Aku Memilihnya, Keraguan Itu Hilang (1)

hidayah

Ini tentang perjalanan saya menemukan kebenaran Islam. Apa maksdunya? Ceritanya begini…

Berawal dari Sebuah Artikel

Suatu ketika, saya membaca artikel tentang seorang profesor bidang matematika di Amerika telah masuk Islam hingga ia menuliskan pengalamannya ke dalam bentuk buku. Siapakah dia? Profesor tersebut bernama Jeffrey Lang. Setelah saya selesai membaca artikel tersebut, saya pun tertegun membayangkan bagaimana seandainya saya berada pada posisi beliau. Tiba-tiba ada suatu was-was merasuki diri saya. Keraguan itu muncul. Sungguh aneh. Keraguan itu muncul ketika justru saya membaca artikel kisah seseorang masuk Islam. Saya sadari saat itu, keraguan tersebut muncul karena saya saat itu ingin merasakan betapa yakinnya seseorang yang masuk Islam karena sebelumnya telah meneliti apa itu Islam dan membandingkannya dengan yang lain.

Tidak berhenti sampai situ, keraguan pun makin kuat dan saya dilanda kegalauan, “galau ideologi”. Tidak. Bahkan lebih parah dari itu, “galau identitas diri”. Tiba-tiba saja pertanyaan-pertanyaan itu muncul kembali. Saya sebenarnya telah memendam banyak pertanyaan yang membuat saya ragu akan kebenaran Islam karena ingin melupakannya. Saya sering kali mengubur dalam-dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali muncul kembali dan saya tidak ingin mencari tahu jawabannya. Mungkin, saya takut tidak menemukan jawabannya dan saya takut apa yang saya pegang ternyata salah sehingga saya harus berpindah ke lain hati. Ketakutan-ketakutan tersebut saya kubur dalam-dalam, tetapi sering kali muncul begitu saja dan saya langsung lupakan. Namun, yang ini tidak seperti itu. Yang ini berbeda karena keraguan ternyata tidak bisa lagi dikubur, bahkan menjadi-jadi. Saya pun menangis. Saya ini lebih didominasi cara berpikir dengan otak kiri, yang berhubungan dengan logika dan sistematika. Pada saat itu sebenarnya hati saya merasa nyaman dengan saya sebagai seorang muslim. Namun, ternyata tidak pada logika saya (otak/akal).

Mulai saat itu, saya dalam kegalauan yang amat sangat. Saya pun menangis berkali-kali, tidak tahu harus bagaimana. Hati saya menolak untuk berpindah ke lain hati, bahkan hati saya pun menolak untuk agnostik. Akan tetapi, sayangnya apa kata hati saya tidak sejalan dengan logika saya. Saya menangis sejadi-jadinya tidak tahu harus meminta solusi kepada siapa. Saat itu sulit rasanya untuk meminta petunjuk kepada yang saat itu pula saya ragukan keberadaannya.

Tuhan, Adakah?

Tuhan? Benarkah ada? Bagaimana akalku bisa menerima keberadaan-Nya? Kenapa profesor tersebut begitu yakinnya masuk Islam? Padahal tadinya beliau atheis dan yang namanya profesor matematika, pasti logikanya sangat kuat. Aku galau sampai-sampai pikiranku tidak pernah lepas dari masalah tersebut hingga berhari-hari. Ketika malam datang, aku sendirian di kamar, sering kali aku menitikkan air mata saking bimbang dan gelisahnya diriku saat itu. Namun, aku berpikir sepertinya harus ada orang yang aku hubungi untuk dimintai tolong dan diceritakan terkait perasaan yang kualami saat itu. Setelah ada seseorang tepercaya yang mengetahui keadaanku saat itu, rasanya aku lebih tenang. (Ya, walaupun jujur saat itu saya meminta tolong kepadanya dengan memerangi rasa gengsi saya kepadanya. Saya sedang ada masalah dengannya.) Saat itu aku merasa seperti ada yang akan mencegahku dengan penuh upaya agar jangan sampai aku “pindah ke lain hati”, maksudnya jangan sampai aku murtad dan pindah ke agama lain. (Jujur saya agak seram menyebutnya hingga saya sampai membuat frase konotasinya.)

