Maaf

maaf2

 

Banyak orang mungkin sulit mengatakan kata ini. Bagi saya, kata ini sungguh membuat hati tenang di kala merasa bersalah. Atau tidak harus ketika merasa bersalah. Terkadang kata “maaf” ini diperlukan juga ketika hubungan antarmanusia bermasalah, walaupun diri sendiri tidak merasa bersalah.

Ketika seorang manusia tidak merasa bersalah, itu bukan alasan ia tidak memperbaiki hubungan/komunikasi/interaksi dengan orang lain. Bisa saja ia tidak sadar akan kesalahannya itu. Bisa saja Allah benar-benar melihatnya sebagai suatu kesalahan, tetapi tidak disadari. Inilah yang menuntut seseorang untuk tidak gengsi mengucapkan kata “maaf”.

Namun, apa yang membuat seseorang enggan mengatakan “maaf”? Banyak hal yang memengaruhi itu. Bisa jadi, ia tidak dibiasakan oleh orang tuanya untuk “berani” mengucapkan “maaf” ketika merasa bersalah, baik kepada anggota keluarga maupun kepada orang di luar anggota keluarga.

Tidak hanya itu, terkadang, yang membuat seseorang enggan meminta maaf adalah rasa gengsi atau sombong. Namun, bisa juga adanya rasa tidak bersalah membuat seseorang enggan meminta maaf karena merasa dengan meminta maaf sama saja dengan menurunkan harga diri.

Ditemukan juga kasus yang unik. Ada seorang anak yang mudah meminta maaf kepada kakaknya, tetapi sangat sulit meminta maaf kepada teman mainnya. Saya bingung kenapa itu bisa terjadi ya? Masalahnya yang saya rasakan (dan beberapa teman saya rasakan juga) justru sebaliknya, mudah meminta maaf kepada orang di luar anggota keluarga inti, tetapi sangat sulit mengucapkan maaf kepada anggota keluarga inti sendiri. Ini kasus yang unik dan sepertinya menarik untuk dikaji dengan ilmu psikologi.

Hmm.. saya mencoba merenungkannya. Kenapa ya ada anak yang lebih mudah meminta maaf kepada kakaknya dibanding temannya. Saya ingin mencoba masuk ke relung hati anak tersebut. Firasat saya mengatakan sepertinya anak itu sudah ada rasa kasih sayang antaranggota keluarga yang kuat. Dia tidak ingin kakaknya marah karena dia tidak nyaman jika kakaknya marah. Dia sayang kepada kakaknya. Namun, ketika ‘berbenturan’ kepada teman mainnya, (namanya juga masih anak-anak ya ^^) dia belum ada rasa kasih sayang dengan teman mainnya. Pendapat saya seperti itu.

Ini saya simpulkan juga hasil dari analisis saya terhadap faktor yang memengaruhi seseorang yang lebih mudah meminta maaf kepada orang di luar anggota keluarga. Saya berani katakan, pasti suasana keluarganya sangat tidak baik, jika tidak ingin dikatakan buruk atau runyam. Bukannya tidak ada rasa sayang, hanya saja rasa sayang tersebut tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam sehingga sangat sulit pula untuk diungkapkan. Keluarga yang seperti itu pastinya lebih mudah mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan atau amarah. Keluarga yang seperti pasti sangat jujur dalam mengungkapkan hal yang buruk, tetapi sebaliknya, untuk mengungkapkan rasa sayang, sulitnya minta ampun.

Saya pun berkesimpulan bahwa pendidikan di keluarga untuk membiasakan mengucapkan maaf itu menjadi penting. Namun, itu harus dimulai dengan orang tua kepada anaknya. Misalnya, orang yang telah memarahi anaknya atau mendiamkan anaknya karena ingin mendidik anaknya, alangkah baiknya jika orang tua tersebut tetap mengucapkan maaf kepada anaknya tersebut, pun untuk memberi contoh meminta maaf itu baik dan dapat memperbaiki hubungan antarmanusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s