Aku Memilihnya, Keraguan Itu Hilang (2)

Pretty-Lights-I-Know-The-Truth

Hasil survei saya kepada teman-teman saya yang berbeda agama dg saya itu dilakukan untuk mengetahui ajaran agama mereka langsung dari mulut mereka. Saya kurang percaya jika saya hanya mendengarkan sesuatu tentang ajaran mereka justru dari yang bukan seagama dg mereka. Saya kurang percaya jika yang mengatakan hanya teman muslim saya, atau ayah saya, yah intinya bukan dari kalangan mereka, saya tidak percaya. Saya merasa harus dengar langsung dari mereka, bahkan sebenarnya saya inginnya langsung mendengar dari pendeta atau rahib mereka. Namun, itu belum bisa.

Butuh Perbandingan

Begini, sebelumnya saya jelaskan terlebih dahulu, untuk apa sih mengetahui tentang agama mereka? Tidak cukupkah kita berkutat pada agama sendiri? Tinggal dites aja, kalau ternyata aneh ya ditinggal, kalau ternyata pantas atau logis ya dipertahankan. Hmm… Begini, tidak semudah itu kita menilai sesuatu. Jika ada suatu objek kita teliti, bagaimana kita bisa mengetahui ada kerusakan? Pasti di sana main perbandingan. Apa yang dibandingkan? Sebelum dan sesudah digunakan. Biasanya kan benda ini digunakan dengan mudah tanpa hambatan, tapi kok tiba-tiba ada hambatan? Pasti ada yang salah. Ini perbandingan.

Contoh yang lain, misalnya, jika kita melihat suatu objek berwarna hitam. Tau dari mana objek itu berwarna hitam? Mengapa kita perlu menamainya “hitam”? Pasti karena kita pernah melihat yang “putih”, bahkan kita pernah melihat yang “merah”, “biru”, “kuning”, atau yang lainnya. Ini Perbandingan.

Begitu pula jika kita ingin menilai sesuatu benar atau salah, HARUS ada BANDINGANNYA. Janganlah pakai perasaan untuk menilai sesuatu. Karena apa yang diekspresikan dengan perasaan itu TIDAK PERNAH mutlak, PASTI RELATIF. Contoh, orang itu cukup tinggi. Kata siapa? Ini tidak jelas. Pernah belajar matematika kan? Matematika itu bagus untuk mengasah logika. Saya sangat suka matematika, maka saya suka dominan logikanya daripada perasaannya. Atau jika dikatakan orang itu sangat cantik. Lagi-lagi pertanyaan itu muncul, cantiknya itu standarnya siapa? Semua relatif jika menggunakan perasaan. Coba bandingkan dengan dikatakan, tingginya 175cm. Nah itu baru jelas. Wanita itu putih, tidak berjerawat, pipinya berwarna kemerahan. Ini juga baru jelas. Ini tentang perbandingan. Jadi, semoga setelah ini kita sepakat bahwa untuk menilai sesuatu itu benar atau salah adalah melalui perbandingan yang jelas tanpa menggunakan perasaan.

Kecuali…

 

Ada kalanya perbandingan itu tidak diperlukan. Kapan itu? Ketika tidak ada kondisi yang lain atau kita betul-betul melihat prosesnya dari awal. Itu tidak perlu perbandingan. Maksud saya begini, jika kita seorang bidan atau dokter yang melihat langsung kejadian seorang ibu yang melahirkan seorang anak, maka kita tidak perlu meneliti apakah anak tersebut benar lahir langsung dari rahim ibu tersebut karena kita melihat lansung kejadian tersebut. Contoh lain, misalnya, jika kita mendengarkan langsung dengan jelas seseorang mengatakan suatu kalimat, maka kita pun tidak perlu mencari tau kalimat tersebut diucapkan oleh siapa. Ya seperti itulah.

Begitu pula dengan agama, jika dikatakan Sidharta Gautama itu seorang Buddha atau suatu Dzat yang ditinggikan, maka yang meyakini hal tersebut harus bisa membuktikan atau melihatnya langsung bahwa pernyataan itu benar. Sekarang begini, jika ada beberapa hal saling bertentangan dan semua hal tersebut mengaku dirinya “benar”, maka apakah bisa kita katakan “semua benar”? Itu tidak masuk akal. Pilihannya adalah hanya satu yang benar atau semua salah. Jika didapatkan ada 2 yang benar, pasti yang 2 itu tidak mungkin bertentangan.

Begitu pula jika ada yang mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan. Apa buktinya? Apakah Yesus pernah mengatakan dirinya sebagai Tuhan? Mana bukti bahwa Yesus pernah mengatakan dirinya sebagai Tuhan? Apakah itu hanya sebuah kalimat orang-orang yang berlebihan (persepsi yang tidak ada buktinya)? Yang pertama, orang zaman sekarang tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa Yesus pernah mengatakan dirinya Tuhan karena kitab sucinya saja sudah diamandemen berkali-kali. Berarti itu bukan kitab “suci” lagi, tapi kitab buatan manusia. Yah, semua manusia (bukan Tuhan) kan bisa mengarang dan bisa menulis.