Apa saja pertanyaan yang muncul dalam benakku? Seperti ini…

Aku ini seorang muslim. Dari mana sebenarnya aku yakin bahwa Islam itu benar. Aku heran kenapa orang-orang yang tidak beragama Islam, termasuk beberapa temanku, mereka begitu keukeuh dalam agamanya? Apakah di mata mereka Islam itu jauh dari kebenaran hingga mereka cuek-cuek saja tidak ingin mencari tahu tentang Islam? Aku pun berpikir keras mencari-cari segala kemungkinan kenapa mereka teman-teman saya yang tidak beragama Islam tidak peduli untuk mencari tahu tentang Islam. Apakah karena ikut orang tuda mereka? Lalu, apa bedanya denganku? Aku mau mengaku memilih Islam tanpa ikut-ikutan orang tua? Sungguh ini pengakuan yang naif karena aku sendiri sebenarnya juga tidak bisa membuktikan bahwa agamaku ini benar. Lalu pikiranku melayang kepada orang-orang yang memilih dirinya sebagai Atheis atau Agnostik, seperti beberapa kenalanku. Aku pun bertanya dalam diri, “KENAPA?” Kenapa mereka tidak keukeuh dalam agama Islam? Kenapa mereka memilih keluar dari Islam? Apa yang salah dari Islam? Hmm… Aku berpikir keras. Mungkin sepertinya mereka yang atheis tidak yakin bahwa Tuhan itu ada karena memang mereka tidak menemukan wujud dan tempat Tuhan berada. Aku pun berusaha membantah pemikiran Atheis dengan mengatakan (dalam hati) Tuhan itu kan berbeda dengan makhluk ciptaannya. Masa’ terlihat seperti manusia ciptaannya? Atau setidaknya kita bisa melihat bumi ini dan segala isinya, pasti ada yang menciptakan.

Namun, tiba-tiba was-was muncul, aku berpikir ulang, “Tunggu, tunggu, tapi bagaimana jika ternyata Tuhan memang tidak ada? Maka ibadahku dan keyakinanku selama ini sia-sia. Pernyataan bahwa “Tuhan itu ada” kan bisa saja dibuat-buat, itu bisa saja persepsi yang dikarang-karang. Bisa jadi itu hanya doktrin. Semua pasti ada penciptanya? Dengan menggunakan analogi benda-benda di sekitar kita pasti diciptakan oleh seseorang (manusia)? Kok rasanya terlihat memaksa ya? Apakah dengan menggunakan analogi seperti itu, bisa membuktikan adanya Tuhan? Kalau ternyata bumi ini tidak ada yang menciptakan bagaimana? Tidak ada yang menjamin bahwa pernyataan yang mengatakan bumi terjadi dengan sedirinya itu salah kok… Toh Tuhan (jika memang ada) tidak berkomentar secara langsung bahwa diri-Nya ada. Kalau seandainya ternyata benar Tuhan itu tidak ada, sedangkan aku berlelah-lelah melakukan segala hal demi sesuatu yang tidak ada, aku seperti orang bodoh saja.” Kebingunganku saat itu mencuat begitu hebat. Galau. Lalu, aku menangis lagi… Tidak sanggup aku memikul beban ini… Di studio, aku terlihat seperti orang ling-lung, sering bengong karena pikiranku tidak bisa lepas dari segala pertanyaan yang tiba-tiba muncul dengan jelas. Sampai-sampai aku lalai mengerjakan tugas studio saat itu. Jadilah nilaiku jatuh. Kalimat pertanyaannya jelas dalam benakku, yang biasanya langsung aku berusaha melupakannya, tapi kali itu tidak bisa. Tidak bisa. Pertanyaan yang sudah muncul, mau tidak mau harus dicari jawabannya.

Apakah Al-Quran itu Benar Sebuah Kitab Suci? Atau Hanya Karangan Manusia?

Nabi Muhammad? Benarkah ia ada? Al-Quran itu datangnya dari mana? Dari mana kita mengetahui bahwa Al-Quran itu benar-benar kitab suci? Aku tidak pernah melihatnya langsung benar-benar terjaga isinya. Jangan-jangan sudah diubah… Tapi akunya tidak tahu saja proses perubahan itu dan kalimat bahwa Al-Quran itu otentik seperti doktrin saja. Apa bedanya dengan agama lain yang juga punya kitab suci? Kenapa mereka tidak peduli dengan Al-Quran? Apakah mereka merasa Nabi Muhammad tidak ada? Kenapa mereka begitu yakin dengan agama mereka? Bagaimana jika ternyata agama mereka yang benar? Aku pun tahu ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan semua agama itu sama. Semua agama menuju kepada satu Tuhan. Aku pun merenung, jangan-jangan hal tersebut benar. Jangan-jangan benar apa yang telah dikatakan oleh temanku bahwa Tuhan menurunkan agama tergantung pribadi manusianya. Tuhan pun memberi petunjuk kepada manusia kepada jalan-jalan yang berbeda. Toh Tuhan tidak bisa ditanya dan memberi jawabannya saat ini. Apa jangan-jangan Tuhan itu tidak ada? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja sebagai penegasan kegalauanku saat itu…

