi. Krn kalau kamu ketahuan terinspirasi maka kamu merasa kalah.

Ini gengsi. Ini jg dengki.

Kamu pun mulai benci jika harus berpapasan dengannya. Kamu mulai enggan menyapanya. Bahkan ketika kamu disapa olehnya, kamu pura2 tidak melihat dan pura2 tidak mendengar.

Itu dengki.

Kamu pun senang menunjukkan kelebihanmu di depannya. Krn dengan begitu, kamu merasa menang.

Itu tanda2 dengki.

Kamu pada akhirnya krn kedengkianmu, ga akan kamu membalas sms nya. Apalagi sms yg ketika kamu baca, hatimu panas. SMS seperti apa maksudnya? Misalnya sms utk mengajak dirimu ikut dlm program kebaikannya. Kamu tidak mungkin membalas sms tsb krn takut ketahuan siapa dirimu. Kamu pun gak akan ikut ajakan tsb krn kamu merasa telah kalah darinya.

Itu dengki yg mengakibatkan gengsi.

SMS yg seperti apa lagi? Bahkan isi sms yg menunjukkan kasih sayangnya kpdmu pun kamu tidak senang. Kamu merasa kalah baik krn pada hakikatnya kamu tidak suka jika kebaikan itu ada padanya.

Itu dengki.

Kamu pun akhirnya tidak suka melihatnya menghafal Al Quran, ikut majlis ilmu krn dr majlis ilmu tsb ia akan bertambah ilmunya, dan kamu juga tidak suka jika dia bisa menangisi dosanya. Kamu merasa kalah.

Itu dengki.

Kamu pun akhirnya tidak terpikir akan mengajaknya dlm kebaikan secara personal krn kamu benci ada kebaikan padanya.

Apalagi minta maaf, terbentuklah akhlak dlm dirimu tidak akan minta maaf kepadanya walaupun kamu sadar kamu punya salah kepadanya. Minta maaf hanya menurunkan derajatmu.

Apalagi memujinya, kamu tidak mungkin memujinya krn itu hanya membuatnya terlihat lebih baik drpd dirimu.

Kamu juga gak akan mau mendoakannya agar dia dlm kebaikan. Kamu ga akan mau mendoakannya agar dia mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat krn hatimu sudah dipenuhi kebencian kpdnya.

Ketika dia akhirnya suuzhan dan tabayyun kepadamu, kamu pun diam saja membiarkannya dlm suuzhan. Kamu tidak berubah sikap. Tetap gengsi minta maaf. Tetap tidak mau menyapanya. Apakah kamu pernah seperti itu?

Hati-hatilah dg hati… Hati bisa sebahaya itu. Kamu mungkin penasaran ini kisah fiktif atau nyata? Ini nyata adanya. Tetapi jgn salah paham, tulisan ini tidak hendak memojokkan 1 orang. Ini fakta yg dikutip dr pengalaman org banyak, salah satunya ceramah aa gym dan tabloid alhikmah. Di tabloid alhikmah ada yg bertanya bagaimana dia menerima kenyataan sahabatnya menikah dg org yg selama ini dikaguminya dan kisah2 yg lain. Ini fakta.

“Jauhkanlah diri kalian dari dengki. Karena dengki akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (terjemahan HR. Abu Dawud, no. 4905)

api

Advertisements

One thought on “Antara Ghibthah, Dengki, dan Gengsi

  1. Pingback: Orang yang Tidak Senang Ada Kebaikan pada Orang Lain | My Ideas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s