Balik lagi ke PENGECUALIAN. Semua harus ada bandingannya, kecuali kita mendengar, melihat, atau mengalaminya langsung suatu perkara. Kita juga dalam menulis karya ilmiah kan harus mengutamakan sumber-sumber primer?! Karena itu yang meyakinkan.

Nah, apakah kita bisa mengatakan agama kita benar dengan berkutat pada agama sendiri? Bisa iya, bisa tidak. Jika logika kita tajam dan kemampuan berpikir kita sudah bagus sehingga selama hidupnya tidak pernah ia menyalahi logikanya, maka bisa jadi cukup berkutat pada agama sendiri. Tinggal dicek salah atau benar. Tapi terkadang manusia harus mendengar pemikiran orang lain terhadap sesuatu untuk melengkapi proses berpikirnya agar tidak ada yang meleset. Kita harus mencoba mendengar orang Atheis bagaimana mereka berpikir agar kita bisa mencoba menerapkan proses berpikirnya untuk meneliti agama sendiri. Jadi, sebaiknya tetap dengarkan pemikiran orang lain.

Hasil Survei

 

Pertanyaan saya kepada mereka sama:

1. Kenapa kamu memilih agamamu?

2. Kenapa kamu yakin dengan agamamu?

3. Sejarah agamamu seperti apa?

Pertama, yang saya tanyakan adalah teman saya yang beragama Buddha. Dia menjawab pertanyaan saya dengan mengatakan bahwa Buddha agama yang intinya menentramkan jiwanya. Banyak hal dari ajaran Buddha yang terbukti benar. Salah satunya, dilarang makan daging. Dan sekarang terbukti vegetarian lebih aman dari segala penyakit.

Lalu, saya tanyakan kepadanya, “Buddha itu siapa sih? Tuhan atau utusan Tuhan? Bener gak sih itu Sidharta Gautama?” Katanya itu benar bahwa Buddha itu asalnya adalah Sidharta Gautama. Jadi ada seorang manusia bernama Sidharta Gautama yang reikarnasi berkali-kali akhirnya jadi seorang Buddha. Jadi intinya Buddha itu manusia yang derajatnya menjadi seperti dewa (Tuhan). Saya agak lupa cerita detailnya. Saya tidak peduli dengan doktri itu. Yang saya pedulikan dari mana informasi itu datang? Apakah kitab sucinya mengatakan bahwa Sidharta Gautama mengatakan dirinya sebagai Buddha? Karena yang saya dengar faktanya tidak seperti itu. Tidak pernah terjadi Sidharta Gautama mengatakan dirinya sebagai Buddha yang wajib disembah oleh manusia. Yang saya dengar, Sidharta Gautama hanya manusia biasa yang dianggap suci oleh orang-orang beragama Buddha sehingga mereka mengikuti ajaran agama Buddha. Lalu, teman saya mengatakan, iya benar. Lalu, saya minta diperlihatkan kitabb sucinya. Menariknya di sini, ternyata ia tidak pernah memegang kitab sucinya, Tripitaka. Lalu, saya tanya kepada teman saya itu, “Lalu, kamu tau dari mana bahwa pernyataan itu benar? Padahal kamu sendiri tidak pernah membaca pernyataan itu di kitab suci agamamu.” Ia menjawab, “Ya saya tau dari kuliah-kuliah agama. Yang memegang kitab itu hanya rahib-rahib mereka, kalangan Brahmana, seingat saya istilahnya “brahmana”. Saya kaget dan saya katakan padanya, “kok kamu percaya gitu aja sih padahal guru agamamu saja gak punya Tripitaka. Kalau kami, para muslim, pasti minimal punya satu Al-Quran,” kata saya sambil menunjukkan mushaf Al-Quran. Jadi, kami tinggal ngecek ke Al-Quran apakah perkataan seseorang itu sesuai atau tidak dengan Al-Quran. Lalu, dia mengatakan bahwa itu tidak penting. Dari sini saya terheran-heran karena alasan dia mengatakan itu tidak penting tidak sama sekali mendukung argumennya. Dia mengatakan semua agama baik, tidak perlu bukti-bukti itu. Ini diluar logika, saya pikir. Lalu, saya merenung, akal saya tidak bisa menerima sedikit pun agama Buddha.

Setelah teman saya yang beragama Buddha saya survei, lalu saya survei teman saya yang beragama Kristen 2 orang, seingat saya. Saya sengaja survei ke teman yang taat pada agamanya. Nah teman saya yang beragama Kristen ini saya ajak berdialog dan yang ini cukup lama. Maklum, beliau seorang yang taat pada agamanya. Hmm, sebenarnya tentang Kristen saya sudah banyak mencari tau sebelumnya. Saya baca buku-buku tulisan seorang muallaf, salah satunya Hj. Irena, mantan suster yang terkenal itu. Dua buku kecil itu cukup memberikan saya wawasan terkait agama Kristen. Keluarga besar saya pun banyak yang beragama Kristen. Dari kecil pun saya juga sudah sering tanya-tanya tentang agama pakde dan bude saya. Tapi kali ini, saya ingin sekali bertanya langsung kepada teman saya yang taat itu. Pertanyaan yang sama saya ajukan kepadanya.