Semua Berawal dari Al-Quran

Aku beruntung punya seorang teman lain tepercaya yang cukup luas wawasan dan ilmu Islamnya untuk bisa dimintai tolong dan diminta berdiskusi. Kebetulan saya sudah tahu bahwa beliau sejak SMA sudah terbiasa berdialog dengan agama lain melalui komunitasnya “Moslem Recovery”. Kata beliau, “Kalau saya sih biasanya ngajak diskusi teman-teman himpunan diawali dengan bahwa Al-Quran itu original dan otentik. Dari situ, jadi gampang menjelaskan kelanjutannya.”

Aku pun merenungi kata-katanya tersebut. Hmm… Sepertinya apa yang dia katakan itu benar. Kalau aku bisa membuktikan bahwa Al-Quran itu original/orisinil dan otentik, karena isinya terjaga, maka Islam pasti benar. Tapi, itu belum mebuktikan bahwa agama lain salah. Bisa jadi semua agama itu benar. Lalu, bagaimana caranya aku membuktikan bahwa Al-Quran itu orisinil dan otentik? Mataku kan tidak pernah melihat langsung proses pembukuan Al-Quran dan tidak pernah juga melihat langsung proses otentisitasnya hingga Al-Quran sampai di tanganku.

Kenapa aku mengakui bahwa memang harus mulai dari otentisitas Al-Quran, karena pada dasarnya logika itu membutuhkan wujud nyata untuk dijadikan bukti, BUKAN dalam bentuk persepsi seperti “bukti Tuhan itu ada adalah karena semua pasti ada penciptanya” atau seperti kalimat “Tuhan itu ada tetapi tidak terlihat seperti halnya angin yang bergerak tapi tak terlihat”. Bagi saya itu hanya persepsi. Adanya angin yang bergerak tapi tidak terlihat, so what? Apakah itu membuktikan adanya Tuhan? Tidak. Itu hanya penganalogian yang dipakasakan saja JIKA disampaikan kepada orang yang ragu atau orang yang sedang membutuhkan bukti nyata. Nah, oleh karena itu, saya SEPAKAT dengan teman saya bahwa memulai riset ini dari “membuktikan otentisitas Al-Quran” karena wujud Al-Quran itu NYATA, bisa dipegang, sampai kepada kita sejak turunnya wahyu, dan tentu wahyu itu adalah FIRMAN TUHAN.

Lalu saya mulai lah penelitian dalam rangka mencari bukti-bukti bahwa Al-Quran itu otentik.

Jika Al-Quran terbukti otentik, itu masih belum membuktikan bahwa Al-Quran itu orisinil karena orisinalitas itu bicara tentang keaslian isinya apakah benar wahyu Tuhan. Wahyu itu adalah firman Tuhan yang diturunkan kepada ummat manusia melalui perantara seorang Nabi/Rasul. Nah, untuk menuju ke sana, sebuah kitab punya persyaratan awal, yaitu harus otentik. Kenapa? Karena kitab yang OTENTIK, maka isinya tidak berubah, yakni apa yang kita pegang sekarang TIDAK BERBEDA dengan apa yang dahulu pertama kali diturunkan, yakni apa yang disampaikan Rasul. Kuncinya TIDAK BERUBAH. Ini akan memudahkan penelitian dalam rangka membuktikan bahwa kitab tersebut memang benar wahyu Tuhan yang benar-benar disampaikan oleh seorang Rasul. Kalau sebuah kitab suci sudah diubah atau diamandemen, itu berarti BUKAN kitab suci lagi. Apa sih “kitab suci” itu? Kenapa dikatakan SUCI? Tentu karena SUCI dari CAMPUR TANGAN makhluk ciptaan-Nya, manusia.

Saya Pun Mulai Survei Kepada Mereka Untuk Memastikan

Yang menarik ketika saya survei kepada teman-teman saya yang beragama lain, mulai dari yang beragama Buddha, Hindu, Kristen Protestan, bahkan yang Agnostik. Walaupun pada awalnya saya bahkan inginnya langsung ketemu dengan para pendeta dan rahib-rahib mereka untuk berdiskusi. Diskusi yang saya maksud adalah bukan saya memberi tahukan konsep Islam lalu membantah konsep mereka. Diskusi yang saya lakukan adalah hanya dengan “mengajukan pertanyaan” kepada mereka dengan sedikit penjelasan konsep Islam “hanya untuk memperjelas pertanyaan”. Ketika saya menemukan kejanggalan, maka saya bertanya. Begitu saja… (bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s