Teman saya yang taat pada Kristen itu katanya senang ditanya tentang agamanya oleh orang yang beragama lain seperti saya ini. Dia menjelaskan tentang trinitas yang dia anut, lalu tentang keajaiban-keajaiban apa yang ada di kitab sucinya, Al-kitab. Dia fokus pada menjelaskan Trinitas. Pertanyaan saya kepadanya lebih banyak dari pada ke agama lain karena agama mereka itu dekat dengan agama saya. Katanya, Trinitas itu mungkin-mungkin saja kalau Tuhan itu berkehendak menjelma jadi manusia. Hmm… Hmm… Okelah penjelasannya dengan menggunakan frase “mungkin-mungkin saja jika Tuhan berkehendak” walaupun hati saya bergumam, “tapi mungkin juga tidak bisa. Itu tidak membuktikan trinitas.” Saya tidak fokus pada Trinitas. Saya lebih fokus pada tujuan manusia dicptakan menurut pemahaman mereka. Ternyata benar, mereka menganggap Adam itu mewariskan dosa sehingga manusia yang terlahir di dunia setelah Adam sudah punya dosa. Caranya manusia tersebut agar bersih dari dosa atau agar selamat di kehidupan setelah kematian adalah dengan meyakini bahwa Yesus adala Tuhan atau masuk Kristen. Dia setuju dengan semua agama itu baik, tapi yang selamat hanya Kristen. Hmm… Hmm… terlihat kan ketaatannya? ^_^ Dari awal sebenarnya saya sebenarnya sudah tau itu. Saya survei hanya untuk memastikan kebenaran info yang saya dapatkan. Lalu saya jelaskan kepadanya, bahwa dalam Islam itu bertentangan dangan ajarannya. Dalam Islam, manusia yang terlahir pasti suci tidak berdosa. Dan manusia diciptakan untuk dijadikan khalifah di bumi. Jadi Adam turun ke bumi bukan karena dosanya, tapi karena sudah menjadi skenario Allah untuk dijadikan khalifah di bumi. Banyak hikmah di balik kisah Nabi Adam. Yang pasti dalam Islam, dosa itu ditanggung masing-masing, tidak ada dosa yang diwariskan.

Sebenarnya saya ingin banyak bertanya, tapi khawatir waktunya terlalu lama karena kami berdialog saat mengerjakan tugas kelompok hihi ^^ Pertanyaan yang ingin saya ajukan di antaranya, kalau beragama Kristen itu untuk menghapuskan dosa, nanti bagaimana orang-orang yang terlahir sebelum Yesus terlahir? Apakah mereka tidak terhapus dosanya? Tapi ternyata pertanyaan saya itu terjawab beberapa hari setelah itu ketika saya menonton video dialog antara seorang Pastur yang fasih berbahasa Arab dengan Dr. Zakir Naik. Sejak saat itu saya ngefans dengan beliau, Dr. Zakir Naik. 🙂

Bagaimana dengan yg beragama Hindu? Sebenarnya saya sudah malas survei saat itu karena sebenarnya titik-titik cahaya kebenaran sudah terlihat dan sebenarnya saya saat itu sudah sedikit bisa membuktikan bahwa Al-Quran itu otentik dengan bimbingan beberapa orang. Tapi saya tidak mau berhenti melengkapi penelitian saya. Saya tanya kepada teman saya yang beragama Hindu, tapi teman saya menjawab dia sekadar merasa nyaman dengan agama Hindunya. Dia bilang agama bisa apa aja yang penting kita nyaman di sana. Hmm, saya tidak menginginkan jawaban itu. Sudah saya katakan bahwa perasaan itu bukan parameter kawanku, itu tidak membuktikan kebenaran agama Hindu. Hmm, ingin rasanya saat itu membaca Kitab Weda, tetapi ya sudahlah kapan-kapan saja kalau ada kesempatan. Tapi sebenarnya saya sudah tidak sepakat dengan adanya 3 Tuhan. Ini menyalahi logika. Tuhan itu seharusnya tak bisa diukur atau dalam matematika itu istilahnya tak hingga, tak tentu, atau tidak bisa didefinisikan (~). Tapi jika Tuhan itu ada 3, maka berarti 3x(~)=????? Balik lagi jawabnnya (~), bukan menjadi 3(~). Intinya tidak mungkin Tuhan itu tertentu, terukur, atau bisa dihitung jadi 3. Karena Tuhan itu tidak bisa dukur. Dan itu hanya ada pada Islam 🙂

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s